Ditegaskan, Penguasaan Calistung Tak Wajib bagi Anak PAUD

0

JAKARTA (Suara Karya): Penguasaan membaca, menulis dan berhitung (calistung) tak wajib dimiliki anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) saat penerimaan siswa baru tingkat sekolah dasar (SD). Kompetensi calistung baru diajarkan secara formal di SD.

“Dalam penerimaan siswa baru di SD, prioritaskan usia anak dan jarak tempat tinggalnya dari sekolah sesuai dengan sistem zonasi,” kata Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Harris Iskandar pada perhelatan tahunan “Sosialisasi dan Harmonisasi Bunda PAUD 2019”, di Jakarta, Senin (1/4/2019) malam.

Harris meminta kepala sekolah dasar untuk tidak melakukan tes calistung dalam proses penerimaan siswa barunya, seperti di masa lalu. Yang penting, usia anak memenuhi syarat dan rumah anak berada dalam zonasi sekolah.

Harris mengemukakan, kerja sama pendidik PAUD dengan orang tua adalah kunci bagi perkembangan peserta didik PAUD. Hal itu mengacu pada agenda Sustainable Development Goals/SDGs, yang memastikan seluruh anak laki-laki dan perempuan memiliki akses atas perawatan anak usia dini dan pendidikan pra-dasar berkualitas pada 2030.

“Tujuan SDGs ini menjadi acuan semua negara untuk mendukung layanan PAUD berkualitas, termasuk di Indonesia,” ujarnya.

Ditambahkan, layanan PAUD di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan. Di sisi payung hukum, layanan itu diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif.

“Peraturan itu mengamanatkan pemenuhan kebutuhan esensial anak usia dini secara utuh yang meliputi kesehatan dan gizi, rangsangan pendidikan, pembinaan moral-emosional, dan pengasuhan. Pemenuhan itu merupakan tanggung jawab bersama keluarga, pemerintah dan masyarakat,” tuturnya.

Selanjutnya, Perpres Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal yang menyebutkan salah satu layanan dasar bidang pendidikan yang wajib disiapkan pemerintah kabupaten/kota adalah layanan PAUD bagi anak usia 5-6 tahun.

Sebagai implementasinya, kata Harris, Kemdikbud menerapkan kemitraan tripusat pendidikan, yaitu satuan pendidikan, keluarga.dan masyarakat. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan, telah diatur mekanisme dan bentuk pelibatan tersebut.

“Keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama memainkan peran penting dalam mewujudkan PAUD berkualitas,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Harris, guru PAUD maupun orang tua dituntut mampu memfasilitasi anak-anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Tanpa perlu tergesa-gesa membuat anak pandai calistunh dan dianggap hebat. “Kerja sama di antara keduanya sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Selanjutnya, Harris menyebut persoalan stunting juga perlu mendapat perhatian. Hal itu terkait isu perkembangan peserta didik PAUD. Karena stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak, karena kekurangan gizi kronis saat usia balita.

Prevalensi stunting di Indonesia berada di urutan kelima di dunia. Ada 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Adapun program penurunan angka stunting berlangsung dengan melibatkan lintas kementerian dan lembaga.

“Intervensi program itu dilakukan selama periode 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak usia kandungan hingga anak berusia 2 tahun,” kata Harris seraya menambahkan intervensi dilakukan lewat keluarga dan lingkungan karena anak belum mengikuti layanan PAUD. (Tri Wahyuni)