Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan Kemanusiaan di Daerah Konflik di Dunia

0
Imam Rulyawan (kiri), direktur eksekutif Dompet Dhuafa, utusan UNHCR (tengah) dan Achsanul Habib sebagai Direktur Hak Asasi Manusia dan Urusan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri RI dalam wawancara dengan wartawan pada peluncuran kerjasama Dompter Dhuafa melalui jaringan di 30 negara, Rabu (11/12/2019) malam di Jakarta.

JAKARTA (Suara Karya): Dompet Dhuafa menyalurkan dan memberikan bantuan kemanusiaan tidak saja di dalam negarai tetapi juga di berbagai daerah konflik di dunia. Dana bantuan itu dihimpun dari zakat, sadakah dan infak masyarakat di Indonesia.

“Respons kemanusiaan Dompet Dhuafa tidak hanya di dalam negeri saja, namun telah dilakukan di beberapa negara yang tengah mengalami konflik kemanusiaan,” kata Executive Director of Dompet Dhuafa Imam Rulyawan, MARS usai diskusi serta ikut partisipasi dalam Dompet Dhuafa Global Network Launching, Roadmap of Indonesia Role on International Peacebuilding di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Imam Rulyawan menjelaskan, tahun ini bantuan disalurkan di daerah Marawi Filipina, Bangladesh, Myanmar di daerah perbatasan yakni Rohingya, Palestina di Gaza dan Hebron yang dilakukan bekerjasama dengan MUI membangun rumah sakit gratis bagi rakyat Palestina, di Yerusalem bekerjasama dengan lembaga-lembaga kemanusiaan PKPU dan Rumah Zakat, dan lembaga lain membangun sekolah.

“Untuk Palestina saja digelontorkan dana sebesar Rp 2 miliar. Berkolaborasi dengan lembaga lain masing-masing juga sumbang Rp 2 miliar, lalu Banglades sebesar Rp 1,5 miliar, kemudian juga Filipina,” ucapnya.

Imam mengatakan, akumulasi dana Dompet Dhuafa sampai Oktober 2019 lebih kurang Rp 300 miliar, target penghimpunan tahun ini sebesar Rp 450 miliar. “Dan, kami sudah terbukti menyaluran lebih dari 90 persen dari dana yang teralokasikan kepada masyarakat. Kami juga membantu masyarakat Indonesia dan luar negeri yang membutuhkan bantuan,” jelas Imam.

Dia menambahkan, Dompet Dhuafa juga mendistribusikan 500 paket makanan per harinya kepada anak-anak di negara tersebut dengan menggunakan mobil khusus layanan dapur umum. Hingga bencana alam maupun kemanusiaan lainnya seperti Somalia, Nepal, Myanmar dan Filipina, jelas dia.

Menurut data Badan Pengungsi PBB (UNHCR) pada 2018, terdapat 70,8 juta orang terlantar di seluruh dunia, sekitar 29,8 juta adalah pengungsi dan hanya ada 92.400 pengungsi dipindahkan ke ketiga negara. Konflik tersebut berdampak pada meningkatnya jumlah pengungsi dan pencari suaka di dunia. Banyak orang melarikan diri dari negara mereka untuk mencari tempat yang lebih aman dan lebih baik.

“Banyak pencari suaka mencoba untuk melintasi perbatasan seperti di Yunani untuk menjangkau negara-negara di Eropa. Beberapa dari mereka pergi ke tetangga mereka negara di Timur Tengah atau negara transit di Asia Tenggara” ujarnya.

Dompet Dhuafa meyakini, kata Imam bahwa banyak orang ingin terlibat dalam perdamaian dunia di era 4.0 ini. “Partisipasi Dompet Dhuafa tersebut merupakan indikator penting dan konkrit dari peran suatu negara dalam memberikan kontribusi untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional,” ujarnya.

Ditambahkan, Dompet Dhuafa sangat memahami dinamisme dari dunia dengan terus menghadirkan perubahan generasi di dalamnya. Melalui Rangkaian Youth For Peace Camp 2019 yang dihadiri Sebanyak 30 delegasi muda dari 30 negara menyelenggarakan diskusi tersebut sebagai momentum utama dalam meningkatkan partisipasi bantuan kemanusiaan. (Indra)