Donasi Buku Tandai Dibukanya Pekan Pendidikan dan Kebudayaan 2019

0

JAKARTA (Suara Karya): Program donasi buku menandai dimulainya Pekan Pendidikan dan Kebudayaan 2019. Perhelatan itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei mendatang.

“Mari kita galakkan kembali kebiasaan membaca buku untuk kemajuan Indonesia,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat membuka acara sambil memasukkan buku ke kotak Donasi Buku, di Jakarta, Jumat (26/4/2019).

Mendikbud mengaku tidak memasang target atas besaran perolehan buku dari program donasi bukunya. Namun, ia berharap tumbuh kesadaran di masyarakat untuk berbagi kebahagiaan lewat buku.

“Buku yang sudah tidak dibaca bisa didonasikan langsung ke sekolah. Tidak semua jenis buku, tetapi buku yang bisa memberi ilmu dan pengetahuan bagi siswa,” ujarnya.

Pada akhir acara, Mendikbud beserta jajarannya melakukan pelepasan burung merpati di halaman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Acara tersebut disambut riuh tamu yang hadir dalam perhelatan tersebut.

“Kami harap perayaan Pekan Pendidikan dan Kebudayaan berlangsung semarak di semua daerah. Masyarakat perlu tahu, upaya pemerintah dalam meningkatkan capaian-capaian dalam pendidikan,” tuturnya.

Mendikbud menilai, kegiatan seperti itu dapat menjadi tradisi guna memotivasi daerah agar terus menggelorakan kemajuan pendidikan secara berkesinambungan.

“Kita mulai dari evaluasi apa yang sudah kita lalukan, lalu dibuat proyeksi apa yang akan dilakukan untuk kemajuan pendidikan dan kebudayaan nasional,” tuturnya.

Hal itu, menurut Mendikbud, menjadi penting. Karena target pembangunan di masa depan akan menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia, setelah 5 tahun sebelumnya menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur.

“Penguatan SDM dilakukan melalui 2 hal, yaitu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan pemberian keterampilan melalui pendidikan vokasi. “Karakter menjadi pondasi dan prioritas utama dalam pembangunan manusia,” ujarnya.

Selanjutnya, kata Muhadjir, pemberian bekal keterampilan pada pendidikan menengah. Keterampilan itu tidak diberikan kepada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tetapi juga Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tidak jadi melanjutkan ke pendidikan tinggi.

“Siswa SMA yang tidak lanjut kuliah, bisa ikut bersaing kerja dengan keterampilan yang diberikan selama sekolah. Proses uji coba sudah dilakukan sejak 6 bulan lalu,” tuturnya. (Tri Wahyuni)