Dirjen SDID Ali Ghufron Mukti Raih Penghargaan “Health Warrior Awards” 2019

0
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID), Ali Ghufron Mukti. (suarakarya.co.id/istimewa)

JAKARTA (Suara Karya): Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Ali Ghufron Mukti raih penghargaan pejuang kesehatan (Health Warrior Awards) 2019. Penghargaan itu diberikan atas kiprah dan komitmennya terhadap dunia kesehatan di Tanah Air.

Perhelatan Health Warrior Award 2019 diselenggarakan Fakultas Kedokteran Trisakti bekerja sama Forum Ikatan Alumni Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI), perusahaan minyak asal Thailand PTTEP dan Dompet Dhuafa.

Tokoh lain yang juga dapat penghargaan serupa, antara lain, artis senior Titiek Puspa, artis yang juga dokter spesialis jiwa Lula Kamal, Prof Yati Sunarto dan Bupati Jember dr Hj Faida dan sejumlah tokoh dari generasi muda.

Dirjen SDID Ali Ghufron Mukti usai menerima penghargaan di Jakarta, akhir pekan lalu mengaku senang mendapat penghargaan karena kiprahnya di dunia kesehatan mendapat apresiasi dari sejumlah pihak. Mantan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) itu kini menjabat sebagai Dirjen SDID yang juga fokus memberi pada sumber daya manusia (SDM).

“Kemristekdikti bersama Kementerian Kesehatan belum lama ini membentuk komite yang bertujuan mengembangkan Academic Health System (AHS) guna menyinergikan antara pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat,” ujarnya.

Disebutkan ruang lingkup AHS, yaitu mengembangkan kurikulum kesehatan di perguruan tinggi, rumah sakit pendidikan sebagai lokasi pendidikan profesi. Hal itu sekaligus memastikan kesiapan tenaga kesehatan, serta sistem yang secara kontinyu dan berkelanjutan menghasilkan pelayanan kesehatan yang optimal.

Dirjen Ali Ghufron Mukti juga memiliki andil besar dalam pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) itu pernah menjabat sebagai Ketua Pokja Persiapan BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan kini menjadi andalan masyarakat untuk memperoleh layanan dan fasilitas kesehatan yang terjangkau. Hal itu tak terlepas dari keahliannya dalam mengembangkan sistem jaminan kesehatan bagi penduduk Indonesia.

“Kebijakan tentang jaminan kesehatan ini juga saya paparkan ke sejumlah kampus di luar negeri, seperti Harvard Medical School, University of Nottingham, Coventry University saat saya diundang untuk memberi kuliah umum,” katanya.

Berkat dedikasi itu pula, Ali Ghufron Mukti mendapat gelar kehormatan Honoris Causa (HC) bidang kesehatan dari Coventry University, Inggris pada 2017. Ia menuturkan, hal yang dilakukan selama ini tak semata mengejar prestasi dan pengakuan internasional. Tetapi bagaimana sebuah sistem kesehatan memberi jaminan bagi seluruh rakyat di Indonesia.

Ia menilai, kesehatan, pendidikan dan ekonomi merupakan kunci mewujudkan kesejahteraan. “Dulu saya bercita-cita jadi dokter agar bisa menolong orang lain, karena saat itu biaya pengobatan mahal. Setelah berhasil menjadi dokter, lalu lanjut jadi doktor, saya mengembangkan satu sistem yang menjamin kesehatan seluruh masyarakat dengan biaya murah,” ucapnya.

Pria kelahiran Blitar, 17 Mei 1962 itu mengakui, masih banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mewujudkan sistem jaminan kesehatan yang ideal di negara berkembang. Sementara di sisi lain, jumlah penderita jantung, diabetes, kanker, obesitas kian meningkat.

Menurut Ali Ghufron, penyelesaian atas masalah itu tak cukup mengandalkan SDM yang mumpuni. Perlu ketajaman visi dan panggilan hati, terutama bagi mereka yang berperan sebagai leader atau penentu kebijakan.

“Saya juga berharap apa yang telah saya lakukan selama ini bisa menjadi teladan bagi generasi muda dalam mengisi pembangunan di masa mendatang,” katanya menandaskan. (Tri Wahyuni)