Diingatkan, Osteoporosis Terjadi Bukan Karena Defisiensi Kalsium!

0
(Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Kekurangan (defisiensi) kalsium selama ini digadang-gadang sebagai faktor utama terjadinya pengeroposan tulang (osteoporosis). Sehingga banyak orang berlomba-lomba minum susu agar tulang menjadi kuat.

“Setiap berobat, pasien selalu tanya merek susu untuk osteoporosis. Padahal, susu bukan satu-satunya sumber kalsium. Dan osteoporosis terjadi bukan karena kekurangan kalsium semata,” kata dokter spesialis orthopedi dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Karina Besinga dalam diskusi media secara virtual, Sabtu (24/10/20).

Diskusi dibuka Ketua Hip, Knee, and Geriatric Trauma Orthopaedic Center, Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Franky Hartono. Hadir tim dokter lainnya yaitu Daniel Marpaung dan dokter spesialis rehabilitasi medis, Tetty MD Hutabarat.

Karina menjelaskan, osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan pengurangan kepadatan tulang sehingga tulang menjadi keropos. Osteoporosis disebut ‘silent disease’ karena menyerang secara diam-diam, tanpa ada tanda-tanda khusus.

“Gejala osteoporosis biasanya tidak dirasakan pasien hingga tiba-tiba terjadi cidera saat mengangkat barang atau melompat,” ujarnya.

Jika dibiarkan, lanjut Karina, osteoporosis dapat menimbulkan masalah pada fisik seperti rasa nyeri hingga patah tulang. Hal itu tentu saja, akan berdampak pada kualitas hidup seseorang yang menganggu sistem tubuh yang lain, termasuk jantung dan paru-paru.

Franky Hartono menyebutkan ada 2 jenis osteoporosis. Pertama, hal itu bagian dari proses penuaan yang disebabkan adanya ketidakseimbangan hormon. Hal itu terjadi pascamenopause (estrogen dalam tubuh) pada perempuan dan seniele (testosteron) pada pria.

Kedua, lanjut Franky, karena kondisi penyakit yang membuat tulang keropos. Misalkan penggunaan obat-obatan dengan steroid. Selain karena penyakit seperti rematik, asma dan gondok. Osteoporosis juga bisa terjadi pada orang yang kurang aktivitas, berbaring lama atau tidak banyak gerak akibat nyeri sendi dan tulang.

Osteoporosis hingga kini menjadi salah satu penyakit yang perlu perhatian serius. Diperkirakan 2 dari 5 penduduk Indonesia memiliki risiko terkena osteoporosis. Meski osteoporosis banyak terjadi pada orangtua, namun tak menutup kemungkinan menimpa anak muda yang gaya hidupnya tidak sehat.

Daniel Marpaung menyebutkan, diagnosa dini osteoporosis dapat dilakukan melalui BMD (bone mass density). Alat tersebut dapat menilai kepadatan tulang secara akurat. “Penting bagi mereka berusia diatas 40 tahun untuk rutin memeriksa kesehatan tulangnya,” ucapnya.

Ditambahkan, terapi osteoporosis dilakukan lewat perubahan gaya hidup, olahraga yang sesuai, pemberian obat-obat anti osteoporosis dan dilakukan tindakan invasif bila osteoporosis sudah menyebabkan patah tulang patah.

“Di masa pandemi ini, kita tetap bisa memeriksa tulang di rumah sakit. Karena Siloam Hospitals Kebon Jeruk menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pasien sebelum berobat diminta untuk rapid test, jika negatif baru boleh berobat,” tuturnya.

Jika kunjungan ke rumah sakit tak memungkin, lanjut Daniel, penderita osteoporosis bisa konsultasi secara virtual dengan dokter. Karena Siloam Hospitals Kebon Jeruk menyediakan fasilitas telekonsultasi dengan dokter melalui platform Aido Health.

“Jangan biarkan rasa nyeri dalam tulang mengurangi kenyamanan saat harus di rumah saja untuk mencegah penularan covid-19. Apalagi rasa nyeri itu sudah membuat penderita harus berbaring sepanjang hari. Periksakan diri agar bisa diobati secara benar,” kata Daniel menandaskan. (Tri Wahyuni)