Gelar Menu 15 Ribuan, Resto D’Cost Siap Bangkit Lagi Pascapandemi!

0

JAKARTA (Suara Karya): Resto D’Cost siap bangkit lagi setelah terpuruk akibat pandemi covid-19. Tak hanya tampil lebih fresh dengan interior bernuansa laut, tapi juga sajian menu-menu baru yang dijamin akan mampu ‘mengguncang’ lidah pelanggannya.

“Masa pandemi kami gunakan untuk berbenah diri. Kami tutup beberapa resto yang penjualannya tidak bagus. Kami buat ‘sentral kitchen’ untuk mengontrol kualitas bahan pangan dan tampilan resto yang lebih cerah bernuansa laut,” kata Board Member dari D’Cost Seafood Restaurant, Alfa Priliana di Jakarta, Selasa (28/6/22).

Hadir pula dalam kampanye dengan #KembaliKeD’Cost, Chief Executive Officer (CEO) D’Cost Henry Tejakusmana, dan Partnership Executive BenihBaik.com, Ray Farandy.

Guna mengajak kembali pelanggan lama maupun baru makan di D’Cost, lanjut Alfa, pihaknya membuat promo menu Rp15 ribuan yang berisi paket lengkap nasi, sayur dan lauk. Ada tiga menu bervariasi ditawarkan setiap hari, agar pelanggan tak bosan untuk datang ke D’Cost.

“Masa promo berlaku mulai 28 Juni hingga 31 Juli 2022. Setiap orang boleh datang setiap hari ke D’Cost untuk menikmati tiga menu promo tersebut. Setelah itu, harga akan kembali normal sekitar Rp40 ribu per menu,” ujarnya.

Program kebaikan lain yang dilakukan D’Cost adalah aksi sosial. Berkolabirasi dengan BenihBaik.com, D’Cost memberi 100 orang dari keluarga pra sejahtera untuk menikmati menu yang tersedia di D’Cost yang tak saja enak, tetapi juga sehat dan penuh nutrisi.

“Kegiatan makan dengan keluarga pra sejahtera sudah kami lakukan pada 23 Juni 2022 lalu. Ini baru awalan, karena kegiatan serupa akan kami lakukan lagi dalam tiga bulan kedepan,” ujarnya.

Hal itu merujuk pada program yang digagas D’Cost, dimana pelanggan yang membeli menu promo #KembaliKeD’Cost akan disisihkan Rp1000 per transaksi, yang akan didonasikan ke keluarga pra sejahtera. Program tersebut dikelola bersama BenihBaik.com.

“Semakin banyak pelanggan bertransaksi makan akan semakin banyak keluarga pra sejahtera bisa ikut merasakan menu-menu di D’Cost. Program berbagi ini diharapkan mendapat dukungan bersama,” tutur Alfa.

Sebagai informasi, jaringan restoran seafood terbesar di Indonesia, D’Cost ini lahir sejak 2006 lalu, di bawah kelola PT Pendekar Bodoh. Pada akhir 2019, terjadi pergantian sistem manajemen, dengan Henry Tejakusmana sebagai CEO.

“Sejak diambil alih pada 2019, kami melakukan pembenahan di segala aspek dengan memprioritaskan peningkatan QSC (quality, service and cleanliness). Beragam inovasi kami lakukan demi memenuhi kepuasaan pelanggan,” kata Henry.

Inovasi dilakukan D’Cost secara signifikan di seluruh aspek, mulai dari kualitas bahan baku, variasi makanan yang disajikan, pelayanan dan kebersihan hingga layanan call centre yang dapat dihubungi 24 jam di nomor 081229277777.

“Kami juga mengembangkan menu-menu baru hingga tersedia 100 pilihan. Beberapa merupakan favorit pelanggan sejak lama seperti ikan gurame
saus asam manis, buncis muda ala Singapore, ayam goreng mentega, nasi goreng seafood dan aneka hidangan penutup.

Soal kualitas, Henry menyebut, D’Cost tak hanya memiliki sertifikasi halal MUI, tetapi juga sertifikasi bertaraf internasional HACCP dari SGS. “Kami satu-satunya resto di Indonesia yang memilki sertifikat HACCP,” ucapnya.

HACCP adalah sistem jaminan mutu yang bersandar pada kesadaran bahwa hazard (bahaya) dapat timbul di berbagai titik atau tahap produksi tertentu. Untuk itu, perlu pengendalian untuk mengontrol terjadinya bahaya-bahaya tersebut.

Inovasi lain yang juga terlihat jelas adalah design restoran D’Cost yang terlihat lebih fun dan modern, dengan mengangkat tema laut, keunikan menu board berbentuk kapal serta seragam pelayan yang menyerupai awak kapal. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan datang ke D’Cost.

Henry menambahkan, D’Cost seafood memiliki 68 cabang yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Solo, Madiun, Kediri, Jember, Surabaya, Lampung, Palembang, Jambi, Medan, Aceh, Panakukang, dan Makasar.

Ditanya apakah D’Cost juga akan menggembangkan sistem franchise, Henry mengatakan, hal itu sedang digodok tim manajemen. “Kami akan gunakan merek lain untuk model franchise. Bentuknya pun bukan restoran, tetapi semacam outlet yang tak terlalu besar,” kata Henry menandaskan. (Tri Wahyuni)