Forwahub Gelar Bedah Buku Tol Laut

0

JAKARTA (Suara Karya): Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) bersama pengamat transportasi dan pemerintah menggelar bedah buku berjudul “Tol Laut Jokowi Denyut Nadi NKRI” di Jakarta, Senin (20/5/2019).

Diketahui, dalam buku yang ditulis Akhmad Sujadi ini menceritakan keberhasilan pemerintahan Joko Widodo dalam membangun Tol Laut untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah timur Indonesia.

Dalam bukunya Sujadi menuliskan, sebelum ada Tol Laut, masyarakat yang tinggal di daerah tertinggal, terpencil, terdepan dan perbatasan (T3P)  mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok dan barang penting. Bahkan di daerah Natuna, Tarempa, Kepulauan Riau dan Nunukan, Kalimantan Utara sebagian kebutuhan pokok dipenuhi dari negara tetangga, Malaysia. Demikian pula bagi warga di Moa dan Kisar, Maluku Tenggara Barat, sebagian kebutuhan dipasok dari Timor Leste.

Menurutnya, Tol Laut memang kurang tenar dibandingkan jalan Tol Trans Jawa dan jalan Tol trans Sumatera serta jalan Tol Kalimantan yang dibangun pemerintah. Padahal, menurut Sujadi, panggilan pria yang sudah menulis sembilan buku ini, Tol Laut menfaatnya sangat terasa bagi warga negara RI yang tinggal di daerah T3P.

Tol Laut  yang merupakan pelayaran langsung, terjadwal dan rutin ini telah berhasil menurunkan disparitas harga sehingga kebutuhan pokok lebih  terjangkau dan memberikan efek ekonomi.

“Warga di Tarakan, Kalimantan Utara kini mulai merintis berjualan  ayam geprek yang di Jawa menjamur. Harga ayam beku yang lebih murah dari sebelumnya,  membuat remaja di Tarakan merintis,  membuka usaha ayam kripsi dan ayam geprek,” katanya.

Tidak hanya terjadi penurunan harga di daerah T3P, Pak Hadi, pelaku Tol Laut dari Anambas menuturkan, sebelum ada Tol Laut ikan gurita atau octopus tidak laku. Sekalipun ada  yang beli hanya dihargai Rp10 hingga Rp15 ribu per kg. Setelah ada Tol Laut, ikan dapat dipasarkan di Jakarta dan harganya naik menjadi Rp40 hingga Rp55 ribu per kg.

“Pak Hadi beli dari nelayan yang makin bergairah melaut sejak dijalankan Tol Laut dari Tanjung Priok, Jakarta ke Natuna,” kata Sujadi.

Menurutnya, Tol Laut terus berkembang, dari 2 rute sejak diluncurkan pada 4 November 2015 menjadi 18 rute pada 2018. “Tol Laut juga tidak  hanya mengoperaikan kapal kargo untuk angkutan bahan pokok dan barang penting saja, namun Tol Laut juga mengoperasikan 6 kapal ternak,” ujarnya.

Dia menutuekan, kapal ternak perdana yang diluncurkan perdana  oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 10 November 2015 di Ujung Kamal, Madura, Jawa Timur ini, telah bertambah menjadi 6 kapal ternak yang dioperasikan PELNI, ASDP Indonesia Ferry dan perusahaan pelayaran swasta nasional ini sangat mendukung distribusi ternak antar pulau.

“Sebelum ada kapal ternak, untuk mengirim sapi dari NTT, NTB dan Bali ke Jawa menggunakan kapal kargo yang disekat dengan bambu. Untuk menaikkan hewan, sapi diikat dan  diangkat dengan crane, hewan menjadi sters dan bobotnya susut hingga 22 persen,” katanya.

Setelah ada kapal khusus angkutan  ternak, cara memuat sapi ke kapal cukup mudah. Truk tinggal menempel ke kapal, sapi tinggal digiring, diarahkan ke kamar-kamar di kapal. Demikian pula ketika membongkar muatan sapi, cukup digiring menuju truk yang sudah siap di sisi kapal.

Tak berhenti pada pengoperasian kapal saja, untuk mempertahankan atau untuk memenuhi  stok barang dan menjaga stabilitas harga,  Kementerian Perhubungan dan Kementerian BUMN bersinergi dengan menugaskan BUMN transportasi laut, BUMN penyelenggara pelabuhan  dan BUMN penyedia pangan untuk membangun “Rumah Kita” di daerah T3P. (Pramuji)