EdWG G20 Dorong Implementasi Kampus Merdeka di Kancah Dunia

0

JAKARTA (Suara Karya): Dalam pertemuan Kelompok Kerja Pendidikan (Education Working Group/EdWG) G20 di Yogyakarta pada 16-17 Maret 2022, Indonesia mengajak dunia bergotong royong untuk menata dan membangun kembali sistem pendidikan.

Pada pertemuan ity, 27 negara membahas 4 agenda utama. Pertama, Universal Quality Education, dimana para perwakilan negara saling berbagi pengalaman dalam meningkatkan inklusifitas dan pendidikan yang berkeadilan selama masa dan setelah pandemi covid-19.

Kedua, Digital Technologies in Education, yang membahas usaha negara memanfaatkan teknologi digital untuk memulihkan diri dari pandemi Covid-19 dan mempertimbangkan pembangunan pendidikan yang lebih inklusif dan adaptif.

Ketiga, Solidarity and Partnership, yaitu menekankan pentingnya solidaritas dan kemitraan agar tercipta sistem pendidikan yang tangguh dan efektif.

Keempat, The Future of Work Post Covid-19, dimana perwakilan negara menyampaikan strategi dan praktik baik untuk mendukung transformasi pendidikan tinggi dan vokasi dalam menyediakan akses yang adil ke jenjang pendidikan tinggi dan vokasi.

Ketua Kelompok Kerja Pendidikan G20, Iwan Syahri mengajak negara-negara G20 untuk bergotong royong secara global menghadapi masalah pendidikan akibat dari pandemi covid-19.

“Karena anak-anak tidak bisa terus menunggu sekolah dibuka kembali dan mengalami learning loss. Bukan masalah tidak masuk kelas atau gagal dalam ujian, melainkan ancaman kehilangan minta anak-anak untuk belajar dan kehilangan kepercayaan diri,” tuturnya.

Selain 4 topik utama pembahasan dalam G20, bidang pendidikan tinggi mendapat kesempatan melakukan bilateral meeting bersama pihak dari Australia dan Perancis. Hal itu bertujuan untuk membahas rencana kerja sama yang lebih spesifik.

Pada pertemuan tersebut, Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Tjitjik Srie Tjahjandarie mengemukakan beberapa isu bidang pendidikan tinggi, riset dan teknologi.

Tjitjik mengusulkan beberapa poin kerja sama dengan pihak Australia antara lain, bidang pengakuan kualifikasi, implementasi Kampus Merdeka melalui program Indonesia Internasional Student Mobility Awards (IISMA), program Joint Working Group, serta kerja sama pengembangan riset dan inovasi melalui kerangka Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO).

“Kita sudah bermitra cukup dekat dengan Australia. Karena itu, kita dorong Australia membuka kesempatan apprenticeship dan internship bagi mahasiswa Indonesia ke Australia,” tutur Tjitjik.

Kerja sama itu dilakukan lewat skema yang ditetapkan melalui program Kampus Merdeka. Setelah berhasil, perguruan tinggi dapat menduplikasi bentuk kegiatan itu, agar lebih banyak mahasiswa Indonesia memiliki wawasan global dan berdaya saing.

Tak jauh berbeda, pertemuan dengan pihak Perancis pun membahas penguatan implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka melalui program IISMA. Pihak Perancis yang diwakili Atase Kerja Sama Universitas, Institut Français D’indonésie, Philomene Robin mengatakan, pihaknya akan memobilisasi perguruan tingginya untuk berpartisipasi dalam program MBKM.

Adapun sasaran program IISMA adalah perguruan tinggi top 100 dunia di Perancis dan perguruan tinggi terbaik (acknowledged) di Perancis.

“Kami mendukung program Kampus Merdeka dengan memobilisasi perguruan tinggi di Perancis agar semakin banyak yang berpartisipasi dalam IISMA,” ucap Philomene.

Sementara di bidang riset dan inovasi sudah terbangun kerja sama University to University (UtoU) antara perguruan tinggi Indonesia dan Perancis. (Tri Wahyuni)