FSPPB Ancam Gelar Aksi Besar di Kementerian BUMN

0

JAKARTA (Suara Karya): Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) mengancam menggelar aksi besar-besaran di kantor Kementerian BUMN. Hal ini terkait, perpanjangan kontrak kerja sama yang telah ditandatangani pemerintah dengan ConocoPhillips (Grissik) Ltd, atas pengelolaan Blok Corridor pada 20 Desember 2023 – 19 Desember 2043.

Presiden FSPPB Arie Gumilar mengatakan, keputusan perpanjangan kontrak oleh kementerian BUMN ini telah menghianati Pasal 33 Ayat 2  UUD 1945 yang menyatakan Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara.

“Perpanjangan kontrak ConocoPhillips itu bertentangan dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2015 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 30 Tahun 2016 yang memberikan hak istimewa kepada Pertamina untuk menjadi operator blok migas yang akan berakhir kontrak kerja samanya,” kata Arie di Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Dia menjelaskan, pemerintah memperpanjang kontrak Conocophilips di blok Corridor yang akan habis kontraknya 20 Desember 2023 mendatang.

Menurut Arie, seharusnya Kementerian ESDM mengacu pada Permen ESDM No 15 tahun 2015 dan Nomor 30 tahun 2016 dengan menyerahkan blok migas yang akan habis kontraknya 100 persen ke Pertamina.

Sejauh ini kata dia, National Oil Company (NOC) di Indonesia hanya menguasai blok migas dengan komposisi dibawah 50 persen. Padahal seharusnya, NOC bisa menguasai lebih besar lagi blok migas di Indonesia, agar kedaulatan energi bisa tercapai.

“Bahkan saat ini kontribusi Pertamina di Hulu Migas baru mencapai 24 persen. Jadi Kementerian ESDM ini seolah-olah mengabaikan kemampuan Pertamina dalam mengelola blok migas,” tuturnya.

Arie juga mengatakan, keberadaan blok Corridor sendiri sangat penting bagi kelangsungan bisnis migas Pertamina, pasalnya produksi gas dari blok tersebut berkontribusi hingga 17 persen produksi gas nasional.

Menurutnya, keputusan ini juga menyandera Pertamina dalam pengelolaan blok Rokan karena ketergantungan suplay gas dari blok Corridor, dimana suplay gas tersebut sangat vital dalam operasional blok Rokan dan kilang Dumai.

Sebagai informasi saja, produksi lapangan Grissik blok Corridor saat ini mencapai 1.028 mmscfd. Sedangkan lifting gas dari blok Corridor saat ini 834 mmscfd.

“Kami menuntut agar Kementerian ESDM membatalkan kontrak blok Corridor ke ConocoPhillips dan menyerahkan blok migas tersebut 100 persen ke Pertamina,” pungkasnya.

Saat ini, ConocoPhillips (Grissik) Ltd ditunjuk kembali oleh Kementerian ESDM sebagai operator pada blok Corridor dengan masa kontrak 20 tahun hingga tahun 2034. (Bobby MZ)