Ditjen Diktiristek Dukung BKKBN Bantu Turunkan Stunting di Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) mendukung upaya Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) dalam menurunkan angka stunting di Indonesia.

Dukungan itu diperkuatkan dalam kerja sama antara Ditjen Diktiristek dan BKKBN, yang ditandatangani secara daring, Senin (7/2/22). Kerja sama itu merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2001 tentang Percepatan Penurunan Angka Stunting.

Pemerintah menargetkan penurunan angka stunting hingga 40 persen pada balita. Hal itu sesuai dengan ketetapan ‘World Health Assembly’ pada 2025. Untuk itu, setiap negara diminta untuk berkomitmen dan berkontribusi dalam menetapkan target penurunan stunting nasional.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Diktiristek Nizam menyadari, angka stunting di Indonesia masih sangat tinggi. Akar masalahnya terbilang kompleks. Karena itu, dibutuhkan kerja sama dan gotong royong dari berbagai pihak untuk menyelesaikan masalah tersebut, tak terkecuali dari perguruan tinggi.

Perguruan tinggi memiliki peran sangat penting dalam mengatasi masalah stunting, karena banyak intelektual dan pakar yang dapat berkontribusi dalam menurunkan angka stunting di Indonesian, melalui bidang keahliannya masing-masinf. Hal itu menjadi kekuatan tersendiri bagi perguruan tinggi.

“Stunting tak hanya masalah gizi, tapi juga masalah air bersih, akses terhadap bahan pangan berkualitas, pengelolaan keluarga, pernikahan dini dan sebagainya,” ujarnya.

Karena aspeknya sangat luas, Nizam menilai, diperlukan pendekatan multidimensional atau lintas disiplin dari para pakar. Mahasiswa juga perlu dilibatkan dalam penanganan stunting melalui kegiatan yang termaktub dal tridarma perguruan tinggi.

Sejauh ini, perguruan tinggi telah banyak berkontribusi dalam penurunan angka stunting di Indonesia. Melalui program Kampus Merdeka, mahasiswa dapat mengasah dan mempraktikkan ilmunya secara langsung di tengah masyarakat.

“Mahasiswa akan dilibatkan dalam mengakselerasi penurunan angka stunting di Indonesia,” ucap Nizam menegaskan.

Ditjen Diktiristek saat ini tengah menjalankan program ‘Matching Fund’ atau pendanaan pendamping antara kampus dan mitra. Diharapkan, perguruan tinggi dapat bekerja sama dengan mitra untuk menyelesaikan masalah yang ada, termasuk stunting. Kegiatan tersebut mendapat pendanaan dari Ditjen Diktiristek.

“Pada 2021, banyak perguruan tinggi yang memanfaatkan ‘Matching Fund’ Kedaireka untuk program penurunan angka stunting dengan hasil yang cukup menjanjikan. Lewat kerja sama dengan BKKBN ini, upaya itu dapat terakselerasi dengan program. Sehingga pencapaian target jadi fokus,” ujarnya.

Plt Sekretaris Ditjen Diktiristek, Tjitjik Sri Tjahjandarie memaparkan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang akan mendukung program kependudukan, keluarga berencana serta penurunan stunting.

“Implementasinya pada tridarma perguruan tinggi program pembangunan keluarga, kependudukan, keluarga berencana dan stunting,” katanya.

Tjitjik berharap kerja sama yang berlangsung lima tahun itu mampu menumbuhkan kolaborasi yang baik antara dosen dan mahasiswa dalam implementasi serta mencari solusi terkait penurunan angka stunting secara nasional.

Dalam laporan Plt Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Dwi Listyawardani, sekirar 321 perguruan tinggi akan dilibatkan dalam kerja sama dengan perwakilan BKKBN tingkat provinsi. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam percepatan penurunan stunting.

“Lewat kegiatan tridarma perguruan tinggi, perguruan tinggi dapat berpartisipasi aktif dalam penurunan angka stunting di tingkat provinsi dan kabupaten. Perguruan tinggi yang terlibat, nantinya masuk dalam program Matching Fund Kedaireka,” imbuhnya.

Hal senada dikemukakan Direktur Kerjasama Pendidikan Kependudukan Edi Setiawan. Saat ini ada lebih dari 300 perguruan tinggi melakukan kegiatab mendampingi di 318 daerah kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

“Output yang diharapkan dari kegiatan ini adalah ‘policy brief’ dan analisis situasi yang akan dijadikan rekomendasi pada saat audit stunting di kabupaten/kota,” tuturnya.

Kegiatan mahasiswa akan diimplementasikan melalui 3 kanal yaitu MBKM, KKN tematik stunting dan program pengabdian masyarakat lainnya.

Melalui MBKM, ada 7 bentuk kegiatan yaitu Program Kewirausahaan Peduli dan Intervensi Stunting (Perwira Penting), Asisten Mengajar Satuan Pendidikan Peduli dan Intervensi Stunting (Asmendik), Proyek Kemanusiaan Peduli dan Intervensi Stunting (Prokem Penting)

Selain itu, masih ada Praktik Kerja/Magang Peduli dan Intervensi Stunting (Praker Penting), Proyek Independen Peduli dan Intervensi Stunting (Proyeksi Penting), Membangun Desa Peduli dan Intervensi Stunting (Bangdes Penting), dan Riset Peduli Terpadu dan Intervensi Stunting (Rindu Penting).

“Program MBKM ini sudah berjalan di 4 provinsi, yakni Jawa Tengah, NTB, Riau, dan Aceh,” kata Edi menandaskan. (Tri Wahyuni)