Dongkrak Rasio Kewirausahaan, Kemdikbudristek Gencarkan Program PKW

0

JAKARTA (Suara Karya): Rasio kewirausahaan Indonesia saat ini baru 3,18 persen. Angka itu jauh dibawah negara tetangga seperti Malaysia yang sudah mencapai 4,74 persen dan Thailand di 4,26 persen.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) terus menggencarkan Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW), dengan harapan akan mendongkrak rasio kewirausahaan Indonesia.

“Selama ini, Program PKW terbukti cukup efektif dan efisien dalam menghasilkan wirausahawan atau enterprenuer. Program tersebut juga membuat anak muda kita lebih cepat mandiri,” kata Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek, Kiki Yuliati dalam webinar bertajuk ‘Ngobrol di Kedai: Menangkap Tren Usaha Kopi Kekinian melalui Program PKW’, Sabtu (10/12/22).

Webinar tersebut diselenggarakan Direktorat Kursus dan Pelatihan, Ditjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek.

Kiki menekankam pentingnya lembaga kursus menjadi kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Sehingga alumni program PKW akan terakselerasi saat membangun bisnisnya sendiri.

“Jika para alumni PKW dapat tumbuh dan berkembang, maka hal itu akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia,” ucap Kiki.

Sementara itu, Direktur Kursus dan Pelatihan (Dirsuslat), Wartanto menjelaskan, program PKW untuk jenis keterampilan barista telah dilakukan sejak 2020. Sejak itu, jumlah peminat atau peserta didik bidang barista terus meningkat.

Disebutkan, jumlah peserta PKW Barista yang terus meningkat dari awalnya sebanyak 455 orang pada 2020 menjadi 1.075 orang pada 2021. Jumlah itu meningkat lagi menjadi 1.130 pada 2022.

Kenaikan peserta, lanjut Wartanto, jika dihitung secara persentase ada kenaikan sebesar 240 persen dalam 3 tahun pelaksanaan program.

“Kami ingin calon barista lulusan Program PKW tak hanya punya keterampilan dalam meramu kopi, tapi juga tak takut dalam berinovasi. Sehingga produknya menarik perhatian masyarakat,” ujarnya.

Wartanto mencontohkan inovasi produk dari kopi kekinian yang terus berkembang, seperti padu padan antara kopi dengan alpukat, susu, pandan, pisang dan buah lainnya.

Instruktur barista sekaligus pemilik LKP Filbert, Rendro Wijoyo dalam kesempatan yang sama mengatakan, tren usaha kopi kekinian membuka peluang yang sangat besar bagi lulusan PKW di bidang barista.

Kesempatan itu tidak hanya di kota-kota besar saja, tetapi sudah merambah ke daerah dengan memanfaatkan potensi kopi lokal yang juga kian bermunculan.

“Jadi, kebutuhan tenaga barista ini sangat besar, baik sebagai pekerja maupun pemilik kedai kopinya,” kata Rendro.

Meski demikian, Rendro menyebut sejumlah hal yang perlu diperhatikan LKP penyelenggaraan PKW keterampilan barista. Pentingnya dukungan sarana dan prasarana yang sesuai standar industri serta kerja sama dengan DUDI.

“Sehingga lulusan benar-benar kompeten dan siap berwirausaha,” ujarnya.

Di LKP Filbert sendiri, lanjut Rendro, pihaknya tak hanya membuka keahlian barista saja, tetapi juga kompetensi lainnya, seperti bidang roasting coffee dan juga kursus owner coffee shop. Hal itu ditujukan untuk peserta kursus yang ingin buka kedai kopi.

Pembicara lainnya, Sugeng Pujiono selaku pemilik Critoe Coffee, Bandung mengatakan, bisnis usaha kopi kekinian memang cukup menjanjikan dari sisi keuntungan. Dengan modal sekitar Rp3 ribu per satu cup es kopi susu gula aren, keuntungan bisa mencapai Rp7 ribu per cup.

“Itu untuk harga es kopi susu yang terbilang cukup murah, yakni Rp10 ribu per cup. Tapi banyak yang menjual diatas Rp10 ribu per cup, jadi bisa dihitung berapa keuntunganya,” tuturnya.

Sugeng yang memiliki beberapa cabang coffee shop menambahkan, siapa pun bisa membuka usaha kopi kekinian. Namun, bagaimana mempertahankan kelangsungan usaha juga butuh upaya tersendiri.

“Kuncinya adalah memperbanyak ide dan gagasan dengan cara mengasah keterampilan, menambah pengetahuan, serta terus meningkatkan sikap dan perilaku positif,” kata Sugeng.

Sugeng juga membagikan sejumlah tips agar bisa berhasil dalam bisnis kopi kekinian. Salah satunya adalah menciptakan produk yang benar-benar berkualitas dan bagus. “Kalau sudah bagus, maka produk itu bisa memasarkan dirinya sendiri,” ucap Sugeng.

Sebagai informasi, Ngobrol di Kedai merupakan rangkaian Serial Diskusi Akhir Tahun #1 yang diselenggarakan Direktorat Kursus dan Pelatihan sebagai kegiatan penutup tahun. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi bahan pembelajaran untuk kegiatan serupa tahun mendatang.

Kegiatan tersebut diadakan bersama LKP-LKP dan pengusaha yang dapat membagi pengalaman dan pengetahuannya kepada peserta, baik peserta didik, calon peserta didik, maupun pengelola LKP. (Tri Wahyuni)