FKTP di BPJS Kesehatan Jakbar Capai Target KBK hingga 100 Persen

0

JAKARTA (Suara Karya): Fasilitas Kesehatan Tahap Pertama (FKTP) di wilayah BPJS Kesehatan Jakarta Barat (Jakbar) berhasil meraih Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) hingga 100 persen. Kinerja terbaik itu dicapai 22 Puskesmas.

“Norma kapitasi yang diraih Puskesmas di Jakarta Barat sangat bervariasi, yaitu angka terendah 90 persen dan tertinggi 100 persen,” kata Kepala Penjaminan Manfaat Primer (PMP), BPJS Kesehatan Jakbar, Purwati dalam pertemuan KBK Bulan Agustus 2022 secara daring, Jumat (16/9/22).

Purwati menyebut, ada 7 Puskesmas yang mendapat norma kapitasi 90 persen; 39 Puskesmas mendapat norma kapitasi 95 persen; dan 22 Puskesmas mendapat norma kapitasi 100 persen. “Target kedepan, makin banyak Puskesmas yang meraih norma kapitasi 100 persen,” ujarnya.

Di klinik Pratama, lanjut Purwati, tak ada yang meraih norma kapitasi 100 persen, tetapi norma kapitasi terendah sebesar 95 persen. Rinciannya, ada 2 Klinik Pratama yang mencapai norma kapitasi 97 persen, 16 Klinik Pratama mencapai norma kapitasi 96 persen; dan 1 Klinik Pratama mencapai norma kapitasi 95 persen.

Sebagai informasi, KBK adalah penilaian kinerja FKTP untuk meningkatkan kinerjanya. Capaian kinerja FKTP diukur setiap bulan dan akan mempengaruhi besaran kapitasi yang diterima.

“Kami juga melakukan sosialisasi ke FKTP terkait Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal data ganda Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari dana APBN dan PBI dari dana APBD,” tuturnya.

Purwati mengemukakan untuk wilayah Kantor Cabang BPJS Kesehatan Jakarta Barat, rincian pengembalian kapitasinya sekitar Rp27 juta, yaitu Klinik Pratama sebesar Rp1.731.500, dan Puskesmas sebesar Rp25.368.000.

Keberhasilan itu mendapat apresiasi dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, dr Elvi. Ia meminta agar capaian tersebut bisa dipertahankan dan ditingkatkan. “Perbanyak kerja sama tim dalam mencapai indikator-indikator dalam KBK,” ujarnya.

Untuk FKTP dengan norma kapitasi rendah, dr Elvi berharap mereka belajar dari FKTP lain yang telah mencapai indikator tersebut. Perhatikan juga pengisian data kunjungan pada PCare .

Hal senada dikemukakan perwakilan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Cecilia. Ia meminta kepada FKTP untuk dapat memperhatikan kelengkapan ‘medical record’ dan membuat “logbook telemedicine’.

“Format yang harus diisi dalam logbook kontak tidak langsung lengkap memenuhi standar, tetapi bertahap,” kata dr Cecilia yang meminta FKTP untuk mengevaluasi kembali rasio rujukan, terutama yang angkanya masih diatas 14 persen.

Wakil dari PKC Kebon Jeruk, dr Handoko mengungkapkan, strategi meraih nilai indikator baik pada RPPT KBK, yakni lewat kerja sama dengan semua staf, dokter, petugas administrasi atau loket. Terutama pemantauan khusus pada pasien Prolanis. Misalkan, pasien dengan hipertensi datang dalam keadaan tensi darahnya tinggi.

“Informasi ini harus diberi perhatian khusus. Jika tidak, tensi pasien tidak terpantau karena peserta tidak disiplin,” ujarnya. (Tri Wahyuni)