Guru Dituntut Terus Berinovasi agar Tak “Terdepak” Teknologi

0

JAKARTA (Suara Karya): Guru di era digital dituntut untuk terus melakukan inovasi dalam pembelajaran, agar satu langkah lebih maju dibanding siswanya. Jika tidak, peran guru akan “terdepak” oleh teknologi.

“Guru tak boleh malas belajar teknologi informasi. Tak hanya menyangkut harga diri, tetapi paham teknologi akan membantu dalam pembelajaran,” kata Sekjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Didik Suhardi pada acara Pembekalan Kemampuan TIK untuk Guru Sekolah Garis Depan di Jakarta, Senin (1/10/2019).

Apalagi pekan lalu, lanjut Didik, Kemdikbud telah mencanangkan program digitalisasi sekolah di wilayah 3T (terluar, tertinggal dan terpencil). Dengan harapan, kualitas pendidikan di daerah pinggiran Indonesia sama majunya dengan wilayah perkotaan.

“Ada 1,7 juta komputer tablet dipinjamkan ke siswa, terutama kelas VI untuk mendukung program tersebut. Karena itu, belajar teknologi bagi guru merupakan keharusan. Tidak bisa ditunda-tunda lagi,” kata Didik.

Ia juga minta kepada kepala sekolah agar guru tidak mengajar kelas yang sama selama bertahun-tahun. Berada di zona nyaman dalam waktu lama, membuat seseorang malas untuk belajar.

“Cobalah kepala sekolah buat program untuk guru berpindah kelas mengajar setiap tahun. Sehingga mau tak mau guru terus belajar hal baru. Tahun ini pegang kelas 3, besok kelas 4, tahun berikutnya kelas 5. Berada di zona nyaman terus menerus, membuat orang menjadi tidak kreatif,” ucap Didik menegaskan.

Kepala Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekkom) Kemdikbud, Gogot Suharwoto menjelaskan, ada 124 guru daerah 3T yang dapat pembekalan TIK. Mereka berasal dari Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Timur, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Papua, Papua Barat dan Gorontalo.

“Pada 2019, Pustekkom Kemdikbud telah memberi sarana pembelajaran TIK sebanyak 1.800 sekolah. Sebagian sekolah penerima bantuan, sebelumnya juga menerima bantuan akses internet melalui program Universal Service Obligation milik BAKTI Kemkominfo,” ujarnya.

Ditambahkan, Pustekkom Kemdikbud menargetkan ada sekitar 13 ribu sekolah yang akan dibantu dalam program ini. Diharapkan, target tersebut bisa terpenuhi dalam 5 tahun kedepan.

“Selain memberi bantuan sarana pembelajaran TIK, Pustekkom memiliki platform pembelajaran bernama Rumah Belajar yang bisa dimanfaatkan oleh sekolah. Platform tersebut tidak dipungut biaya,” ujarnya.

Gogot menambahkan, platform Rumah Belajar tersedia dalam bentuk online maupun offline. Dengan demikian, Rumah Belajar juga bisa dipakai di sekolah yang belum memiliki fasilitas internet. “Kami harap guru mau belajar atas penggunaan Rumah Belajar agar hasilnya maksimal,” katanya. (Tri Wahyuni)