Guru Jangan Kaget, Peningkatan Kompetensi akan Gunakan Dana TPG

0

JAKARTA (Suara Karya): Upaya peningkatan kompetensi guru akan menggunakan dana dari tunjangan profesi guru (TPG). Karena selama ini, TPG justru dimanfaatkan untuk hal-hal diluar kompetensinya.

“Hampir sebagian besar dana TPG untuk gaya hidup. Sedikit sekali guru yang memanfaatkan TPG untuk pembelajaran dan pelatihan,” kata Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Supriano disela acara Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional, di Jakarta, Minggu (12/8).

Supriano mengatakan, pihaknya kini tengah membahas model pemungutan dana hingga besaran potongan TPG untuk kegiatan peningkatan kompetensi guru. Namun, kebijakan itu baru akan dilaksanakan setelah diskusi dengan organisasi profesi guru.

“Banyak cara bisa dilakukan. Tetapi kita bisa belajar dari pengalaman DKI Jakarta lewat e-Wallet. Atau contoh lain, seperti Kartu Indonesia Pintar. Kita ambil model yang sesuai,” tuturnya.

Supriano mengakui, masih terjadi ketimpangan kompetensi antara guru di kota dan di desa. Padahal, guru memainkan peran penting dalam proses pembelajaran.

“Berkualitas atau tidaknya pendidikan sangat tergantung gurunya. Untuk itu, pentingnya guru memiliki kompetensi yang tinggi,” katanya.

Bagi daerah dengan PAD (pendapatan asli daerah) tinggi, lanjut Supriano, upaya semacam itu adalah hal mudah. Tetapi di daerah dengan PAD rendah, perlu dicari jalan keluar agar guru memiliki kompetensi yang sama dengan guru perkotaan. “Semoga model penyisihan dana TPG bisa menjadi solusi,” ujarnya.

Ditambahkan, model pelatihan bagi guru selain dibuat untuk meningkatkan kompetensi keahlian, tetapi juga untuk membuka wawasan pada guru tentang pembelajaran yang menyenangkan. Sehingga anak berangkat ke sekolah dengan hati riang.

“Hal itu penting karena proses transfer pengetahuan yang dilakukan dengan cara menyenangkan lebih mudah masuk ke otak,” ujarnya.

Menurut Supriano, anak juga perlu diajarkan agar mampu berpikir kritis agar siap dalam menghadapi persaingan di abad 21. “Boleh diajak berpikir kritis, tetapi tetap harus rasional,” katanya.

Selain itu, anak juga perlu diajarkan kemampuan komunikasi. Jangan sampai, generasi muda Indonesia sangat fasih dalam teknologi namun gagap saat berkomunikasi langsung.

“Anak-anak pintar berkomunikasi lewat sosial media, tapi saat berhadapan langsung dengan orang menjadi gagap. Hidup tidak bisa mengandalkan teknologi semata, hubungan antar manusia sangat penting. Semua itu dimulai dari komunikasi,” katanya menegaskan. (Tri Wahyuni)