Dongkrak Pamor Batik, Kemdikbud Luncurkan Sentral Pasar Digital

0
 (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Guna dukung pelestarian batik di Tanah Air, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) meluncurkan ‘Kuklik Batik’, yang diharapkan jadi sentral pasar digital batik di Indonesia. Pasar digital itu terbentuk berkat inisiasi Yayasan Canting Batik Indonesia.

“Lewat pasar digital ini, kami ingin batik Indonesia bisa dikenal lebih luas lagi,” kata Mendikbud Nadiem Anwar Makarim pada peringatan Hari Batik Nasional 2020 yang digelar secara virtual dari Jakarta, Jumat (2/10/20) malam.

Pada malam ini, untuk pertama kalinya kain batik sepanjang 74 meter yang diberi nama Presiden Joko Widodo sebagai ‘Kain Batik Garuda Nausantara’ berhasil dibentangkan. Kain tersebut dikerjakan selama 12 bulan, terhitung sejak mulai digoreskan Presiden Jokowi pada 1 Agustus 2019.

Kain batik itu dibuat dengan melibatkan puluhan pembatik dari sentra-sentra batik di nusantara. Kain dibuat secara halus pada kedua sisi dengan warna alami. Dibuat sepanjang 74 meter sebagai lambang kemerdekaan Indonesia pada 2019 lalu.

Motif utamanya adalah Garuda atau Gurdo yang merepresentasikan simbol Garuda Pancasila sebagai dasar negera Republik Indonesia. Kemudian diselingi dengan motif batik tradisional lainnya seperti Parang, Kawung, Sekar Jaga, Sido Mukti dan diakhiri dengan motif baru yang disebuy Garuda Nusantara.

Kehadiran pasar batik digital, menurut Nadiem akan membuka akses seluas-luasnya bagi peminat batik di Indonesia maupun mancanegara untuk mendapat batik dengan motif yang disukai. Hal itu selain akan mendongkrak perekonomian nasional, juga mendorong edukasi dan pelestarian batik di Tanah Air.

“Jadikan insiatif ini sebagai contoh, lalu perbanyak serta kembangkan terus. Karena batik tak sekadar kain bermotif yang bernilai ekonomis, melainkan sebuah karya dan hasil ketekunan dari pembuatnya. Dalam batik terkandung makna filosofis kehidupan dari rakyat Indonesia,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi masyarakat harus mampu melestarikan dan mengenalkan batik Indonesia kepada dunia. “Dalam setiap kegiatan yang bersifat internasional, kami para diplomat selalu memakai batik dan kain tradisional lainnya sebagai bentuk promosi,” ujarnya.

Sebagai informasi, batik masuk dalam daftar Warisan Budaya TakBenda oleh badan dunia untuk pendidikan dan kebudayaan (Unesco). Batik dinilai memenuhi 3 dari lima poin Konvensi Internasional Perlindungan Warisan Budaya TakBenda Manusia 2003.

Tiga poin itu, antara lain tradisi dan ekspresi lisan; kebiasaan sosial dan adat istiadat masyarakat ritus serta kemahiran kerajinan tradisional.

Tepat sebelas tahun yang lalu, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, batik ditetapkan sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) oleh Unesco. Batik menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia ke-3, setelah keris dan wayang. (Tri Wahyuni)