Gelar Pameran di Masa Pandemi, Pelukis Sulistyo Tebarkan Optimisme

0

JAKARTA (Suara Karya): Pelukis asal Solo, Sulistyo menggelar pameran lukisan tunggal bertajuk “Born to be Jagoan” di Kunstkring Paleis, Jalan Teuku Umar No 1, Jakartra Pusat. Lewat karyanya itu, ia ingin menebarkan optimisme, terutama bagi komunitas seniman di Tanah Air.

“Mari kita berkarya lagi. Pandemi tidak boleh membuat kita patah semangat,” kata pria kelahiran Tulungagung, 30 November 1971 itu saat membuka pameran lukisan tunggalnya, Minggu (7/11/21). Pameran akan berlangsung hingga Selasa (16/11/21).

Hadir dalam kesempatan itu pengusaha nasional yang juga Ketua Komite bidang Kerjasama Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam, Kadin Indonesia, Juan Gondokusumo, Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto dan Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Sri Kusumawati.

Pemeran tunggal Sulistyo yang ke-31 tersebut menampilkan 30 lukisan berlatar belakang ayam jago, yang sejak 2010 lalu menjadi ciri khas karyanya. “Masih konsisten dengan ayam jago, karena saya ingin dikenang sebagai pelukis dengan ciri seperti itu saat sudah tidak ada dunia ini lagi,” ujarnya.

Dipilihnya ayam jago, menurut Sulistyo, karena hewan tersebut memiliki simbol patriotisme, keberanian dan mental juara. Simbol tersebut diharapkan jadi perekat kebangsaan. “Awal ketika saya memilih ayam jago dalam setiap lukisan, karena galau melihat Indonesia yang terancam disintegrasi bangsa,” ujarnya.

Saat itu, Sulistyo juga mengaku sedang mengalami pergolakan batin dalam rutinitas sebagai seorang seniman, dimana kegiatan seakan tak berujung antara menggelar pameran, berkarya, lalu pameran lagi. Begitu seterusnya. Padahal, hidup seharusnya memberi arti pada masyarakat, bangsa dan negara.

“Dari situ saya kemudian mengolah obyek jago untuk mewujudkan banyak ide-ide yang bisa saya salurkan lewat figur jago,” tutur pelukis bernama lengkap KRHT Sulistyo Hadinagoro tersebut.

Untuk memperkuat idenya, Sulistyo bahkan membuat tagline ‘Setiap Kita Bisa Menjadi Jago Buat Indonesia”. Artinya, setiap kita, dengan latar belakang pendidikan, profesi atau warna kulit, agama yang berbeda harus bekerja keras untuk menjadi ‘jago’ dan memajukan Indonesia.

“Tagline itu kemudian saya unggah ke media sosial, dan mendapat respon dari teman-teman yang ada dari Sabang sampai Merauke. Mereka juga memiliki kerinduan yang sama, yaitu Indonesia yang satu, tidak terpecah belah kepada kelompok atau golongan tertentu. Tagline diharapkan jadi perekat kebangsaan,” ucapnya.

Ditanya soal kinerja di masa pandemi,
Sulistyo mengaku dirinya sebagai pelukis produktif. Dalam satu bulan, ia bahkan bisa menghasilkan tiga lukisan. Jika di rumah, kemudian ada ide terkait lukisan, ia segera mencatatnya di buku agar tidak lupa.

“Saya berusaha mendisplinkan diri pergi ke studio setiap hari, seperti layaknya orang bekerja dari pagi sampai sore. Harus seperti itu, karena melukis itu ibarat nafas bagi saya. Jika di rumah terlintas ide lukisan, saya langsung catat di buku agar tak lupa,” ujarnya.

Ditambahkan, lukisan yang dipamerkan merupakan hasil karyanya dalam 5 tahun terakhir ini. Lukisan ayam jago dengan latar belakang hitam dibuatnya selama masa pandemi. “Saya sengaja buat dengan dasar hitam sebagai penanda lukisan itu dibuat di masa pandemi, masa kegelapan yang tak tahu kapan akan berakhir,” katanya.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Sri Kusumawati dalam sambutan pembukaannya mengatakan, pameran lukisan Sulistyo merupakan kegiatan luring perdana, setelah hampir 2 tahun tidak ada kegiatan pameran akibat pandemi covid-19.

Ati menuturkan, perasaan haru itu muncul karena selama hampir dua tahun praktis tidak ada pameran secara langsung di galeri-galeri seni atau di tempat lainnya, karena adanya pembatasan kegiatan akibat covid-19.

“Kalaupun ada, pameran itu dilakukan secara virtual. Hal itu tentunya memberi kepuasan berbeda bagi penikmat seni yang biasa menikmati langsung setiap goresan pelukis di pameran umumnya.

“Pameran Born To Be Jagoan yang menggambarkan sosok kuat, mandiri, tegar, dan tidak mudah menyerah itu, semoga bisa ditransfer pada keadaan saat ini,” katanya.

Menurut dia, para jagoan juga harus waspada dan hati-hati karena covid-19 belum hilang sepenuhnya. “Mudah-mudahan pameran ini menjadi penanda pameran-pameran selanjutnya bisa dilaksanakan secara luring,” tuturnya. (Tri Wahyuni)