Guna Pelestarian, Balai Bahasa Provinsi Aceh Revitalisasi Sastra Nazam

0

JAKARTA (Suara Karya): Balai Bahasa Provinsi Aceh (BBPA) melakukan revitalisasi sastra Nazam. Pelestarian tersebut penting karena salah satu syair Aceh tersebut bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran agama.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Karyono dalam acara Riung Media, di Jakarta, akhir pekan lalu mengungkapkan, Nazam terbilang unik karena disampaikan dalam beberapa model lagu untuk mengiringi bait-bait yang berisi petuah agama.

“Dengan lagu itu, Nazam akan lebih terpaut di hati pendengar sambil memahami dan mempraktikkan pesan tersebut dalam kehidupan,” ujarnya.

Karyono menilai, Nazam adalah warisan budaya Aceh yang wajib dijaga dan dilestarikan. Karena itu, tim Balai Bahasa Provinsi Aceh melakukan revitalisasi sebagai langkah membangkitkan kembali semangat pelestarian di masyarakat Aceh.

“Tak dapat dimungkiri, jika eksistensi Nazam saat ini sangat memprihatinkan. Seperti kesenian tradisional Aceh lainnya mulai kehilangan banyak peminat, karena perkembangan zaman. Kondisi nazam pun tidak jauh berbeda,” katanya.

Keprihatinan itu juga dikemukakan tokoh sastra Aceh, Syeh Masri. Katanya, beragam media hiburan yang ada saat ini membuat kesenian Nazam kalah pamor dan semakin ditinggalkan masyarakat.

“Kegiatan revitalisasi Nazam oleh BBPA pada akhir Maret 2021 lali memang tidak membuat Nazam berdaya hidup tinggi di masyarakat Aceh. Tetapi, upaya itu bisa mempertahankan eksistensi Nazam lebih lama karena senantiasa dirawat oleh masyarakat dan pegiat Nazam itu sendiri,” ujarnya.

Ditambahkan, kerja sama dan konsistensi dari usaha pelestarian itu akan memperpanjang daya hidup Nazam di masyarakat Aceh pada generasi mendatang.

Upaya pelestarian oleh BPPA adalah sastra folklor Kekitiken yang dulunya marak di Kabupaten Aceh Tengah. Sastra yang melekat di masyarakat Gayo itu perlahan mulai menghilang. “Kami membuat beberapa lomba untuk siswa sekolah menengah atas (SMA), sebagai bagian dari pelestarian sastra Kekitiken,” kata Karyono.

Ditambahkan, sastra Berkekitiken itu butuh kecepatan berpikir. Karena pertanyaan yang diajukan oleh teman mengandung bahasa yang butuh daya nalar cepat. Sehingga tidak sembarang orang memiliki kemampuan untuk sastra berkekitiken itu.

“Itulah salah satu alasan begitu pentingnya pelestarian budaya Kekitiken di masyarakat Gayo,” ucapnya.

Karyono juga menyebutkan, sejumlah kegiatan unggulan d BBPA seperti penyusuman kamus bahasa Aceh bidang kemaritiman, inventarisasi kosakata bahasa Aceh bidang kemaritiman. Tim turun langsung ke lapangan, guna menghimpun data kepada masyarakat pesisir terkait pekerjaan mereka. (Tri Wahyuni)