Diikuti 11 Negara, SEAQIL Kembali Gelar Pelatihan Metodologi Pengajaran BIPA

0

JAKARTA (Suara Karya): Setelah berhasil melatih 272 calon pengajar dan pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) pada 2021, SEAQIL (Southeast Asia Ministers of Education Organization_Regional Center for Quality Improvement of Teachers and Education Personnel_ in Language (SEAQIL) kembali menggelar Pelatihan Metodologi Pengajaran BIPA.

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) Republik Indonesia untuk Myanmar, Iza Fadri menyambut positif kegiatan dilakukan SEAQIL tersebut. Karena pengajar BIPA yang menjadi kunci dalam pembelajaran BIPA harus terus dikembangkan.

“Selain mendalami Bahasa Indonesia, metodologi pembelajaran BIPA harus disesuaikan dengan zaman. Sekarang era digital, manfaatkan teknologi untuk itu,” ucap Iza saat membuka acara pelatihan secara daring, pada Senin (22/8/22).

Dubes Iza menyampaikan apresiasi kepada SEAQIL yang terus mempromosikan pelatihan peningkatan kualitas pengajaran bahasa-bahasa di Asia Tenggara. Sehingga terjadi peningkatan pemahaman antarbangsa dan budaya se-Asia Tenggara oleh kawasan lain di dunia.

Ditambahkan, para pengajar BIPA merupakan duta-duta diplomasi budaya Indonesia karena ikut memperkenalkan Indonesia kepada bangsa lain melalui bahasa dan budaya.

“Dengan wawasan yang lebih lengkap mengenai keindonesiaan dan pemahaman mengenai karakteristik penutur asing, maka hal itu dapat memperkaya pengajaran BIPA dalam tataran praktik di lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur SEAQIL, Luh Anik Mayani mengatakan pelatihan diberikan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pedagogisnya dalam pengajaran BIPA. Ada 236 pengajar BIPA dari berbagai negara ikut dalam pelatihan yang digelar dalam 2 gelombang.

Gelombang pertama pada 22-26 Agustus 2022 dan diikuti 110 orang dari 8 negara yaitu Myanmar, Filipina, Indonesia, Thailand, Timor Leste, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Bulgaria. Gelombang kedua pada 5-9 September 2022 dan diikuti 126 orang dari 11 negara, yaitu Filipina, Laos, Indonesia, Myanmar, Thailand, Vietnam, Timor Leste, Tiongkok, Amerika Serikat, Australia, dan Bulgaria.

“Para pengajar BIPA yang ikut pelatihan tak hanya berasal dari penyelenggara BIPA di bawah instansi pemerintah, tetapi juga dari lembaga kursus, perguruan tinggi, sekolah pendidikan kerja sama, Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), dan juga pengajar privat,” tutur Luh Anik.

Merujuk asa pengalaman mengajar, kapasitas peserta sangat beragam, mulai dari pengajar yang masih baru hingga pengajar dengan pengalaman mengajar lebih dari 15 tahun.

“Melalui forum berbagi praktik baik dalam pelatihan, peserta bisa saling berbagi pengalaman, berbagi inspirasi praktik pengajaran BIPA dan dapat mengadaptasinya dalam pengajaran di kelas untuk meningkatkan kualitas,” katanya.

Ditambahkan Luh Anik, para pengajar yang mendampingi para peserta berasal dari pengajar BIPA, seperti dari APBIPA Bali, Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA (APPBIPA), INCULS Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Keio Jepang, SILN, dan lembaga/sekolah penyelenggara BIPA lain baik dari Indonesia maupun luar negeri. (Tri Wahyuni)