Dua Wartawan Senior Luncurkan Buku “Tribute to SMAN 8 Jakarta: Kenang-kenangan dari Taman Bukit Duri”

0

JAKARTA (Suara Karya): Sebuah bu ku yang unik dan menarik serta enak dibaca dengan judul “Tribute to SMAN 8 Jakarta: Kenang-kenangan dari Taman Bukit Duri” diluncurkan di kediaman salah satu alumni SMAN8, Toety Emmidiati di Komplek Perumahan Bali Village, Cipete Selatan, Jakarta, Minggu (2/10/2022). Toety yang lulus 1962 menuliskan pengalaman mengesankan sebagai siswa SMAN 8 generasi paling awal.

Buku “Tribute to SMAN 8 Jakarta: Kenang-kenangan dari Taman Bukit Duri yang disusun oleh dua wartawan senior yang juga alumnus SMAN 8 Jakarta, yakni Idrus F. Shahab dan Suradi, mencatat perjalanan sejarah dan kisah-kisah manusiawi para murid. Ia merangkum 25 tulisan yang penuh warna; mulai soal cinta, rambut gondrong, kenakalan dan bahkan perkelahian antarsekolah, hingga semangat meraih cita anak SMAN 8 atau Smandel pada jamannya.

“Kenang-kenangan dari Taman Bukit Duri” diambil sebagai judul untuk mengingatkan ribuan alumni yang berbagai daerah, sejumlah negara, beragam profesi, akan sekolah mereka yang terletak di kawasan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Meskipun pada mulanya, sekolah ini masih menumpang di sebuah Sekolah SGB (Sekolah Guru Bantu) yang terletak di Jalan Taman Slamet Riyadi, Jakarta Timur, tepat di sebrang SMA PKSD 3. SMAN 8 kemudian untuk beberapa tahun menumpang di SMPN 3 Manggarai Utara, Jakarta Selatan. SMAN 8 baru memiliki gedung sendiri ketika Gubernur Jakarta Ali Sadikin meresmikan gedung sekolah ini di Kompleks PJKA, Bukit Duri, 30 Maret 1971

Editornya, Idrus F Shahab dan Suradi memang berniat menyusun dan menerbitkan buku ini dalam rangka menyambut 64 tahun usia sekolah yang banyak menelorkan ilmuan, teknokrat dan beragam profesi terpandang ini. Mereka para alumni tersebut menuangkan pengalaman semasa SMA dengan jujur, humanis, dan juga humoris.

Tak mengherankan bila dari 25 penyumbang tulisan, ada nama Prof.Dr. Siti Nurbaya Bakar, alumnus 1974 yang kini Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Direktur Sekolah Lingkungan UI, DR. Tri Edhi Budhi Soesilo, mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Dharman Persada 2004-2011 dan kini Anggota Dewan Pertimbangan ILUNI UI, Prof Albertine Minderop, dosen, penulis buku,  dan sastrawan Prof Wahyu Wibowo, dosen FEUI, Dr. Elvia R Shauki, komedian kondang Krisna Purwana, pendaki gunung dan ahli gua, Siswoyo Adi atau Ciwo. Para dokter muda seperti dokter Dewi Elina atau Ndil yang sangat aktif dalam sosialisasi vaksinasi Covid-19,  Kepala Seksi Survielans Epidemologi dan Imunisasi Dinkes  DKI,  dr.Ngabila Salama, Azhar Farisyabdi Kurniawan bercerita tentang belajar dan organisasi semasa SMA.

Ada juga sutradara film, Arwin T. Wardhana, penyair Nuthayla Anwar, dan Dirut  PT Trans Digital Media (Detik Network), Kepala Bagian CSR sekaligus Direktur Yayasan Adaro Bangun Negeri, Okty Damayanti, Direktur Enerflo Engineering Indonesia (EEI) dan Direktur Siskindo Utama Dharma, Ir, Yunita Fahmi, dan juga lawyer yang berpartner di kantor hukum yang berfokus pada bidang infrastruktur, ANG Law Firm, Sherley Oroh, SH alias Keke.

Tak kalah hebatnya, selain Toety, ada Bambang Setiawan, alumnus tahun 1960 yang ikut menulis. Bambang hingga kini masih aktif sebagai seorang konsultan bidang telekomunikasi dan satelit. Lalu ada Sumantri, mantan wartawan punya pengalaman liputan mancanegara, dan juga Widiyanti yang menuliskan pengalanannya bersekolah pada periode awal tersebut. Bambang dan Widiyanti hadir dan berkisah masa SMA dalam peluncuran buku tersebut. Di samping para alumni lintas angkatan dari tahun 1962 hingga tahun 2000-an, yang sebagian adalah para penyumbang tulisan dalam buku ini. Ketua Ikatan Alumni Smandel (IAS), Sigit Winarto, dan beberapa orang tua siswa serta undangan lainnya juga hadir.

Kenalan Masa SMA

Selain sebagai ajang reuni kecil, peluncuran buku setebal 268 halaman yang diterbitkan Kakilangit Kencana, Jakarta, September 2022 ini, juga dipenuhi gelak tawa yang tak henti. Pasalnya setiap penulis yang diminta bicara tentang pengalamnnya semasa sekolah di SMAN 8, cerita yang diungkap mengenai kenalan-kenalan mereka.
Krisna Purwana, komedia yang kini mengasuh Radio Silaturahmi (Rasil), bukan hanya menulis di yang membuat pembaca mesem-mesem, tapi saat peluncuran, mengungukap pengalamannya yang kocak, juga peristiwa  yang membuatnya tak naik kelas, yang penyebabnya, saat diungkapkan, membuat hadirin tak henti menahan tawa.

Siswoyo Adi atau Ciwo, yang dikenal sebagai pendaki gunung dan ahli masalah goa-goa di Indonesia, tak kalah lucunya. Pegiat Mapala UI itu berkisah lamanya sekolah di SMAN 8 Jakarta yakni 5 tahun, sebabnya, setahun tidak naik kelas dan ada perubahan sistem pengajaran. Tapi gaya berkisah dan pegalaman lainnya yang membuat hadirin terpingkal.

Bukan hanya milik anak SMA tahun 80-an dan tahun 90-an, tapi anak SMAN 8 tahun 60-an juga begitu, banyak nakalnya. Ini diungkap Bambang Setiawan, yang kerap membuat jahil atau bahkan ‘mengerjakan’ guru. Ketika aksi kenakalan itu terbongkar, tentu kenamarah guru dan harus minta maaf.

Penulis yang relatif masih muda, lulusan tahun 2000-an juga tak kalah mengundang tawa dan decak kagum ketika mengugkapkan kisahnya. Alhasil, peluncuran buku “Tribute to SMAN 8 Jakarta: Kenang-kenangan dari Taman Bukit Duri” jauh dari kesan serius. Acara semakin apik dan manis ketika penyair Nuthayla membacakan puisi di awal dan acara. Pengalaman pentas dan baca puisi Nuthayla membuat alumnus SMAN 8 tahun 1989 itu benar-benar menunjukkan jati dirinya sebagai penyair papan atas.

Buku “Tribute to SMAN 8 Jakarta: Kenang-kenangan dari Taman Bukit Duri” oleh editornya, Idrus F.Shahab dan Suradi dimaksudkan untuk merekam kenangan dan dinamika masa SMA dengan melihat setting sosial dan politik Jakarta dan Indonesia, terutama dari sisi kebijakan pendidikan.

Buku ini bukan untuk menampilkan para sosok alumnus SMAN 8 yang pintar saja, tapi warna-wani alumnus yang punya cerita unik, lucu, dan membuat pembacanya merasakan sisi-sisi humanis.

Mengingat para lumnii SMAN 8 ini jumlahnya ribuan dan masih banyak yang perlu dungkap pengalaman menarik dan unik serta penuh empati. Juga berguna sebagai pembelajaran bagi generasi saat ini, editor merencanakan untuk menyusun edisi lanjutan. (Pramuji)