Dua Karyawan Telkom jadi Juara Lomba Hackathon BPJS Kesehatan

0

JAKARTA (Suara Karya): Dua karyawan PT Telkom yaitu Angga Kurnia Putra (25) dan Nailul Fadloil (25) berhasil menyabet juara pertama lomba hackathon yang digelar BPJS Kesehatan. Atas prestasinya itu, mereka berhak atas hadiah uang tunai sebesar Rp50 juta.

“Terus terang saja, sulit menentukan juara dari 10 tim yang masuk dalam babak final ini. Karena aplikasi yang dibuat semuanya bagus dan dibutuhkan,” kata Direktur Tenologi dan Informasi (TI) BPJS Kesehatan, Wahyuddin Bagenda, di Pusdiklat BPJS Kesehatan Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/8/2019).

Disebutkan, posisi kedua diraih tim dari Yogyakarta bernama Technosmart dan posisi ketiga oleh peserta individual yang juga dari Yogyakarta bernama Cahyo Dwi Raharjo. Hadiah uang tunai bagi juara kedua sebesar Rp40 juta dan ketiga Rp30 juta.

Wahyuddin menjelaskan, lomba digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan HUT BPJS Kesehatan ke-51. Dipilihnya hackathon karena pihaknya butuh sistem informasi yang memberi solusi di era digital saat ini. Temanya dipilih “Inovasi untuk Kesinambungan Program JKN-KIS di Era Digital dan Revolusi Industri 4.0”.

“Ada 27 tim yang mendaftar, kami pilih 10 tim yang idenya sesuai kebutuhan BPJS Kesehatan. Kesepuluh tim kami tantang membuat aplikasi seperti dalam proposal dalam waktu 2 hari saja. Hasilnya luar biasa,” ujarnya.

Wahyuddin memberi apresiasi kepada para finalis yang telah berpartisipasi dalam kompetisi. Karena berkat ide-ide brilian dan orisinil mereka, dapat membantu pengembangan TI untuk memudahkan peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Kami akan libatkan mereka dalam program pengembangan selanjutnya, termasuk mereka yang tak juara. Karena aplikasi yang dibuat masing-masing tim berbeda-beda,” ujarnya.

Ia juga berharap peserta lomba dapat manfaat dan tambahan pengetahuan tentang program JKN. Dengan demikian, peserta jadi tahu betapa tidak mudah mengelola sedemikian besar transaksi data yang selama ini harus ditangani tim IT dari BPJS Kesehatan.

“Tak hanya itu, prosesnya juga harus zero accident untuk memastikan pelayanan di lapangan tetap berjalan tanpa kendala,” tuturnya.

Soal tim juri, Wahyuddin menegaskan, mereka adalah para profesional di bidang IT yang memiliki standar penilaian sangat ketat dalam menentukan pemenangnya. Inovasi IT yang dikembangkan benar benar bisa menjadi solusi dan kepastian dukungan terhadap layanan BPJS Kesehatan.

Ditambahkan, kriteria penilaian dilihat dari aspek originalitas inovasi yang dibuat, dampak yang dihasilkan terhadap pelayanan program JKN, kemudahan dalam implementasi, menarik dan mudah dalam pengoperasiannya serta penguasaan konten saat paparan di depan dewan juri.

“Dengan jumlah kepesertaan lebih dari 223 juta peserta, BPJS Kesehatan dituntut untuk memastikan pelayanan kepada peserta bisa berjalan dengan optimal. Simplifikiasi dengan IT adalah jawaban atas semua kompleksitas kebutuhan pelayanan itu,” katanya.

Selain itu, lanjut Wahyuddin, aplikasi yang dikembangkan peserta lomba akan diintegrasikan dalam aplikasi yang dikembangkan BPJS Kesehatan, yaitu Mobile JKN. Aplikasi baru itu akan memperkaya isi dari konten Mobile JKN yang sudah gunakan peserta.

Aplikasi yang dikembangkan Angga dan Nailul tentang model pembayaran iuran bulanan BPJS Kesehatan berpoin. Semakin banyak ia membantu orang lain membayar iuran BPJS lewat aplikasinya, ia akan dapat poin yang dapat ditukarkan beragam barang kebutuhan rumah tangga atau pulsa.

“Ini untuk merangsang masyarakat giat membayar iuran BPJS Kesehatan. Ia bisa bantu tetangga satu kompleks, karena makin banyak transaksi, poin yang diterima makin banyak. Poin itu bisa ditukar, misalkan minyak goreng atau mie instan atau paket internet,” kata Angga yang telah bekerja di PT Telkom selama 2 tahun itu. (Tri Wahyuni)