Fahri Hamzah Kritik Pemerintah Dalam Penanganan Covid-19

0
(suarakarya.co.id/Istimewa)

JAKARTA (Suara Karya): Kerja pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 mendapat kritikan dari mantan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Ia meminta orang-orang yang ada di sekililing Presiden Jokowi setiap harinya harus melindungi presiden dari tindakan yang salah.  

“Sekneg, KSP dan Sekab orang-orang yang sebenarnya dapur harian dari presiden. Mereka harus memastikan presiden tidak boleh bertindak salah, karenanya kita harus men-secure supaya apa yang dikatakan pemerintah pusat di lapangan tidak salah,” kata Fahri dalam dialog live streaming di akun Twitternya, Minggu (10/5/2020).

Fahri juga mengkritik kerja para masing-masing menteri koordinator. Sejauh ini yang dominan untuk penangangan Covid-19 hanyalah Menko Maritim dan Investasi Luhut Panjaitan.    “Sekarang ini yang dominan itu cuma Menko Maritim dan Investasi saja. Menko Kesra sebenarnya memimpin sektor dari wabah ini, itu jarang ngomong baru ngomong kemarin nyerang gubernur DKI Jakarta,” kritik Fahri yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gelora.

Selain itu, dia meminta Menko Perekonomian untuk memastikan bahwa penggunaan Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) dan sebagainya itu efektif.

Menurutnya Menko Polhukam juga harus bisa mengkoordinir komunikasi Indonesia ke luar negeri alasannya, Menko Polhukam yang mengkoordinir Menteri Luar Negeri.  “Sebab sekali lagi Indonesia harus mempelopori kerja sama internasional yang lebih baik.Itu jaminan kita untuk masa depan, bukan cari musuh tapi cari teman. Ini saya lihat di sekitar presiden tidak fungsional,”harapnya.

Lebih lanjut, Fahri menekankan perlunya mengantisipasi sejumlah krisis yang terjadi dari dampak pandemi Covid-19.  “Memang kita melihat sequence-nya memang begitu dari krisis kesehatan, krisis ekonomi lalu bisa muncul krisis sosial lalu muncul krisis politik dan krisis kemanusiaan yang sangat luas. Maka seharusnya kita setop ini di awal,” tegasnya.

Dikatakannya, banyak negara yang sekarang membuka diri. Hal itu setelah negara lain menyelesaikan krisis kesehatan.

“Mereka sudah masuk untuk menyelesaikan krisis ekonomi dengan cara membuka kembali lockdown menerapkan social distancing dengan aturan-aturan tetapi semua mulai dibuka, apa namanya orang mulai kerja, pabrik mulai kerja, restoran mulai buka, mall mulai buka, itu ekonomi mulai tumbuh lagi,” paparnya. (Indra DH)