Dirjen Vokasi Terkejut Ada ‘Silicon Valley’ di Salatiga!

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) mendorong satuan pendidikan vokasi untuk selalu berinovasi. Caranya, menjalin kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang menjadi kunci di industri global.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Wikan Sakarinto mencontohkan inovasi yang dilakukan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nusa Persada, Salatiga. Berkolaborasi dengan DTech Engineering, sekolah tersebut membuat proyek edukasi berkelanjutan.

Lewat program tersebut, lanjut Wikan, lulusan SMK dapat melanjutkan studi Diploma 3 (D-3) sambil menjalankan usaha produksi mesin CNC dan suku cadang (spareparts) sepeda motor.

“Seperti inilah yang saya inginkan, dimana kampus vokasi memiliki workshop agar mahasiswanya bisa ikut menjalankan bisnis,” kata Wikan saat berkunjung ke DTech Engineering di kampus Akademi Teknik Wacana Manunggal yang satu kompleks dengan SMK Nusa Persada, Salatiga, Jumat (17/12/21).

Yayasan Nusa Persada bersama DTech Engineering telah membina beberapa lulusan pendidikan vokasi untuk belajar sekaligus berkarya melalui program Sustainable Education Project. “Ini adalah program yang ‘win-win solution’ atau sama-sama menguntungkan,” ujarnya.

Wikan mengaku bangga dan terkejut dengan adanya ‘silicon valley’ di wilayah Salatiga. Silicon valley adalah sebutan tempat di luar negeri dengan laju perkembangan teknologi yang pesat. ”Saya sudah hampir 2 tahun menjabat sebagai Dirjen Diksi, tapi baru tahu ada semacam ‘silicon valley’ di Salatiga,” katanya.

Wikan menambahkan, seharusnya politeknik negeri di Indonesia juga bisa melakukan hal semacam ini. Yakni membangun kemitraan yang positif.

“Saya coba sesuaikan lagi program dana padanan (matching fund) agar bisa digunakan untuk program seperti ini,” ujarnya.

Pendiri perusahaan DTech Engineering, Arfian Fuadi menuturkan, program kemitraan ini merupakan salah satu cita-cita yang ingin dibangun perusahaannya, guna mengangkat semangat anak bangsa dalam menciptakan inovasi-inovasi terbaru.

Ia mengisahkan, pada awal perusahaan didirikan hanya melayani pesanan dari luar negeri. Namun mulai 2018, Arfian menyatakan, pihaknya mulai memberi perhatian kepada generasi muda Indonesia.

“Kami prihatin, ketika baca bahwa Indeks Paten Indonesia hanya berjumlah 21, sedangkan paten yang kami setor untuk US PTO (United States Patent and Trademark Office’s) berjumlah 25. Karena itu, kami ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia,” katanya.

Ditambahkan, DTech Engineering setiap tahun melatih kurang lebih 500 orang yang terdiri dari guru serta peserta didik. “Saat ini ada 15 SMK yang kami latih dan masih ada lagi di luar ini,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Operasional Yayasan Nusa Persada, Sumiyanto menuturkan para mahasiswa lulusan SMK Nusa Persada dapat membiayai kuliahnya melalui bisnis yang sedang dijalankan.

“Di Akademi Teknik Wacana Manunggal ini, kami sediakan mesin CNC, kami desain produknya sendiri untuk kemudian dijual,” katanya.

Sumiyanto menambahkan, perusahaan punya analis bidang market, designer, operator dan pemasaran yang menaruh produk di pasar daring (marketplace) untuk dijual. “Jadi mereka membiayai kuliahnya sendiri, melalui bisnis yang dijalankan,” ucap Sumiyanto.

Wikan memberi apresiasi atas komitmen dan dukungan DTech Engineering dalam membina 15 SMK. Untuk itu, pihaknya akan mengajak seluruh direktur politeknik untuk studi banding di Akademi Teknik Wacana Manunggal.

“Agar bisa melihat sendiri program kemitraan yang dijalankan DTech Engineering dan Akademi Teknik Wacana Manunggal,” kaya Wikan.

Dalam kunjungan itu, Wikan didampingi Pelaksana tugas Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Plt Direktur Mitras DUDI), Saryadi. Kegiatan diakhiri dengan kunjungan ke lokakarya pembuatan CNC di wilayah Noborejo, Salatiga. (Tri Wahyuni)