Gerak Pena, Apresiasi atas Inovasi Guru Sains se-Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Hari Guru Nasional (HGN) 2021 dirayakan dengan berbagai kegiatan. Salah satunya apresiasi bagi guru mata pelajaran IPA yang diwadahi dalam kegiatan Gelar Karya Pendidik Sains Indonesia (Gerak Pena). Kegiatan berlangsung di Bandung, Jawa Barat pada 24-26 November 2021.

Menurut Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) IPA, Enang Ahmadi dalam siaran pers, Jumat (26/11/21), Gerak Pena dibuat untuk menjaring inovasi dari para guru sains guna dijadikan sebagai model pembelajaran sains di sekolah.

“Gerak Pena nantinya tak hanya mengimplementasikan hasil inovasinya di sekolah, tapi bisa mengembangkan inovasi tersebut di masyarakat,” kata Enang saat menutup kegiatan Gerak Pena, Jumat (26/11/21).

Enang menyampaikan, P4TK terus mengembangkan berbagai pendidikan dan latihan (diklat) guna meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan (PTK). Hal itu seperti diamanatkan Mendikbudristek, Nadiem Makarim pada peringatan HGN 2021.

“Tidak boleh ada guru yang tidak mendapat akses ke diklat,” ucap Enang mengutip pernyataan Mendikbudristek.

Kegiatan Gerak Pena 2021 mengusung tema “Inovasi Pembelajaran IPA untuk Indonesia Pulih, Tangguh, dan Tumbuh. Ada 6 topik inovasi yang diangkat, yaitu: keterampilan ilmiah, literasi ilmiah, kemampuan berpikir integratif (terpadu), keterampilan berpikir solutif, kepedulian terhadap masalah lingkungan, dan kepedulian terhadap masalah Kesehatan.

Peserta Gerak Pena merupakan guru sains dari jenjang SD, SMP dan SMA yang mengirim artikel ilmiah terbaik. Artikel tersebut berisi gambaran keterlaksanaan inovasi pembelajaran IPA oleh guru di sekolahnya, baik memakai alat peraga atau tidak.

Pembelajaran yang ditulis dalam karya ilmiah harus terlaksana dalam rentang maksimal tiga semester terakhir, yaitu antara semester genap tahun ajaran 2019/2020 hingga semester ganjil tahun ajaran 2021/2022.

Dari 463 guru yang mengirimkan karyanya, kemudian diseleksi lagi hingga terpilih 120 karya. Karya ilmiah itu dipilih lagi untuk mendapat inovasi yang paling inspiratif, dengan mempertimbangkan 4 aspek penilaian.

“Keempat aspek itu adalah asli, penting, ilmiah dan konsisten. Selain berbentuk karya tulis, para guru juga harus mempresentasikan karyanya di hadapan juri. Juri akan menilai penguasaan materi dan kemampuan dalam menggunakan media.

Salah satu juri, Tatang Sunendar, mengatakan, inovasi yang terpilih sebagai karya inspiratif harus memiliki nilai kebaruan, membawa dampak bagi siswa dan membawa kebermanfaatan bagi profesi guru itu sendiri. “Ada tiga aspek yang dinilai dalam penilaian karya di Gerak Pena ini,” tutur Widyaiswara P4TK ini.

Koordinator Juri Gerak Pena, Dewi mengatakan, selama penilaian terasa antusiasme para guru sains untuk mengirimkan karya terbaiknya. Dalam waktu 2 minggu sejak pendaftaran dibuka, ratusan karya masuk ke dewan juri. Ada 6 juri di Gerak Pena yang melakukan penilaian.

Guru terinspiratif kedua untuk jenjang SMP adapaj Lufia Krismiyanti. Karyanya berjudul Metode Situte (Si Tukang Tempe) berbasis table stamp untuk melatih keterampilan dan kreativitas siswa di masa pandemi. Guru SMP Negeri 1 Brebes itu menggunakan Situte untuk melatih keterampilan anak di materi bioteknologi konvensional.

“Anak-anak mempraktikkan pembuatan tempe di rumah masing-masing, sekaligus membuat desain, dan promosi produk melalui media sosial,” kata Dewi.

Lufia mendapatkan informasi terkait Gerak Pena dari rekan sesama guru. Dengan modal Situte, Lufia mengirimkan artikel ilmiahnya, dan masuk dalam 120 karya terpilih. Lufia mengaku senang karena Gerak Pena bisa mewadahi inovasi yang dilakukannya.

“Lewat Gerak Pena akan lahir karya ilmiah yang akan didiseminasikan oleh guru seluruh Indonesia. Sehingga guru lainnya bisa memanfaatkan inovasi tersebut,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan guru biologi kelas XI-XII SMA 1 Negeri 1 Seulimeum, Aceh, Maria Ulfa. Ia menjadi guru inspiratif pertama untuk jenjang SMA. Membawa artikel Inovasi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) melalui pemanfaatan televisi edukasi (TVE) dan penerapan model project base learning.

Inovasi tersebut melampirkan praktikum mandiri dengan memanfaatkan limbah yang ada di lingkungan siswa, untuk mencegah learning loss.

Ulfa mengatakan, karena pandemi dan pembelajaran jarak jauh di sekolah, sinyal koneksi internet susah dan aplikasi internet masih awam bagi siswa sehingga terjadi learning loss. PTMT di Aceh dilakukan shift (50 persen jumlah siswa).

“Karena pengurangan jam pelajaran dari 45 menit menjadi 30 menit dalam 1 Jam Pelajaran, maka terjadi lagi learning loss,” katanya.

Kemdikbudristek mempunyai program yang disiarkan melalui TVE, tanpa iklan sehingga tidak merusak karakter siswa. “Saya gunakan TVE untuk siswa daring, nanti ada pantauan dengan mengirim resume-nya. Untuk biologi tidak bisa lepas dengan praktikum, tapi karena PTMT maka praktikum sulit dilaksanakan di sekolah,” katanya.

Praktikum dilakukan dengan cara project base learning. Praktiknya menggunakan alat praktikum dari limbah yang ada di sekitar mereka. Hasil rancangan jika dikembangkan dengan baik bisa dimanfaatkan sekolah yang kekurangan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan praktikum.

Ulfa berharap, kegiatan semacam Gerak Pena sering diadakan. Karena menjadi ajang bagi para guru di daerah untuk membuat inovas dalam pembelajaran. Kegiatan itu tak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga bisa jadi ajang berbagi pengalaman bagi para guru. (Tri Wahyuni)