Disayangkan, Dokter Kesehatan Jiwa di Indonesia Masih Minim

0

JAKARTA (Suara Karya): Disayangkan, jumlah dokter spesialis kesehatan jiwa di Indonesia hingga kini masih terbilang minim, yakni sebanyak 987 orang. Padahal, jumlah penduduk Indonesia yang harus dilayani mencapai lebih dari 250 juta orang.

“Kami harap pemerintah menggelar lebih banyak pelatihan kesehatan jiwa untuk dokter umum di Puskesmas. Sehingga masalah kesehatan jiwa di masyarakat bisa ditangani lebih dini,” kata Sekretaris Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Agung Frijanto dalam temu media, di Jakarta, Senin (7/10/2019).

Temu media dilakukan terkait tiga peringatan yaitu Hari Penglihatan Sedunia, Hari Obesitas Sedunia dan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Hadir dalam kesempatan itu, Dirjen Kesehatan Masyarakat Anung Sugihantono dan Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Muhammad Sidik.

Menurut Agung, masalah kesehatan jiwa patut mendapat perhatian karena data dunia menunjukkan 1 dari 6 orang menderita masalah kesehatan jiwa. Jumlah terbesar yaitu gangguan kecemasan, sekitar 4 persen dari populasi.

“Badan kesehatan dunia WHO juga menyebut masalah kesehatan jiwa perlu menjadi prioritas kesehatan karena tingginya kasus bunuh diri. Ada lebih 800 ribu orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Atau 1 kematian per 40 detik,” ujarnya.

Sementara di Indonesia, lanjut Agung, merujuk pada data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) disebutkan terjadi peningkatan masalah kesehatan jiwa pada 2018 dibanding 2013.

“Hasil survei dari Sistem Registrasi Sampel (SRS) 2016 menunjukkan angka 1.800 kematian karena bunuh diri atau terjadi 5 kematian setiap harinya,” ucapnya.

Ditambahkan, data WHO 2018 menunjukkan masalah bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor 2 terbanyak pada kelompok 15-29 tahun. Karena itu, penting untuk mempersiapkan remaja yang sehat fisik dan jiwa sejak dini, agar tercipta sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkualitas.

Agung meminta pada media massa untuk hati-hati dalam menayangkan kematian akibat bunuh diri secara detail, terutama bunuh diri yang dilakukan seorang terkenal atau selebriti. Karena hal itu dapat menjadi sebuah inspirasi bagi orang lain.

“Kami harap media tidak beri informasi kasus bunuh diri terlalu detil tentang cara dan alatnya. Penting juga diinformasikan bagaimana mengatasi perasaan ingin bunuh diri dengan menampilkan narsum dokter,” kata Agung menandaskan.

Ditegaskan, aktivitas pencegahan bunuh diri harus secara kompleks berdasarkan faktor-faktor terkait bunuh diri, tidak hanya fokus terhadap gangguan jiwa. Maka dari itu, upaya yang dilakukan meliputi pencegahan, intervensi dan kerja sama yang erat antar pemangku kepentingan.

Ditanya kenapa masih ada kasus bunuh diri meski banyak penderita gangguan jiwa telah berobat, Agung mengatakan, banyak faktor yang mempengaruhi tata laksana pengobatan kesehatan jiwa.

“Jika lingkungan tidak mendukung upaya pengobatan, pasien telah minum obat pun bisa saja melakukan bunuh diri. Perlu ada support system bagi pasien gangguan jiwa untuk sembuh,” katanya. (Tri Wahyuni)