Dirjen Kebudayaan: Kenaikan Harga Tiket Demi Keselamatan Borobudur!

0

JAKARTA (Suara Karya): Kenaikan harga tiket masuk Candi Borobudur menjadi Rp750 ribu per orang menimbulkan kontra di masyarakat. Padahal, kenaikan harga tiket itu tak terelakkan, sebagai salah satu cara menyelamatkan Borobudur dari kerusakan.

“Agar Borobudur tak semakin rusak, kita perlu membatasi jumlah pengunjung yang naik ke atas bangunan candi. Karena itu harga tiket dinaikkan,” kata Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek, Hilmar Farid di Jakarta, Senin (6/6/22).

Pembatasan jumlah pengunjung itu, lanjut Hilmar, sudah disepakati oleh para pihak yang bertanggungjawab atas pengelolaan Candi Borobudur.

Soal harga tiket masuk ke Borobudur yang dinilai kemahalan, Hilmar Farid menyampaikann pihaknya tidak pernah memberi usulan terkait nominal harga tiket, karena hal itu bukan menjadi tugas atau kewenangan Kemdikbudristek.

“Penetapan harga tiket itu adalah kewenangan dari BUMN pengelola Candi Borobudur, yaitu PT Taman Wisata Candi Borobudur,” katanya.

Pengumuman kenaikan harga tiket Candi Borobudur disampaikan oleh Menko Kemaritiman dan Investasi usai rapat pada 4 Juni 2022 di Borobudur.

“Kemdikbudristek diwakili oleh Direktur Pelindungan Kebudayaan dan
Kepala Balai Konservasi Borobudur. Tapi kami tidak pernah memberi usulan harga tiket dalam kesempatan itu,” ucap Hilmar menegaskan.

Sebagai informasi, Candi Borobudur dibangun pada abad 8. Restorasi secara menyeluruh dilakukan pemerintah Indonesia pada 1973-1983. Sehingga bangunan candi bisa dikunjungi oleh masyarakat luas.

Jumlah pengunjung meningkat terus dari tahun ke tahun. Hal itu pada akhirnya berdampak pada keutuhan bangunan candi. Kerusakan berupa penurunan bangunan, keausan batu, pengelupasan relief, dan lainnya.

Langkah penting untuk menghindari kerusakan semakin parah, dengan membatasi jumlah pengunjung yang naik ke atas bangunan candi. Hasil kajian memperlihatkan daya tampung (carrying capacity) dari bangunan candi itu adalah 1.200 orang per hari. (Tri Wahyuni)