Geliat Bisnis Pariwisata Di Tengah Pandemi, Mulai Garap Pasar Online

0

JAKARTA (Suara Karya): Delapan alumni Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti yang saat ini berkarir di bisnis pariwisata berbagi pengalaman tentang bisnisnya yang mati suri selama pandemi corona virus disease (covid-19). Namun, mereka optimis bisnis pariwisata akan kembali menggeliat setelah pandemi berlalu.

“Bahkan ada celah bisnis baru yang akan dikembangkan di masa depan di penjualan online, pasar yang selama ini belum kami garap secara serius,” kata Yessylia Violin yang berkarir sebagai manajer penyangrai kopi di perusahaan pengelola gerai kopi Common Ground.

Pernyataan Yessylia terungkap dalam seminar berbasis internet (webinar) yang digelar STP Trisakti pada akhir pekan lalu. Webinar bertajuk ‘Pesona Talks: Serba Serbi Pariwisata Ala Milenial’ itu diikuti lebih dari 290 siswa di 15 provinsi yang tertarik pada bisnis pariwisata.

Seperti diberitakan sebelumnya, pandemi covid-19 yang terjadi di Indonesia dan 215 negara lainnya di dunia telah meluluhlantakkan bisnis pariwisata. Hal itu terjadi sejak pemerintah menerapkan kebijakan jaga jarak (social distancing) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penularan virus lebih luas lagi.

Mesti bisnis pariwisata saat ini sedang mati suri, namun hal itu tak pelakunya patah semangat. Hal itu terungkap dari 8 narasumber webinar yang berkarir dalam beragam bidang dalam bisnis pariwisata mulai dari perhotelan, F&B (food and beverage), konsultan restoran dan cafe, barista, retail hingga perusahaan produk pemasok untuk bisnis pariwisata.

Webinar dibuka Wakil Ketua III STP Trisakti, Ismeth Emier Osman, dan ditutup secara resmi oleh Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati.

Kedelapan narasumber itu adalah Keyza Oktaviany, Wahyu, Stella Lorenza, Yessylia Violin, Margareth Marsia, Fararine Margaretha, Muhammad Yodha Prananda dan Gaudentius Jason.

Kebijakan pemerintah lewat penerapan physical distancing dan PSBB dirasakan benar oleh Keyza Oktaviany yang bekerja di Hotel Ritz Carlton Pasific Place.

“Dari biasanya ada 15 karyawan per shift dengan pergantian 2 kali, kini menjadi 4 karyawan per shift tetap 2 kali ganti. Ada sebagian karyawan yang masih bekerja karena masih ada tamu asing yang tinggal di residence. Mereka harus diurus keperluannya, karena tak bisa kemana-mana,” tuturnya.

Hal senada dikemukakan Muhammad Yodha Prananda yang bekerja di Hotel Aston Cirebon. Tak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) setelah penutupan hotel. “Selama masa tinggal di rumah, kami diminta untuk meningkatkan kapasitas diri. Jadi saat masuk kerja lagi setelah pandemi berlalu, karyawan sudah mahir berbahasa Inggris atau kemampuan memasak makin lebih baik,” ujarnya.

Sebagian besar narasumber mengungkapkan perusahaannya kini sedang menggarap pasar online, yang sebelumnya tak pernah dilirik. Terutama bisnis yang berhubungan dengan minuman kopi. Penjualan memberi pemasukan yang lumayan di tengah bisnis yang sedang lesu.

Hal itu dikemukakan Margaret Marsia yang awalnya barista kini berkarir sebagai pengembang produk di bisnis gerai kopi. Katanya, saat ini peluang bagi mereka yang ingin wirausaha buka kedai kopi untuk berjualan secara online.

“Modalnya tak besar, karena tak perlu sewa tempat. Bisnis bisa dijalankan dari rumah dengan espreso liquid dan pemasarannya lewat aplikasi semacam Gojek atau Grab. Asal diracik enak dan harganya affordable, orang akan beli untuk menghilangkan kebosanan di rumah saja. Apalagi sekarang ada trend minuman kopi ukuran satu liter,” tuturnya.

Hal itu dibenarkan Yessylia. Kedai Common Grounds yang lokasinya tidak di mall tetap dibuka untuk umum, meski hanya untuk layanan antar dan penjualan lewat ojek online. Selain itu, perusahaannya juga masuk ke penjualan kopi nusantara di website penjualan online ternama.

Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati mengaku bangga atas prestasi kerja yang dilakukan lulusannya. Meski kondisi ekonomi di Indonesia dan dunia sedang lesu, tak menyurutkan mereka untuk tetap konsisten dalam karirnya. Bahkan kondisi sekarang mendorong terciptanya peluang bisnis baru di masa depan. (Tri Wahyuni)