Disayangkan, Masih 22 Persen Keluarga Indonesia Tak Punya Jamban

0

JAKARTA (Suara Karya): Masih ada 22 persen keluarga di Indonesia tak memiliki jamban. Untuk itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek berharap makin banyak pemerintah daerah terlibat aktif dalam program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM).

“Program sanitasi berbasis masyarakat ini tak bisa diselesaikan pemerintah sendirian. Butuh usaha gotong royong lintas kementerian dan pemerintah daerah,” kata Nila dalam acara pemberian penghargaan kepada 19 kabupaten/walikota yang berhasil menjalankan STBM di Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Menkes menjelaskan, program STBM yang diluncurkan sejak 2008 lalu mampu mengubah pola pikir masyarakat tentang kesehatan sanitasi lingkungan. Hal itu terlihat dari jumlah keluarga yang memiliki jamban dalam rumahnya setiap tahun terus menurun, hingga tersisa 22 persen pada 2019.

“Kami berharap jumlah keluarga yang belum punya jamban berkurang hingga 10 persen pada 2020. Karena keberhasilan masyarakat dalam menjaga sanitasi lingkungan memberi dampak pada kualitas kesehatan masyarakat keseluruhan,” ucap Menkes.

Karena tanpa jamban dalam rumahnya, lanjut Nila Moeloek, masyarakat terpaksa buang air besar (BAB) sembarangan. Kotoran tersebut mengotori lingkungan dan membawa penyakit. “Bahaya itu mulai dari diare hingga balita bertubuh pendek atau stunting di jangka panjang,” katanya.

Karena itu, Menkes berharap, masalah ketiadaan jamban di rumah menjadi persoalan banyak pihak, bukan hanya di Kementerian Kesehatan. Karena hal itu juga berhubungan dengan kondisi ekonomi masing-masing keluarga.

“Jadi dibutuhkan peran kementerian lain, seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan pemerintah daerah kabupaten/kota, swasta untuk sama-sama membantu masyarakat memiliki jamban dalam rumahnya,” kata Nila menandaskan.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemkes Imran Agus Nurali menjelaskan, air yang tercemar kotoran BAB menyebabkan dua penyakit yaitu diare dan hepatitis A. Perilaku itu jika terus dilakukan lama akan menyebabkan stunting.

“Saat ibu hamil dan anak berusia dua tahun makan makanan yang tercemar kotoran dari BAB dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang,” kata Imran menegaskan.

I menambahkan, daerah yang paling susah memiliki jamban adalah wilayah kumuh dan padat. Mereka tinggal di bantaran sungai, tinggal musiman, atau mengontrak di rumah yang tidak memiliki akses jamban.

“Pemerintah menargetkan dalam rencana pembangunan jangka menegah negara (RPJMN), semua keluarga di Indonesia sudah memiliki jamban pada 2024,” kata Imran.

Penghargaan diberikan kepada 19 kabupaten/kota yang memiliki kinerja luar biasa dalam program STBM, disebutkan antara lain Kabupaten Paloppo, Payakumbuh, Solok, Sragen, Salatiga, Klaten, Waykanan, Malang Kota, Blora, Kediri, Kendal, Rembang, Pamekasan, Bantaeng, Wonosobo, Surakarta, Pematang Ilir, dan Temanggung. (Tri Wahyuni)