Guru dan Siswa SMA Negeri 1 Jakarta Antusias Ikuti Pelatihan Mencipta Karya Musik Gunakan Digital Audio Workstation

0

JAKARTA (Suara Karya) : Pemahaman dan penguasaan teknologi maupun kecakapan menggunakan internet pada era digital ini merupakan kompetensi yang semestinya dimiliki oleh seluruh masyarakat. Termasuk dalam dunia musik khususnya yang menggunakan software DAW.

“Berdasarkan penggunaan alat teknologi canggih itulah Dosen Program Studi Pendidikan Musik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terpanggil melakukan kerjasama dengan SMA Negeri 1 Pasar Baru untuk memberikan pelatihan pada siswa – siswinya,”ujar Dosen Prodi Musik UNJ, R.M. Aditya Andriyanto, S.Pd., M.Sn. di Jakarta, kemarin.

Pelatihan Mencipta Karya Musik Menggunakan Digital Audio Workstation Bagi Guru dan Siswa SMA Negeri 1 Pasar Baru katanya, diberikan melalui sistem daring zoom meeting dari rumah masing – masing. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin 17 Juni 2021 pukul 10.00-12.00.

Aditya mengatakan, kegiatan itu diawali dengan pembukaan pelatihan oleh koorprodi Pendidikan Musik FBS UNJ Rien Safrina, MA, Ph.D. Dilanjutkan dengan perkenalan tim P2M kepada para peserta dan sambutan guru seni budaya (sekaligus menjabat Wakil Kepala Sekolah) SMA I Pasar Baru, Rianna Apriani, S.Pd.

Menurutnya, selain Dosen yang terlibat dalam pelatihan tersebut juga para mahasiswa UNJ yang memberi pelatihan DAW dengan membentuk beberapa kelompok belajar melalui breakout room zoom meeting. Para mahasiswa itu diantaranya Savira Maghfirlana Hadi,
Siti Pujawati Nurmalasari, Detania Febryanti Komara, Reni Rahmawati, dan
Aji Dwi Dharmawan.

Pada pertemuan itu paparnya, peserta diberikan penjelasan terkait kegiatan, tujuan maupun manfaat kegiatan P2M. Seperti halnya peningkatan kompetensi teknologi musik diharapkan mampu mengembangkan kecakapan literasi digital para peserta khususnya dalam berkreasi dibidang musik.

“Dengan meningkatnya kecakapan digital para guru dan siswa, maka meningkat pula potensi berkembangnya dunia pendidikan musik dan kesejahteraan peserta dimasa mendatang,”jelas Aditya.

Aditya melanjutkan, segala bidang pekerjaan yang dijalankan memerlukan alat bantu berupa teknologi. Fenomena kecanggihan teknologi automasi robotik, Articial Inteliligence (AI) dan mesin pembelajaran bukanlah ancaman dalam menghilangkan pekerjaan manusia, namun berpotensi untuk merubah aktifitas kerja dan produktifitas manusia membantu mencapai kemakmuran.

Teknologi terbukti mampu mempermudah, mempercepat, bahkan mempermurah segala sesuatu yang dikerjakan. Efektif dan efisien merupakan tujuan utama dari penciptaan dan penggunaan teknologi tersebut.

SMA Negeri 1 Jakarta merupakan salah satu sekolah yang memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan di Indonesia umumnya dan di ibukota Jakarta khususnya. Dengan menempati gedung di Jl. Budi Utomo No. 7 diperkirakan sudah didirikan sejak tahun 1889. Bahkan saat itu dipakai oleh PHS (Prins Hendrick School). Tahun 1946, tepatnya tanggal 13 Maret 1946 dibentuk sekolah pemerintah yang pertama.

Awalnya masih menggunakan nama SMT, lalu diubah menjadi SMOA ( Sekolah Menengah Oemoem Atas ) Tahun 1947. Kemudian dengan adanya agresi Belanda, sekolah tersebut dibubarkan atau dilarang. Namun, guru-guru serta pelajarnya tidak menyerah oleh ancaman penjajah Belanda. Pada awal tahun 1950 SMA Kiblik tersebut bergabung kembali menempati gedung di Jalan Budi Utomo No.7 sampai sekarang. Bahkan, SMA Negeri 1 Jakarta terus berkembang dan maju dengan ditandainya sejumlah prestasi baik akademik maupun non akademik.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memajukan pelajaran bidang kesenian. Di sekolah tersebut terdapat berbagai pengembangan bidang seni seperti seni musik, tari, drama/teater dan seni rupa. Kesenian musik yang terdapat disekolah tersebut diantaranya kesenian paduan suara, band, vokal solo, musik tradisi dan lain sebagainya.

Pada faktanya situasi berkesenian di sekolah-sekolah, khususnya ditingkat sekolah menengah di Jakarta masih belum mengoptimalkan potensi teknologi dalam bidang musik khususnya software DAW, sementara tuntutan kompetensi di era digitral 4.0 cukup tinggi.

Latar belakang pertama katanya, sarana prasarana penunjang teknologi musik masih belum optimal tersedia disekolah. Kedua, kurang tersedianya tenaga ahli pendidik seni musik yang ahli dalam teknologi musik dan pemanfaatannya. Ketiga, minimnya akses mendapatkan literasi terkait penggunaan dan pemanfaatan teknologi musik pada skala sekolah menengah.

Keempat adalah tingginya tuntutan kompetensi kecakapan teknologi yang harus dimiliki bagi pendidik diera digital 4.0 khususnya para pendidik musik abad 21 demikian halnya dengan siswanya.

Proses Balancing

Selanjutnya pada pertemuan kedua Jumat 18 Juni 2021 pukul 09.00-11.00, peserta diberikan materi tentang bagaimana melakukan proses balancing, mixing hasil rekaman dan berkolaborasi secara virtual di DAW Bandlab. Setelah proses recording/rekam audio track telah dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah balancing. Balancing pada track juga dilakukan dengan cara mengatur level volume pada mixer, agar tiap track terdengar proporsional volumenya satu sama lain.

Selain itu dilakukan juga proses trimming, yaitu memotong bagian audio atau midi yang tidak diperlukan, seperti pada bagian track vokal yang kosong sinyalnya. Hal ini dilakukan supaya mengurangi noise yang mungkin muncul saat track dibunyikan. Dengan trimming ini memastikan bagian audio mana yang benar-benar ingin digunakan pada lagu.

Pada pertemuan ketiga, peserta dilatih menambahkan dan menggunakan effect-effect atau dikenal dengan VST effect. Tujuan penggunaan effect pada track adalah untuk membuat bunyi tiap track musik lebih baik lagi. Beberapa effect yang dijelaskan diantaranya equalizer, compressor, gain, reverb dan distorsi. Masing-masing effect ini memiliki kegunaan yang berbeda, dan dapat digunakan secara bersamaan pada masing-masing track sesuai kebutuhan.

Pada kesempatan itu peserta mengeksplorasi bunyi-bunyi instrumen midi yang disediakan gratis dari DAW, kemudian mencoba merekam track midi tersebut. Umumnya saat rekaman midi, kesesuaian permainan melodi dengan tempo menjadi tantangan tersendiri. Seringkali antara hasil rekam midi dengan tempo serasa kurang pas. Untuk itu DAW menyediakan fitur quantize untuk merapikan data midi yang sudah direkam. Dengan demikian musik yang dihasilkan lebih baik dari kesesuaian irama dan temponya.

Dikatakannya, peserta juga diberi pengarahan tentang bagaimana membuat karya musik, baik komposisi ataupun aransemen/cover lagu. Bagaimana menyusun struktur lagu mulai dari intro, bait, reff, hingga ending. Struktur lagu ini juga akan baik apabila didukung dengan pemilihan instrumen yang tepat dan tekstur yang dibuat. Dengan pengolahan-pengolahan kreatif tersebut tentu akan membuat musik yang dihasilkan akan lebih baik dan menarik.

Pada DAW Bandlab tuturnya, peserta juga dilatih melakukan kolaborasi dengan sesama pengguna DAW Bandlab melalui fitur Collaborator. Dengan kolaborasi ini diharapkan peserta dapat melatih kerjasama dan dapat saling bertukar inspirasi dan ide-ide baru dalam berkarya. Fitur ini kolaborasi juga dapat dilakukan sekalipun antar kolaborator tidak berada pada tempat yang sama (kolaborasi jarak jauh). Sesama kolaborator dapat saling mengedit maupun menambahkan track rekaman.

Selanjutnya pada pertemuan terakhir Kamis 24 Juni 2021 pukul 10.00-12.00. diawali dengan kegiatan apresiasi seni berupa sesi menonton bersama dua contoh referensi video karya kreasi musik yang dibuat oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Musik menggunakan DAW. Peserta diberi wawasan mengenai bagaimana memanfaatkan teknologi digital musik untuk dapat berkarya secara virtual diera pandemi.

Pada sajian video tersebut ada yang menggunakan smartphone untuk memproduksi suatu karya musik, dan ada juga yang menggunakan PC/Laptop. Peserta diedukasi bahwa dengan memanfaatkan alat/device yang dimilikinya dapat tetap berkarya.

Pada sesi selanjutnya, peserta dipersilahkan melakukan presentasi hasil karya yang telah dibuat masing-masing. Pada awalnya para peserta nampak malu-malu dan saling melempar giliran, namun pada akhirnya ada yang memberanikan diri untuk mempresentasikan karyanya untuk pertama kali, yaitu siswa bernama Jauzaa Ramadhan.

Dia membuat karya musik pada DAW Bandlab bernuansa musik instrumental EDM (Electronic Dance Music) berdurasi 1 menit 26 detik. Ia membuat karya tersebut memanfaatkan loop-loop yang sudah disediakan pada fitur loop bandlab. Bandlab secara gratis menyediakan berbagai loop dari bermacam genre musik, dan tentunya juga bebas hak cipta.
Para pengguna DAW Bandlab dengan mudah dapat menyatukan berbagai loop tersebut sehingga menjadi kesatuan karya musik.

Peserta aktif yang berjumlah 29 orang, merupakan siswa-siswi dan guru SMAN 1 Jakarta yang belum pernah mengikuti pelatihan mencipta karya musik menggunakan DAW. Adapun DAW yang digunakan pada kegiatan P2M kali ini menggunakan DAW Bandlab yang dapat diakses diberbagai device, smartphone maupun laptop/PC dengan gratis.

Walau kegiatan dilaksanakan secara daring (terkait alasan kesehatan dan kebijakan pemerintah terkait PPKM) paparnya, para peserta sangat merespon positif dan antusias selama kegiatan berlangsung. Hal ini terlihat jelas ketika mereka gabung kedalam zoom meeting tepat waktu, keaktifan peserta dalam bertanya maupun mengutarakan sesuatu dan mengikuti materi yang disampaikan oleh pelatih dengan baik.

Dalam melakukan kegiatan P2M ini, terdapat beberapa hambatan yang ditemui, diantaranya, Kurang stabilnya sinyal internet peserta, sehingga sering kali beberapa siswa keluar dari zoom meeting dan bergabung kembali. Hal ini menyebabkan beberapa penjelasan terlewatkan. Tidak semua siswa pernah belajar DAW atupun instrumen musik secara khusus seperti les/kursus musik. Sehingga tidak terlalu mampu membedakan struktur melodi maupun harmoni yang terdapat pada karya musik.
Kurangnya referensi siswa tentang berbagai genre/gaya musik. Mengingat wawasan mengenai berbagai gaya musik dapat membantu dalam membuat karya musik.

Tidak adanya guru kelas yang memiliki kompetensi teknologi musik, khususnya memproduksi karya musik menggunakan DAW. Kurangnya sarana dan prasarana sekolah yang menunjang memproduksi karya musik secara digital (alat recording microphone, audio interface, speaker flat, ruangan studio berperedam dan sebagainya).

Kurangnya kepercayaan diri beberapa siswa dalam menyajikan musik. dalam hal ini pelatih berusaha memotivasi agar peserta dapat tampil lebih percaya diri. Pelatih berupaya meyakinkan siswa bahwa musik yang mereka cipta layak untuk diperdengarkan.

Adapun tanggapan dari para peserta terhadap kegiatan P2M ini, bahwa: terlaksananya kegiatan ini memberikan pengetahuan bagi para siswa bahwa dengan memanfaatkan perangkat yang mereka gunakan sehari-hari seperti smartphone, laptop/PC dapat digunakan untuk memproduksi karya musik.

Dengan kreasi ide melodi, harmoni maupun ritme yang sederhana bila diaplikasikan pada track DAW dapat dijadikan karya musik yang menarik. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan peserta dengan mudah memahami pentingnya mengembangkan kecakapan digital literasi khususnya dalam berkarya dibidang musik. (Warso)