Dirjen Dikti: Kedaireka Terbuka bagi DUDI skala Kecil

0

JAKARTA (Suara Karya): Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam menegaskan, Kedaireka terbuka bagi perusahaan skala kecil untuk bergabung. Karena flatform digital itu punya ruang untuk konsultasi bisnis, selain kerja sama.

“Dunia usaha bisa konsultasi dengan banyak narasumber kompeten di Kedaireka terkait masalah yang terjadi dalam bisnis dan solusinya. Jadi, tak harus soal kerja sama,” kata Nizam dalam dalam webinar bertajuk ‘Kedaireka Outlook 2021’, Kamis (4/2/21).

Nizam berharap, Kedaireka menjadi terobosan dalam pengembangan bisnis berbasis digital di Tanah Air. Karena Kedaireka mempertemukan dunia usaha dan dunia industri dengan perguruan tinggi yang memiliki ragam inovasi secara mudah, cepat dan terpercaya.

“Industri cukup kontak digital dengan perguruan tinggi pemilik inovasi yang akan diajak kerja sama. Prosesnya akan dibimbing, agar kolaborasi dapat memberi keuntungan bagi kedua belah pihak,” ujarnya.

Nizam menilai, kolaborasi antara dunia usaha dan dunia industri (DUDI) dengan perguruan tinggi menjadi penting, karena ekonomi yang terus berinovasi. “Kita tidak bisa terus mengandalkan impor, baik itu kebutuhan pangan, kesehatan, manufaktur dan beragam kebutuhan lainnya,” ucap Nizam menegaskan.

Apalagi, lanjut Nizam, jumlah perguruan tinggi di Indonesia lebih banyak dibanding lembaga riset. Hasil riset dari perguruan tinggi diharapkan dapat sesuai dengan kebutuhan segala sektor. Dengan demikian, hasil riset perguruan tinggi akan beramplifikasi dampaknya.

“Saat ini 5 dari 10 Unicorn di Asia Tenggara lahir dari Indonesia. Dari tangan para milenial yang masih berusia muda. Ini membuktikan bahwa anak muda Indonesia sangat kreatif,” tuturnya.

Sementara itu Sekretaris Ditjen Dikti, Paristiyanti Nurwardani menambahkan, pemerintah saat ini menyiapkan dana hibah untuk memfasilitasi program kerja sama antara perguruan tinggi dengan industri untuk menciptakan akselerasi ekosistem reka cipta dalam Kedaireka.

“Kami harap Kedaireka dapat menjadi rumah bersama antara inventor atau penemu dengan investor (pemilik modal). Bahkan platform digital itu terbuka selama 24 jam bagi inventor dan investor untuk berdialog dan menghasilkan karya untuk kemajuan negara,” ujarnya.

Paris juga mengajak praktisi industri untuk bergabung sebagai dosen praktisi dan dosen luar biasa di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Dosen praktisi dan dosen di kampus dapat melakukan diseminasi hasil kerja lewat Kedaireka.

“Dosen praktisi diharapkan bisa ikut transformasi proses pembelajaran, mulai dari persiapan kurikulum, penempatan mahasiswa magang hingga kredit transfer ke perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya.

Ditambahkan, perguruan tinggi dapat menjadi ‘think tank’ agar terjadi relevansi antara perguruan tinggi dan industri untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di industri, dunia usaha dan dunia kerja.

Sementara itu, Direktur Kelembagaan, Ditjen Dikti, Kemdikbud, Ridwan menyatakan, pemerintah menyiapkan insentif berupa pendanaan dalam bentuk ‘matching fund’ hingga Rp250 miliar untuk perguruan tinggi dan DUDI yang berhasil menjalin kerja sama melalui platform Kedaireka.

Kerja sama itu akan menjembatani reka cipta yang dihasilkan perguruan tinggi dengan kebutuhan teknologi yang diperlukan industri, dunia usaha dan dunia kerja (IDUKA).

“Dana ‘matching fund” akan mengurangi risiko kerugian di tahap “research and development’ serta mendukung keberhasilan produk dengan kesiapan teknologi yang lebih baik,” tuturnya.

Ditambahkan, selain juga melibatkan banyak insan dikti dalam kolaborasi, sehingga terjadi serta dialog dan penyusunan proposal bersama. Proposal tersebut kemudian didaftarkan ke Kemdikbud untuk mendapat pendanaan.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Ditjen Dikti, Achmad Adhitya mengatakan selama ini Tim Akselerasi telah berdialog dengan 300 industri. Hasilnya, beberapa industri memiliki tantangan dalam menjalin kolaborasi dengan perguruan tinggi.

“Tantangan kolaborasi itu, antara lain, belum ada ruang kolaborasi untuk berdialog antara perguruan tinggi dan IDUKA, belum adanya pemerataan kerja sama antara perguruan tinggi dan IDUKA, serta masih minimnya informasi mengenai produk atau.jasa yang ditawarkan oleh perguruan tinggi,” tuturya.

Menurut Adhitya, dalam beberapa kasus, ada kampus yang memiliki banyak mitra, sedangkan di sisi lain tak sedikit kampus yang kesulitan dalam mencari mitra. Hal itu bisa terjadi lantaran akses di kampus yang belum mendukung.

“Karena itu, Kedaireka hadir guna mengatasi tantangan dan kendala yang dihadapi IDUKA maupun kendalam kampus dalam akses,” kata Adhitya seraya menambahkan saat ini telah terdaftar lebih dari 7500 inventor dan 569 Industri di Kedaireka.

“Kedaireka membuka kesempatan kepada seluruh perguruan tinggi untuk bekerja sama dengan berbagai industri, serta memangkas rantai birokrasi. Lewat Kedaireka, insan dikti hanya perlu mengunggah proposal inovasi dan nanti industri akan melihat inovasi yang cocok untuk berkolaborasi,” ucapnya.

Adhitya menjelaskan perbedaan antara platform Kedaireka dengan platform lainnya, yaitu ada dana pendamping sebanyak Rp250 miliar, serta keterlibatan mahasiswa dalam program kolaborasi. Hal itu merupakan akselerasi kemampuan mahasiswa untuk berkembang secara optimal. (Tri Wahyuni)