Generasi Milenial Cenderung Narsis, Tantangan bagi Orangtua dan Guru

0

JAKARTA (Suara Karya): Teknologi telah mengubah banyak hal, termasuk cara bersikap pada anak. Hal itu terlihat pada generasi milenial yang tak fokus dalam melakukan sesuatu dan cenderung berjiwa narsisme. Ini menjadi tantangan tak hanya untuk guru, tetapi juga orangtua.

“Orangtua tidak bisa lagi menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anaknya kepada sekolah. Karena anak zaman sekarang itu cenderung tak fokus dan narsis. Ini tantangan guru dan orangtua,” kata Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat, Kemdikbud, Harris Iskandar dalam acara pemberian penghargaan kepada tokoh PAUD dan pendidikan keluarga, di Jakarta, Rabu (6/11/19).

Harris menilai sudah saatnya orangtua belajar tentang teknologi yang sedang trend di masyarakat. Hal itu diperlukan agar orangtua dapat memantau perilaku anaknya setiap hari. Orangtua juga bisa mengambil tindakan pencegahan, jika paham dengan kondisi yang sedang terjadi.

“Orangtua Indonesia saat ini perlu strategi baru dalam pengasuhan anak, yang dikaitkan dengan teknologi. Jika diam saja, anak akan mudah membodohi guru, orangtua maupun masyarakat tempat tinggalnya,” ucapnya.

Menurut Harris, pendidikan adalah eskalator dalam memajukan bangsa. Karena itu, pelaksanaannya merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat. “Beban pendidikan harus dipikul bersama antara pemerintah, masyarakat, orang tua dan pemangku kepentingan,” katanya menegaskan.

Rangkaian kegiatan meliputi pemberian penghargaan kepada Bunda PAUD berprestasi, Penghargaan Orang Tua Hebat, pemenang lomba Jurnalistik, Blog, dan Vlog Pendidikan Keluarga, Lomba Film Pendek Anak dan Remaja, Sekolah Sahabat Keluarga, Mitra Sahabat Keluarga, serta beberapa penguatan program pendidikan keluarga.

Penghargaan Orangtua Hebat diberikan kepada pasangan Yacobus Manue Fernandez dan Margaretha Hati Manhitu. Mereka adalah orangtua dari Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Raymundus Sau Fernandez. Penghargaan itu untuk memberi inspirasi bagi orangtua lain dalam pola pengasuhan anak sejak dini.

“Pasangan Yacobus-Margaretha yang berlatar belakang petani, dinilai berhasil dalam mengasuh anaknya hingga menjadi bupati,” ujarnya.

Meski anaknya menjadi Bupati TTU hingga dua periode, pasangan Yakobus-Margaretha tetap hidup sederhana. Mereka masih menjadi petani dan berdagang hasil bumi dan hasil ternak di pasar tradisional.

Yacobus mengatakan, sebagai petani si desa, ia selalu menekankan pendidikan karakter sejak dini kepada anaknya. “Soal nanti mau menjadi apa, itu perkara mudah. Yang penting karakternya yang harus dibangun dulu sebagai pondasi,” katanya.

Kepada anaknya, Margaretha menambahkan, dirinya selalu menekankan pentingnya hidup sederhana, suka membantu orang lain dan jangan pernah sombong.

“Jangan takut menderita atau miskin karena suka bantu orang susah. Percayalah, Tuhan akan kasih lebih banyak,” kata Margeretha memperkuat pernyataan suaminya. (Tri Wahyuni)