E-Commerce Bisa Percepat UMKM Naik Kelas

0
sisten Deputi Bidang Pemasaran Kemenkop UKM, Herustiati, saat memberikan sambutan sekaligus membuka Bimbingan Penerapan E-Commerce Pemasaran Produk KUMKM, di Surakarta, Kamis (2/8).

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Koperasi dan UKM mendorong pelaku usaha Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) memanfaatkan niaga elektronik (e-commerce) sebagai sarana pemasaran produknya.

“Dengan e-commerce, kita sama saja dengan membuka cabang di banyak tempat sekaligus, jadi lebih efisien dan praktis,” ujar Asisten Deputi Bidang Pemasaran Kemenkop UKM, Herustiati, dalam keterangan tertulisnya kepada suarakarya.co.id, Kamis (2/8).

Dia mengatakan hal itu, saat memberikan sambutan sekaligus membuka Bimbingan Penerapan E-Commerce Pemasaran Produk KUMKM, di Surakarta, hari ini.

Bimbingan penerapan e-commerce ini diikuti 100 pelaku KUMKM di Surakarta, Jawa Tengah. Selain pelatihan niaga elektronik, mereka juga dibimbing untuk mampu mengembangan desain produk kriya KUMKM.

“Ini menunjukkan e-commerce sudah menjadi kebutuhan pelaku KUMKM dalam mengembangkan usahanya, tinggal bagaimana kita meningkatkan kapasitas SDM para pelaku UMKM ini khususnya di e-commerce ini,” katanya.

Meski penetrasi pemasaran melalui perdagangan elektronik ini sangat penting, pelaku KUMKM diminta juga memperhatikan sisi hulunya, dalam hal ini proses produksi. Sebab, penjualan melalui niaga elektronik ini akan percuma jika pelaku KUMKM tidak menjaga kualitas produk jualannya.

Herustiati menambahkan, saat ini UMKM yang sudah go online mencapai 4 juta pelaku atau masih setengah dari target pemerintah, delapan juta UMKM go online pada 2019. Ia optimistis jika semua pihak melakukan kerja bareng dalam mengangkat UMKM untuk online, target itu akan tercapai.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Surakarta Nur Haryani mengatakan, pelaku KUMKM Kota Surakarta membutuhkan jejaring pasar yang lebih luas dan itu bisa didapatkan di e-commerce. Menurutnya, Surakarta memiliki sekitar 3.000 jenis produk UMKM tapi belum seluruhnya menggunakan e-commerce.

“Mungkin baru 40 persen saja yang sudah go online, namun pelaku UMKM disini sudah merasa e-commerce merupakan suatu kebutuhan,” katanya. (Sugandi)