Edi Nurinda : Peningkatan Gizi dan IPTEK Berperan dalam Dunia Olahraga

0
Exif_JPEG_420

BANDUNG (Suara Karya) : Kepala Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan Olahraga Nasional (PPITKON) Kemenpora Edi Nurinda menegaskan, dunia olahraga selain membutuhkan gizi yang memadai, juga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang mumpuni.

“Melalui kedua unsur itu diperlukan pula Pemanfaatan Data Antropometrik Atlet. Guna mensosialisasikan semua itu diperlukan seminar. Dengan harapan para peserta yang datang dari mahasiswa dan mahasiswi langsung mengetahui ilmu yang akan diterapkan pada atlet masa depan dan masyarakat,”tegas Edi Nurinda saat menutup seminar di The Jayakarta Suites”s, Bandung, Jumat (17/12/2021)?

Seminar Pemanfaatan Data Antropometrik Atlet, Pemenuhan Gizi Dimasa Pandemi yang digelar Kepala PPITKON Kemenpora, Edi Nurinda mendapat perhatian menarik baik dari 50 peserta dan tiga nara sumber yang hadir di The Jayakarta Suites”s, Bandung.

Ketiga nara sumber Mury Kuswari, S.Pd, M.Si, dr. Hamidie Ronald Daniel Ray M.Pd, Ph.D, AIFO dan Alen Rismayadi, M. Pd
menitik beratkan pada pemenuhan gizi atlet yang dipersiapkan kejenjang nasional dan internasional.

Pasalnya melalui asupan gizi yang mumpuni kata Mury Kuswari dapat menghasilkan energi untuk meningkatkan prestasi yang dimiliki. Selain itu katanya, Data Antropometri pengukuran dimensi tubuh manusia seperti (ukuran tubuh, tapak tangan, panjang tungkai dan berat badan) harus diketahui untuk disesuaikan dengan cabang yang digelutinya.

Seperti halnya atlet basket kata Alen Rismayadi, tinggi badan atlet minimal 195 Cm untuk putra, sedang di putri layaknya mencapai 175 Cm. Dengan tinggi badan seperti itu, tinggal memberikan asupan gizi yang mumpuni, selain latihan optimal.
Dengan gizi yang bagus, sudah tentu V2Max atlet juga bagus seperti empat pemain yang memperkuat tim basket Jabar yang selalu keluar sebagai juara di Kejurnas maupun PON.

Begitu juga dalam cabang taekwondo diperlukan tinggi badan 176 Cm untuk putra dan 167 Cm di putri. Selain itu harus ditunjang dengan panjang tulang tungkai yang memadai. Dengan begitu, si atlet lebih mudah menggapai prestasi optimal.

Pada kesempatan terpisah Hamidie Ronald mengatakan, selain basket, taekwondo dan silat yang harus mempunyai postur tubuh yang ideal, cabang bulutangkis tentunya memiliki persyaratan yang sama.

Kendati begitu katanya, peran teknologi juga ikut mengiringinya seperti atlet bulutangkis Jepang yang berprestasi ditingkat internasional. Namun alat teknologi yang ditemukan Jepang itu sulit dikeluarkan dari negaranya. “Bicara olahraga yang bonafid harus didukung dengan ilmu kedokteran. Apalagi melakukan olahraga ditengah pandemi harus disesuaikan dengan jenis yang akan dicapai. Seperti olahraga pendidikan, prestasi, rekreasi dan kesehatan,”paparnya.

Dengan mengelompokkan berdasarkan jenis olahraga, masyarakat dapat menjaga kondisi badan dalam meningkatkan imun selama pandemi covid – 19. Seperti halnya masyarakat umum lebih condong memilih olahraga rekreasi, kesehatan dan pendidikan. Sedang olahraga prestasi bisa dijalankan oleh seorang atlet.

“Mengetahui jenis olahraga yang akan dilakukan, masyarakat dapat meningkatkan imun yang dimiliki, bukan sebaliknya. Begitu juga bagi seorang atlet untuk mengejar prestasi puncak dibidangnya masing – masing,”jelas Hamidie lagi. (Warso)