Gamelan Bali Menarik Perhatian Mahasiswa Internasional di ANU Canberra

0

JAKARTA (Suara Karya): Gamelan Bali hadir menyambut kedatangan mahasiswa internasional di Australian National University (ANU) Canberra, Australia, saat pelaksanaan masa orientasi mahasiswa pada Senin (14/2/22).

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Republik Indonesia di Canberra, Australia, Mukhamad Najib memberi apresiasi kepada ANU yang menghadirkan gamelan Bali dalam acara masa orientasi mahasiswa barunya.

“KBRI Canberra secara khusus diundang ANU menjadi saksi dalam gelaran musik tradisional khas Indonesia, yaitu gamelan Bali,” tutur Atdikbud Najib.

Tim Gamelan Bali KBRI yang dipimpin I Gede Eka Riadi menampilkan 4 lagu yang menjadi daya tarik mahasiswa internasional, yaitu Tabuh Bapang Selisir, Tabuh Gilak, Tabuh Geligak dan Tabuh Godeg Miring.

Diselingi penjelasan tentang gamelan dan makna lagu yang dimainkan, penampilan tim Gamelan Bali KBRI itu mengundang perhatian dan keingintahuan banyak mahasiswa dan dosen tentang Indonesia.

Najib mengemukakan, masa orientasi di ANU dijadikan momen untuk mengenalkan Indonesia, bukan hanya kepada mahasiswa Australia, tapi juga mahasiswa internasional. “Ini jadi peluang bagi KBRI untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia,” ujarnya.

Selama ini, lanjut Najib, KBRI memiliki kelas Gamelan Jawa dan Gamelan Bali yang terbuka bagi masyarakat Australia maupun dari negara lain yang tertarik. Namun, akibat pandemi covid-19, tidak memungkinkan diadakan pelatihan secara tatap muka.

“Jika pandemi covid-19 sudah benar-benar reda, kita berencana menghidupkan kembali kelas Gamelan Jawa dan Bali di KBRI,” katanya.

Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) KBRI Canberra, Ghofar Ismail mengakui, meski gamelan bisa dimainkan dengan indah di depan mahasiswa, namun yang dihadirkan sebenarnya masih belum lengkap. Banyak instrumen yang tidak diikutsertakan.

“Karena protokol Kesehatan, tidak semua tim bisa tampil di ANU kali ini. Boleh dibilang ini semacam mini gamelan, karena pemain dan instrumennya tidak lengkap. Namun untuk menghasilkan bunyi yang sesuai dengan lagu, tim ini sangat cukup,” kata Ghofar.

Mahasiswa ANU asal Australia, Serena Ford, mengaku tertarik dengan bunyi yang dihasilkan Gamelan Bali. “Jika pandemi sudah mereda dan KBRI membuka kelas Gamelan Bali, saya berniat mengikuti kelas tersebut,” tutur Serena.

Sementara itu, Mahasiswa School of Public Policy ANU, Elly mengaku sangat senang bisa mengikuti penampilan Gamelan Bali dari awal sampai akhir. “Meski saya tidak sekolah di sekolah musik, tapi saya senang mendengar Gamelan. Semoga nanti saya bisa ikut berlatih Gamelan di KBRI,” harap Elly.

Pengajar Jurusan Ethnomusicology ANU, Bonnie McConnel menyambut gembira penampilan Gamelan Bali dalam masa orientasi mahasiswa di ANU. Bonnie berharap penampilan itu menarik minat lebih banyak mahasiswa untuk mengikuti kelas musik tradisional.

“Selama ini ada sekitar 15 mahasiswa yang mengambil mata kuliah musik etnik. Saya berharap tahun ini ada lebih banyak lagi yang ikut,” ujar Bonnie.

Sebagai informasi, Pemerintah Australia kembali membuka perbatasannya bagi mahasiswa mancanegara. Hal itu disusul dengan pembukaan perkuliahan tatap muka di berbagai kampus di Australia awal Februari, termasuk kampus-kampus di Canberra, Australia. (Tri Wahyuni)