Dorong Percepatan Mutu, PGRI Dukung SMK Pusat Unggulan

0

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Unifah Rosyidi mendukung Program SMK Pusat Unggulan yang digulirkan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek).

“Jika dijalankan secara benar, program itu dapat mendorong percepatan mutu SMK. Apalagi bagi sekolah-sekolah swasta,” kata Unifah dalam acara sosialisasi Program SMK Pusat Unggulan di SMK PGRI 4 Kota Tangerang, Jumat (7/1/22).

Tampil sebagai pembicara Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek, Wikan Sakarinto.

Unifah menilai, Program SMK Pusat Keunggulan akan mendorong sekolah untuk meningkatkan kualitas lewat beragam kerja sama dengan industri. Sehingga makin banyak lulusan SMK yang terserap dunia kerja.

Apalagi, lanjut Unifah, ulusan SMK selama ini sudah menjadi trademark di kalangan orangtua mudah terserap oleh dunia kerja. Karena itu, PGRI mendukung upaya Kemdikbudristek dalam meningkatkan kualitas SDM di SMK.

“Mimpi pembangnunan kualitas SDM melalui SMK yang berkualitas sejatinya bukan hanya menjadi mimpi pemerintah, namun juga PGRI,” ucap Unifah menegaskan.

Ia berharap, terobosan Kemdikbudristek tersebut dapat dikolaborasikan dengan PGRI lebih luas, guna menumbuhkan akselerasi tenaga kerja dalam negeri yang siap pakai.

“PGRI memiliki sekitar 360 SMK yang tersebar di seluruh Indonesia. Saya harap lebih banyak SMK milik PGRI yang dilibatkan dalam program ini. Saat ini baru 16 sekolah, semoga tahun ini jumlahnya ditingkatkan menjadi 60 sekolah,” ujarnya.

Terkait permintaan Ketua Umum PGRI tersebut, Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek Wikan Sakarinto menyatakan siap memenuhi harapan PGRI, asalkan sekolah yang ditunjuk memiliki kemauan untuk berubah dan tak takut berinovasi.

“Program SMK Pusat Keunggulan ini kuncinya ada di kepala sekolah. Saya butuh kepala yang mau diajak ‘gila’ dan bermimpi jauh ke depan. Selain, banyak melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama industri,” ucap Wikan menegaskan.

Ditambahkan, sekolah juga harus bisa meyakinkan para reviewer program yang sebagian besar dari industri. Bahwa program yang akan dikembangkan itu harus benar-benar ‘learning by project’. “Bukan proyek abal-abal. Tetapi benar proyek yang dikerjakan bersama dengan industri. Jika sudah pada tahap itu, para reviewer pasti tak ragu memilih,” ucapnya.

Wikan juga mengungkapkan, keluhan sejumlah industri yang sudah membantu SMK, tak hanya dana, tetapi juga tenaga dan tempat magang, namun kualitas sekolah tak kunjung meningkat. Kekecewaan itu terutama pada soft skills yang dimiliki lulusannya.

“Meski SMK imenekankan pada hard skills, tetapi soft skills tetap diperlukan di dunia kerja. Bagaimana mau diterima kerja, kalau lulusan SMK tidak bisa presentasi, cara berkomunikasi pun parah, tidak bisa kirim email balasan, juga tidak punya ide-ide kreatif dalam rapat. Ini sungguh disayangkan,” ujarnya.

Kualitas SDM bangsa yang seperti itu, menurut Wikan, menurunkan produktivitas. Hal itu akan berdampak pada perekonoman nasional. “Ujung-ujungnya, jadi banyak pengangguran karena daya beli produksi yang rendah. Semua itu jadi lingkaran setan,” katanya.

Karena itu, lanjut Wikan, peningkatan kualitas SDM vokasi menjadi penting. Karena mereka menjadi ujung tombak dalam pengembangan industri di Tanah Air. “Karena itu, Program SMK Pusat Keunggulan kita gencarkan terus. Agar SDM vokasi kita semakin diserap industri dan dunia kerja,” kata Wikan menandaskan. (Tri Wahyuni)