Dorong Penciptaan Inovasi, Kemristek/BRIN Bakal Terapkan Program Quick Win

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemristek/BRIN) menggagas program ‘Quick Win’ guna mendorong inovasi di Indonesia. Hasilnya, dilihat dari seberapa banyak perusahaan berbasis teknologi (startup) akan tumbuh di Indonesia.

“kita perlu segera mengidentifikasi program Quick Win untuk mendorong perkembangan inovasi di Tanah Air. Jika rangking kita naik, hal itu akan membantu daya saing Indonesia,” kata Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro usai pertemuannya dengan pimpinan eksekutif (CEO) perusahaan unicorn dan perusahaan investasi dalam negeri, di Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Hadir dalam kesempatan itu, CEO Bukalapak, Achmad Zaky, Co-CEO Gojek Andre Sulistyo, CEO Bubu, Shinta Danuwardoyo, Co Founder Tokopedia Leontinus Alpha Edison dan Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata.

Dari perusahaan venture capital hadir Martin Hartono dari Djarum, Patrick Walujo dari Northstar, Abraham Hidayat dari Skystar Ventures, Sebastian Togelang dari Kejora Ventures, Melisa Irene dari East Venture, Jefrey Joe dari Alpha JWC Venture dan Anthony Lim dari GDP Venture.

Bambang mengemukakan, kelemahan Indonesia dalam pengembangan ekonomi nasional adalah tidak didorong oleh produk inovasi buatan anak negeri.
Dampaknta terlihat pada rangking ‘Global Competitiveness Index’ Indonesia yang menurun dari 36 menjadi 50.

“Penurunan itu terjadi karena parameter inovasi kita masih tertinggal. Rangkingnya relatif rendah. Untuk itu, perlunya kita mengindentifikasi program Quick Win untuk memacu rangking inovasi agar lebih besar,” katanya.

Ditambahkan, program Quick Win diharapkan juga menciptakan lebih banyak perusahaan pemula (startup) berbasis teknologi menjadi unicorn, yang bervaluasi hingga lebih dari satu miliar dolar Amerika.

“Kami juga berkepentingan untuk melahirkan lebih banyak startup berbasis teknologi atau technopreneurs guna meningkatkan daya saing bangsa, dengan negara-negara di kawasan, Asia hingga dunia,” katanya.

Dalam kesempatan itu, para CEO meminta pemerintah utnuk mulai memadankan kebutuhan industri dan produk inovasi peneliti dan perekayasa baik dari kampus ataupun lembaga peneliti. Indonesia harus mampu menjadi produsen untuk memenuhi kebutuhan lokal maupun dunia.

“Selama ini Indonesia dimanfaatkan sebagai market dunia. Kita perlu berubah dan berusaha agar produk Indonesia dipakai oleh masyarakat Indonesia. Karena pasar kita yang besar. Jika mungkin, produk Indonesia dipakai masyarakat dunia,” ujar Achmad Zaki.

Dan yang tak kalah penting adalah kolaborasi antara institusi litbang pemerintah, perguruan tinggi dan kalangan swasta. Kolaborasi itu telah dilakukan Tokopedia yang berkolanorasi dengan Universitas Indonesia dalam research on Big Data.

Disebutkan, penerapan dan pemantapan konsep Triple Helix yang saat ini berkembang menjadi Penta Helix (Academicians-Business-Government – Community-Media). Kolaborasi itu harus terus dipelihara untuk menjaga ekosistem pengembangan ristek dan inovasi di Indonesia.

Perlunya perubahan mindset kurikulum program pendidikan yang mengarah pada pemecahan masalah, ketimbang pasif dan menerima masukan searah. Hal itu, perlu dievaluasi, karena pemikiran kritis ke arah inovasi harus dibiasakan sejak usia dini.

Kalangan pengusaha meminta evaluasi terhadap metode reverse engineering (bermula dari akhir) dalam inovasi. Dalam proses produksi, inovasi harus mulai digalakkan kembali. Jadi penciptaan inovasi tidak harus mulai dari ‘scratch’ atau nol, tetapi bisa dari akhir maupun dari tengah proses produksi. (Tri Wahyuni)