Gandeng TF, Kemsos Dorong Masyarakat Ubah Perilaku Cegah Stunting

0

JAKARTA (Suara Karya): Masalah stunting tak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi faktor multidimensional, seperti kemiskinan dan perilaku. Untuk itu, pentingnya program

perubahan perilaku untuk mencegah stunting.

“Jika anak sudah terlanjur stunting, bukan hal mudah untuk pemulihannya. Upaya pencegahan menjadi penting,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial (Kemsos), Harry Hikmat acara ‘Diseminasi Capaian Kemitraan dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting’, di Jakarta, Rabu (31/8/22).

Stunting atau gagal tumbuh pada anak, hingga kini masih jadi masalah dasar dalam pembangunan. Bahkan, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Harapannya, target penurunan stunting menjadi 14 persen bisa tercapai pada 2024.

Harry Hikmat menilai, percepatan penurunan stunting merupakan program besar yang membutuhkan kontribusi banyak pihak. Karena itu, Kemsos menggandeng Tanoto Foundation untuk bekerja sama sejak 2020 lalu.

Kerja sama dilakukan lewat Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprof) serta Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung.

“Upaya percepatan penurunan stunting dijalankan melalui pendekatan multidimensional dan penguatan intervensi sensitif,” ucap Harry Hikmat.

Head of ECED Tanoto Foundation, Eddy Henry mengatakan, Tanoto Foundation bermitra dengan Poltekesos Bandung dalam peningkatan kapasitas melalui pelatihan untuk tim tenaga kesehatan.

“Tim itu akan melakukan pendampingan terhadap keluarga dalam program pencegahan stunting,” ucapnya.

Organisasi filantropi independen yang didirikan Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto ini, sebelumnya juga sudah berkolaborasi intens dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Kolaborasi meliputi program pelatihan Tim Pendamping Keluarga (TPK) untuk percepatan penurunan stunting di berbagai daerah.

Direktur Poltekesos Bandung Marjuki menambahkan, hasil kajian lembaganya menunjukkan masih rendahnya pemahaman masyarakat seputar stunting, faktor penyebabnya, serta bahayanya bagi kesehatan.

“Kami telah mengintegrasikan pencegahan stunting dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat,” ucap Marjuki.

Implementasi program mencakup pengkajian ilmiah tentang perilaku berisiko terhadap stunting, penyusunan modul tambahan materi pada Kuliah Praktek Pekerjaan Sosial dengan Anak, Pedoman Praktikum Pencegahan Stunting di Masyarakat, serta penyusunan Pedoman pengabdian Masyarakat dalam Pencegahan Stunting.

“Aksi Perubahan Perilaku Cegah Stunting di 8 Desa Sejahtera Mandiri (DSM) yang menjadi mitra Poltekesos Bandung di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat,” katanya.

Kegiatan itu melibatkan 32 dosen, 24 mahasiswa, 64 kader masyarakat dan 160 orang duta stunting di masyarakat yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, pengasuh bayi, dan remaja putri. (Tri Wahyuni)