Ditetapkan, 3 Balon Rektor UNJ untuk Diajukan ke Menristekdikti

0

JAKARTA (Suara Karya): Proses pemilihan bakal calon (balon) Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) periode 2019-2023 yang memasuki tahap kedua di kampus Rawamangun Jakarta, Kamis (22/8/2019) berlangsung seru. Wakil Rektor II UNJ, Komarudin untuk sementara unggul dengan 26 suara, mengalahkan 8 kandidat balon rektor lain.

“Posisi kedua dan ketiga berimbang, yaitu Dr Sofiah Hartati dengan 18 suara dan Prof Paulina Pannen dengan 18 suara. Dan ada 1 suara memilih Prof Endry Boeriswati,” kata Ketua Senat Guru Besar UNJ Prof Dr Hafid Abbas usai pemilihan Balon Rektor UNJ tahap kedua tersebut.

Delapan balon Rektor UNJ terpilih tahap pertama adalah Dr Komarudin, Prof Dr Endry Boeriswati, Prof Paulina Pannen, Prof Dr H Muh Nur Sadik, Prof Dr Agus Setyo Budi, Dr Sofiah Hartati, Prof Dr Ir Ivan Hanafi dan Dr Awaluddin Tjalla.

Hafid menjelaskan, ketiga nama terpilih itu nantinya akan diserahkan kepada Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir untuk proses seleksi selanjutnya. Karena menteri memiliki 35 suara yang akan jadi penentu kemenangan salah satu dari tiga kandidat balon rektor.

“Kami berharap Menristekdikti dapat menggunakan hak suaranya dengan penuh kearifan. Menelaah tiap calon secara rasional, demi kemajuan UNJ di masa depan,” ucap Hafid yang sebelumnya menjabat sebagai Dirjen Perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) Kementerian Hukum dan HAM itu.

Ditambahkan, seleksi rektor UNJ tahap ketiga belum ditetapkan waktunya. Pihak Kemristekdikti masih akan melakukan penelusuran pribadi dari masing-masing kandidat.

“Kami akan berkirim surat ke menteri untuk melaporkan dan menyerahkan daftar tiga nama balon rektor. Biasanya butuh waktu 1 bulan untuk penelusuran data balon dari berbagai sumber,” ujarnya.

Namun, Hafid berharap tim penilai dari menristekdikti bekerja lebih cepat agar nama rektor terpilih sudah ada sebelum 15 September 2019. Karena pada tanggal itu, Presiden RI Soekarno menetapkan kawasan Rawamangun sebagai kota mahasiswa.

“Kami ingin pelantikan rektor baru pada 15 September, agar bertepatan dengan penetapan Rawamangun sebagai kota mahasiswa,” ujarnya.

Disinggung soal kemungkinan adanya politik uang, Hafid mengatakan, pihaknya berupaya melaksanakan seluruh tahapan dan proses pemilihan calon rektor berlangsung transparan, demokratis, terbebas dari politik transaksional dalam bentuk apapun.

“Saya sudah ingatkan para kandidat, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dilibatkan dalam pilrek ini. Tidak boleh main-main uang. Jangan sampai jabatan tidak dapat, malah masuk penjara,” kata Hafid menandaskan. (Tri Wahyuni)