Guru Penggerak Harus jadi Ujung Tombak Perubahan di Sektor Pendidikan

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim kembali menekankan pentingnya guru penggerak sebagai ujung tombak perubahan di dunia pendidikan.

“Yang bisa melakukan pemajuan pendidikan bukanlah saya, tetapi para Guru Penggerak. Karena itu, dicari pemimpin yang berani mengutamakan siswa. Bukan demi kebaikan siswa, maka tidak ada yang salah,” kata Nadiem saat berdialog dengan calon Guru Penggerak di kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) NTB, Rabu (6/10/21).

Nadiem menegaskan, jika kita tidak bisa mengubah pola pikir para pemimpin di sekolah, maka sulit tercipta inovasi menuju perubahan dunia pendidikan yang lebih baik. Dibutuhkan keberanian dan ketahanan mental Guru Penggerak dalam melakukan perubahan.

“Guru Penggerak yang saya temui selalu punya semangat dan jiwa perjuangan yang luar biasa, itulah yang memotivasi kami,” ucapnya.

Mendikburistek juga menyoroti pentingnya sinergi antar pemangku kebijakan untuk menentukan keberhasilan lahirnya pemimpin di satuan pendidikan yang berasal dari Guru Penggerak.

“Jangan sampai program ini berhenti, meski saya tak lagi menjabat sebagai Menteri. Sebab, manfaat dari program ini akan dirasakan beberapa tahun ke depan,” ucapnya.

Nadiem meyakini, jika nantinya sekolah di Indonesia sudah memiliki 20 persen pemimpin pergerakan dari Guru Penggerak, maka hal itu adalah pondasi yang cukup kokoh untuk mengakselerasi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Gubernur NTB Zulkieflimansyah mengatakan Guru Penggerak adalah cerminan sosok pemimpin masa depan di satuan pendidikan. Keberadaan Guru Penggerak menjadi langkah awal bagi seluruh lapisan bersinergi menggerakkan perubahan di sektor pendidikan di seluruh Indonesia.

“Kepala sekolah berikutnya harus berasal dari Guru Penggerak,” kata Zulkieflimansyah optimistis.

Turut mendampingi Mendikbudristek, yakni Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Iwan Syahril.

Perwakilan pengajar praktik asal Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Ni Ketut Mayoni mengaku bersyukur dilibatkan dalam Guru Penggerak. Program tersebut memberi guru banyak keleluasaan mendidik siswa tanpa dibebani dengan administrasi yang menumpuk.

Hal senada dikemukakan pengajar praktik lainnya asal Desa Gili Gede, NTB, Putu Sudarma. Ia menemukan banyak hal baru dalam program tersebut sesuai kompetensi yang harus dimiliki. “Banyak ilmu yang saya temukan saat lokakarya, dimana keluaran utamanya adalah fokus kepada peningkatan kemampuan peserta didik,” ucapnya.

Sudarma berharap ke depannya, akses dan sarana pendidikan disediakan lebih memadai agar proses pembelajaran berlangsung lebih optimal. (Tri Wahyuni)