Ditjen Diktiristek Rilis Panduan Pembelajaran di Perguruan Tinggi di Masa Pandemi

0

JAKARTA (Suara Karya): Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Ditjen Diktiristek), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek dan Teknologi (Kemdikbudristek) meluncurkan panduan penyelenggaraan pembelajaran semester genap tahun akademik 2021/2022 di perguruan tinggi.

Panduan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Kepdirjen Diktiristek) Nomor 2/E/KPT/2022.

Hal itu merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri No 05/KB/2021; No 1347 Tahun 2021; No HK.01.08/Menkes/6678/2021; dan No 443-5847 Tahun 2021 tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi covid-19.

Selain juga Surat Edaran Mendikbudristek No 2 Tahun 2022 tentang Diskresi Pelaksanaan Bersama 4 Menteri Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Pelaksana tugas (Plt.) Dirjen Diktiristek Nizam dalam acara Sosialisasi Panduan tersebut, Jumat (11/2/22) menyebut 4 poin penting terkait penyelenggaraan pembelajaran semester genap 2021/2022.

Pertama, perguruan tinggi dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dengan menyesuaikan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di daerah masing-masing sesuai instruksi Menteri Dalam Negeri.

Kedua, cakupan vaksinasi pada sivitas akademika dan tenaga kependidikan menjadi salah satu pertimbangan dalam pelaksanaan PTM terbatas.

Ketiga, dalam pelaksanaannya PTM terbatas, perguruan tinggi wajib memanfaatkan aplikasi PeduliLindungi untuk keperluan screening saat masuk ke kawasan kampus.

Keempat, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) menguatkan peran dalam pengawasan dan pelaporan kepatuhan protokol kesehatan pada aktivitas pembelajaran perguruan tinggi.

Nizam menjelaskan, penyusunan kebijakan pembelajaran di masa pandemi covid-19 dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan sivitas akademika dan tenaga kependidikan di lingkungan perguruan tinggi.

Selama dua tahun terakhir ini, Ditjen Diktiristek telah melakukan beragam adaptasi di tengah situasi pandemi. Pada Desember 2021 lalu, misalkan, ada beberapa perguruan tinggi yang sempat melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas. Namun, masih banyak perguruan tinggi yang belum.

“Ini disayangkan, karena mahasiswa belum bisa melihat kampusnya dalam dua tahun perkualiahan,” tuturnya.

Dengan keterbatasan intensitas pembelajaran, menurut nizam, kemungkinan terjadi learning-loss sangat besar. Karena itu, kita perlu membuat upaya terbaik di tengah masa pandemi.

“Kita tetap mengutamakan kesehatan, tetapi juga berusaha meminimalisir learning loss,” ungkap Nizam.

Guna mendukung terlaksananya PTM terbatas/pembelajaran secara daring, lanjut Nizam, pada beberapa perguruan tinggi ada beberapa hal yang harus disesuaikan berdasar level PPKM di tiap wilayah, daya dukung perguruan tinggi, dan cakupan vaksinasi, serta penerapan protokol kesehatan.

Terkait penyesuaian level PPKM, Nizam menjelaskan, perguruan tinggi di wilayah dengan level PPKM 1 atau 2 dengan capaian vaksinasi dosis 2 di atas 80 petsen dapat mengadakan PTM setiap hari dengan jumlah peserta 100 persen dari kapasitas kelas dan waktu pembelajaran maksimal selama 6 jam/pertemuan/hari.

Untuk perguruan tinggi yang capaian vaksinasi dosis 2 diatas 50 persen, PTM sendiri dapat dilaksanakan secara bergantian (hybrid) dengan jumlah peserta 50 persen dari kapasitas kelas dan waktu pembelajaran maksimal 6 jam/pertemuan/hari.

Pada capaian vaksinasi dosis 2 dibawah 50 persen, PTM dapat dilakukan secara bergantian, jumlah peserta hanya 50 petsen dari kapasitas kelas dan waktu belajar maksimal hanya 4 jam/pertemuan/hari.

Perguruan tinggi di wilayah PPKM level 3 dengan capaian vaksinasi dosis 2 diatas 40 persen, PTM bisa dilaksanakan setiap hari secara bergantian (hybrid) dengan jumlah peserta 50 persen dari kapasitas kelas dan waktu belajar maksimal 4 jam/pertemuan/hari.

Bagi perguruan tinggi di wilayah PPKM level 3 dengan capaian vaksinasi dosis 2 dibawah 40 persen, dan perguruan tinggi yang berada di wilayah PPKM level 4, pembelajaran dilaksanakan secara daring.

Untuk persiapan pembelajaran, perguruan tinggi diminta membentuk satuan tugas covid-19 untuk menyusun dan menerapkan standar operasional prosedur protokol kesehatan, pedoman pembelajaran, wisuda, maupun kegiatan lain bagi sivitas akademika dan tenaga kependidikan di lingkungan perguruan tinggi. Selain juga surat dari orang tua/wali bagi mahasiswa yang ikut PTM/daring.

Dakam kegiatan pembelajaran, perguruan tinggi dapat memastikan akses dan keterhubungan sivitas akademika, agar dapat melaksanakan pembelajaran dari dalam dan luar kampus setiap saat. Selain memastikan pembelajaran dilakukan dalam atmosfer pembelajaran yang sehat, aman dan nyaman dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Ditjen Diktiristek mendorong pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai moda pembelajaran reguler di perguruan tinggi, sehingga pembelajaran tatap muka, pembelajaran blended/bauran, ataupun pembelajaran daring dapat berjalan dengan maksimal,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Diktiristek Kiki Yuliati menjelaskan, pembelajaran di perguruan tinggi selama masa pandemi dilakukan dengan 2 metode, yakni pembelajaran jarak jauh sepenuhnya dan PTM terbatas yang digabungkan dengan pembelajaran jarak jauh.

Terkait pembelajaran selama masa pandemi ini, Ditjen Diktiristek telah melaksanakan monitoring dan evaluasi ke berbagai perguruan tinggi pada semester ganjil tahun 2021/2022 lalu. Survei kesiapan pelaksanaan PTM terbatas juga sudah dilaksanakan oleh Ditjen Diktiristek bersama Kementerian Kesehatan.

Kiki menambahkan, penetapan level PPKM di daerah masing-masing memberi dampak terhadap pembelajaran di perguruan tinggi. Karena itu, perlu dipastikan pembukaan perguruan tinggi diikuti dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Kesehatan dan keselamatan civitas akademika dan tenaga kependidikan di lingkungan perguruan tinggi menjadi prioritas utama dan dasar pertimbangan penting dalam menetapkan kebijakan pembelajaran di masa pandemi covid-19,” kata Kiki menandaskan. (Tri Wahyuni)