Filda Yusgiantoro: Distribusi Gas Bumi masih Terkendala Infrastruktur

0
(suarakarya.co.id/Dok Humas Purnomo Yusgiantoro Center)

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) Filda Citra Yusgiantoro, mengungkapkan Indonesia memiliki potensi gas bumi yang besar dan bahkan menjadi bagian dari 10 negara pengekspor LNG terbesar di dunia. Oleh karena itu, pemerintah saat ini mulai mengurangi ekspor LNG dan sedang mendorong pemanfaatan gas bumi domestik.

“Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar, dan infrastruktur adalah salah satu hambatan terbesar dalam mendistribusikan gas bumi keseluruh wilayahnya. Tanpa infrastruktur yang memadai, sulit kiranya bagi pemerintah untuk dapat memaksimalkan pemanfaatan gas bumi domestik,” kata Filda saat membuka diskusi bertema ‘Menarikkah Membangun Infrastruktur Gas saat Harga Komoditi Rendah?’, Senin (18/5/2020).

Bertindak sebagai moderator dalam diskusi tersebut, Filda juga mengatakan penrtingnya pengembangan infrastruktur gas dalam meningkatkan pemanfaatan gas di Indonesia. Pandemik Covid-19 telah memberikan efek negatif pada rencana pembangunan infrastruktur gas di Indonesia.

Untuk itu lanjut dia, perlu diputuskan secara bijaksana infrastruktur apa saja yang lebih penting untuk dibangun terlebih dahulu. Selain itu, perencanaan pembangunan infrastruktur gas tetap harus terus dilanjutkan, sehingga perencanaan jangka panjang tidak terpengaruh oleh kondisi pandemik saat ini.

Diketahui, pada diskusi yang diselenggarakan PYC bersama Energy Academy Indonesia (Ecadin) juga dihadiri pembicara-pembicara handal dibidangnya, seperti Jugi Prajogio yang saat ini aktif sebagai Komite BPH Migas, Kardaya Warnika, salah satu tokoh Migas Indonesia, Anggota Komisi VII DPR dan Pengajar Magister Hukum dan Bisnis Energi Universitas Padjajaran, Soerjaningsih yang menjabat sebagai Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM, dan Susilo Siswoutomo, Wakil Menteri Kementerian ESDM 2013-2014.

Sebagai pembicara pertama, Soerjaningsih menyampaikan kondisi pasar gas saat ini dan proyeksi kedepannya. Beliau menitikberatkan mengenai proyeksi permintaan dan kebutuhan pasokan gas bumi yang akan terus meningkat di masa depan.

Sementara, Jugi Prajogio dalam paparannya menekankan bahwa pandemik yang saat ini terjadi telah menyebabkan penurunan permintaan gas yang mencapai sekitar 50-70%. Oleh karena itu, rencana pembangunan infrastruktur pun ikut terpengaruh, sehingga diperlukan pemilihan secara selektif untuk pembangunan infrastruktur yang akan dilakukan dalam waktu dekat.

Masih sejalan dengan presentasi Jugi Prajogio, Susilo Siswoutomo menyatakan mengenai pentingnya pemilihan proyek, sehingga rencana yang telah disusun akan mendapatkan hasil yang optimal dan dapat menekan biaya investasi.

Di sisi lain, Kardaya Warnika sebagai pembicara terakhir menyampaikan keprihatinannya mengenai banyaknya proyek gas yang terbengkalai di masa lalu dan juga mempertanyakan bagaimana kepastian keberlanjutan proyek di masa depan. Dia juga menyampaikan mengenai pentingnya kepastian hukum untuk dapat menarik investasi di industri gas bumi Indonesia. (Andara Yuni)