Diluncurkan, Penelitian Bersama Indonesia-Inggris Atasi Penyakit Menular

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) bersama Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri Inggris kembangkan penelitian guna atasi penyakit menular di Indonesia. Dana penelitiannya mencapai Rp37 miliar.

“Kerja sama penelitian ini dibiayai melalui Newton Fund Inggris, dengan rincian Inggris sebesar Rp32 miliar dan Indonesia Rp5 miliar,” kata Menristekdikti Mohamad Nasir dalam peluncuran program riset tersebut, di Jakarta, Senin (13/5/2019).

Turut hadir dalam acara itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Asean dan Timor Leste, Moazzam Malik.

Nasir menjelaskan, proses pemilihan 6 penelitian yang akan dilakukan bersama Medical Research Council, Inggris dengan Kemristekdikti telah dilakukan secara terbuka, transparan dan kompetitif. Dari 22 proposal yang sama, terpilih 18 proposal untuk didiskusikan lebih lanjut.

“Dari 18 proposal yang ada, panitia memilih 6 proposal terbaik dengan alokasi dana hingga Rp37 miliar selama 3 tahun. Diharapkan ada terobosan baru dalam teknologi farmasi dan inovasi alat medis guna atasi penyakit menular,” ujarnya.

Ditambahkan, Indonesia memiliki kerawanan tinggi terhadap potensi penyakit menular seperti tuberkulosis (TB), HIV, malaria dan demam berdarah (DBD). Data Kementerian Kesehatan hingga 3 Februari 2019 menunjukkan ada 16.692 kasus DBD di Indonesia.

“Penyakit menular berdampak besar pada kehidupan masyarakat. Apalagi jika mereka yang terkena penyakit adalah kepala keluarga,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Moazzam Malik. Ia berharap kerja sama ilmuwan Indonesia dan Inggris dapat mengurangi kerawanan penyakit menular di Indonesia.

“Bidang sains dan riset Inggris saat ini menempati posisi kedua di dunia. Bahkan 59 persen hasil penelitiannya masuk kategori terbaik dunia. Hasil riset Inggris dikutip lebih banyak dibandingkan negara lain. Dan 38 persen peraih Nobel memilih kuliah di Inggris,” ucap pria yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Enam riset yang terpilih, antara lain, hasil penelitian Anom Bowolaksono dari Universitas Indonesia dengan Peter Barlow dari Edinburgh Napier University yang menguji molekul cathelicidins untuk demam berdarah.

Penelitian kedua oleh Isra Wahid dari Universitas Hasanuddin dan Janet Cox-Singh dari University of St Andrews. Risetnya tentang malaria. Penelitian ketiga oleh Prof Irwanto dari Unika Atma Jaya dan Keerti Gedela dari University of Chelsea & Westminster Hospital NHS Foundation Trust tentang penangangan pasien HIV/AIDS.

Selain itu masih ada penelitian Prof Ida Parwati dari Universitas Padjajaran dan Prof Taane Clark dari The London School of Hygiene&Tropical Medicine tentang tuberkulosis. Penelitian kelima oleh Tri Wibawa dari Universitas Gadjah Mada dan Michael Griffiths dari Universitas Liverpool tentang infeksi otak.

Penelitian terakhir tentang aspergillois yang terbilang masih mahal. Risetnya berupa pengembangan alat uji diagnosa yang lebih mudah dan terjangkau. Diharapkan aspergillois ditemukan lebih dini, sehingga biaya pengobatan lebih murah. Penelitinya adalah Anna Rozaliyani dari Universitas Indonesia dan Chris Kosmisdis dari University of Manchester. (Tri Wahyuni)