Ditjen Diktiristek Dorong Kolaborasi Kampus Indonesia dan Tiongkok

0

JAKARTA (Suara Karya): Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Kemdikbudristek mendorong kerja sama perguruan tinggi Indonesia dengan 100 perguruan tinggi top dunia di Tiongkok.

Hal itu terungkap dalam webinar yang digelar bersama Ditjen Diktiristek, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing dan ASEAN-China Centre pada Kamis (16/9/21).

Webinar membahas potensi kolaborasi antara perguruan tinggi Indonesia dan perguruan tinggi Tiongkok yang masuk dalam daftar 100 perguruan tinggi terbaik dunia. Dari Indonesia, perguruan tinggi tersebut diwakili IPB, dan Tiongkok menghadirkan beberapa universitas seperti Tianjin University, Peking University, Zhejiang University, Dongbei University of Finance and Economics (DUFE) dan Sun Yat Sen University.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Diktiristek Nizam menjelaskan, kerja sama tersebut bisa dimulai lewat pertukaran mahasiswa. Hal itu akan menguatkan pertemanan antarnegara. “Kerja sama juga bisa dilakukan antar profesor lewat kegiatan penelitian bersama, seperti membahas dampak pemanasan global dari perubahan iklim,” katanya.

Ditambahkan, kolaborasi dengan perguruan tinggi asing dimungkinkan dalam Program Kampus Merdeka. Mahasiswa juga mendapat manfaat yang banyak, terutama dalam proses belajar dan mengajar.

“Lewat program Kampus Merdeka, kami ingin mahasiswa menghabiskan dua semester untuk mendapat pengalaman bekerja dalam berbagai profesi. Pengalaman tersebut akan menjadi bekal saat memasuki dunia kerja,” ujarnya.

Ditambahkan, aktivitas mahasiswa selama magang akan diawasi para mentor profesional. Diharapkan, program tersebut dapat mempererat hubungan antarnegara dan mahasiswa mendapat pengalaman yang berguna untuk karirnya di masa depan.

Sekretaris Ditjen Diktiristek, Paristiyanti Nurwardani dalam laporannya mengatakan, hubungan bilateral Indonesia dengan Tiongkok dalam bidang pendidikan tertuang dalam MoU sejak 2015 lalu. Program beasiswa dan kesepakatan kualifikasi pendidikan tinggi antara Indonesia-Tiongkok juga ditandatangani pada 2016.

“Pada saat itu, Indonesia menandatangani MoU kerja sama bilateral untuk 200 beasiswa Indonesia-Tiongkok dalam pendidikan maritim dan vokasi,” ujarnya.

Paris menambahkan, pada 16 November 2017 lalu, Kementerian Pendidikan Tiongkok mengadakan pameran pendidikan tinggi Indonesia. Kegiatan itu untuk memperkenalkan perguruan tinggi Indonesia dan Tiongkok sekaligus meningkatkan kerja sama bilateral.

“Kerja sama kedua negara bidang pendidikan tinggi berpotensi besar untuk dikembangkan lagi. Salah satunya pelaksanaan pembelajaran Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan mengembangkan sumber daya manusia, serta mendorong kolaborasi perguruan tinggi Indonesia dan Tiongkok,” tuturnya.

Kerja sama yang telah terjalin dengan baik selama ini, Paris berharap akan mendorong perguruan tinggi Indonesia untuk berkolaborasi dengan perguruan tinggi terbaik di Tiongkok. Hal itu sekaligus membuka pintu kerja sama dengan universitas terbaik dunia yang lain, agar makin banyak perguruan tinggi kelas dunia di Indonesia.

Hal senada disampaikan Wakil Presiden Kerja Sama Perguruan Tinggi Swasta Indonesia-Tiongkok, Fasli Jalal. Kerja sama itu memberi keuntungan bagi mahasiswa maupun staf universitas.

Untuk mahasiswa, menjalin kemitraan antar universitas memberi kerangka belajar yang akan berkontribusi pada portofolio kariernya di masa depan. Kerangka itu diperlukan untuk persiapan hidup di dunia kerja.

“Kemitraan internasional juga menguntungkan peneliti dan dosen, karena memberi peluang untuk penelitian antar universitas dan budaya dari negara-negara peserta program,” katanya.

Kerja sama itu, lanjut Fasli, memudahkan antarakademisi baik dalam riset maupun ilmiah. Meski butuh adaptasi dalam pemahaman pikiran dan budaya, universitas yang terpilih diharapkan dapat menghadapi perubahan situasi yang terjadi.

“Dibutuhkan adaptasi dan pendekatan personal dari masing-masing universitas. Administrator universitas bisa melakukan elaborasi atau melalui ‘professional networking’ untuk meeting maupun event akademik,” ujarnya.

Salah satu kunci sukses dalam menjalankan long time partnership, menurut Fasli, adalah komunikasi yang baik antaruniversitas.

Terkait hubungan bilateral antarkedua negara, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun menambahkan, hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok telah terjalin dengan baik sejak 2005. Dari ‘strategic partner’ menjadi ‘comprehensive strategic partnership’ pada 2013.

Disebutkan, hubungan bilateral yang baik harus mengacu pada 3 pilar utama yaitu politic insecurity, ekonomi dan pembangunan, serta sosial budaya dan pendidikan.

“Kita harus memiliki landasan yang sangat kuat dalam hubungan bilateral. Artinya pendidikan sosial budaya perlu dikuatkan agar rakyat bisa saling menguatkan. Dan pilar lain seperti politik dan ekonomi akan mengikuti,” ucap Djauhari.

Ia juga mengungkapkan President Tiongkok, Xi Jinping telah memberi 3.000 beasiswa dan gelar sarjana untuk mahasiswa Indonesia. Kedua belah pihak juga mencapai kesepakatan untuk memberi pendidikan kejuruan bagi 500 mahasiswa Indonesia di 23 jurusan terkait.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia akan memberi insentif 200 persen untuk investor di pusat pendidikan, 300 persen untuk pusat penelitian dan pengembangan dan inovasi.

Pada kesempatan itu, Sekretaris Umum ASEAN China Centre, Chen Dehai mengungkapkan harapannya terkait pertukaran pelajar antara Indonesia dan Tiongkok. Hal itu dapat meningkatkan kualitas pendidikan utamanya pada saat musim pandemi saat ini. (Tri Wahyuni)