Diluncurkan Buku Kontribusi Diaspora Membangun Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Sejumlah ilmuwan Indonesia yang sedang berkarir di luar negeri (diaspora) meluncurkan buku mengenai kontribusi ilmuwan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Tanah Air.

“Keberadaan diaspora sangat membantu, terutama bagi masyarakat Indonesia yang ingin menuntut ilmu di luar negeri,” kata Sekretaris Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), John Hendri saat peluncuran buku “Kontribusi Ilmuwan Diaspora dalam Pengembangan SDM”, di Jakarta, Selasa (26/3/2019).

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) yang juga guru besar dari Alabama A&M University, Amerika Serikat, Deden Rukmana, dosen Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Elisabeth AS Dewi dan dosen Institut Pertanian Bogor, Alan F Koropitan.

John menjelaskan, sejak 3 tahun terakhir, Kemristekdikti mengumpulkan sejumlah ilmuwan diaspora di dunia. Para ilmuwan itu dilibatkan dalam sejumlah kegiatan seperti profesor tamu maupun pelatihan.

Para ilmuwan yang berkarir di sejumlah universitas luar negeri itu diharapkan dapat membantu para dosen yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
“Kami punya Beasiswa Untuk Dosen Indonesia (BUDI) luar negeri. Masalahnya, para dosen kesulitan mendapatkan surat penerimaan,” katanya.

Kemristekdikti juga menjalin kerja sama dengan para diaspora, termasuk membantu dalam penulisan jurnal ilmiah internasional. Diharapkan, para diaspora itu terus membantu meningkatkan SDM yang ada.

Ketua Umum I4, Deden Rukmana mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir negara hadir memberikan akses kepada para ilmuwan untuk berbuat sesuatu. “Jaringan internasional sangat diperlukan, karena dapat membantu meningkatkan kapasitas para dosen,” ujarnya.

Menurut Deden, Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang. Potensi itu semakin besar lewat kolaborasi dengan para diaspora. “Dukungan pemerintah memacu kami untuk terus bergerak memberi yang terbaik untuk bangsa,” ucapnya.

Deden mengakui, dari segi kuantitas dan kualitas, diaspora Indonesia masih di bawah China, India, dan Korea. Namun, hal itu tidak menyurutkan mereka untuk mengupayakan yang terbaik untuk bangsa. “Salah satunya lewat penulisan buku ini,” ujarnya.

Co-editor buku, Alan F Koropitan mengatakan, apa yang ditulis diaspora telah membuatnya tertegun. Terutama soal potensi sumber daya manusia Indonesia. “Saya jadi optimis akan masa depan Indonesia,” katanya.

Buku itu sendiri, menurut Alan, telah mematahkan ungkapan “brain drain” yang selama ini sering disematkan kepada diaspora. Para diaspora Indonesia, telah menjadi “brain gain” yaitu fisik di luar, tetapi pikiran dan hati ada di dalam.

Elisabeth, mantan diaspora Amerika dan Australia yang kini jadi dosen di Bandung mengatakan, sehebat apa pun karier diaspora di luar negeri, kerinduan akan kampung halaman selalu tumbuh. Bahkan kemajuan teknologi yang memudahkan mereka berkomunikasi pun tidak cukup membantu.

Apresiasi juga diberikan Elisabeth kepada diaspora yang di tengah kompleksitasnya menjalani kehidupan di luar negeri, tetapi masih menyediakan diri berkontribusi bagi bangsa.

“Ke depannya, hubungan antara ilmuwan diaspora dengan industri dalam negeri harus segera dibangun. Agar konsep dan ide pembangunan yang tertuang dalam buku bisa direalisasikan dengan segera,” kata Elisabeth. (Tri Wahyuni)