Guru Sibuk Drilling Soal, Budaya Meneliti di Sekolah Terabaikan

0
Foto: Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni

JAKARTA (Suara Karya): Disayangkan, budaya meneliti belum menjadi prioritas bagi sekolah di Indonesia. Padahal, kegiatan meneliti mendorong anak untuk berpikir kreatif, runtut, detail dan solutif (menyelesaikan masalah).

“Sekolah sekarang ini lebih banyak drilling soal, agar siswa dapat nilai bagus dan diterima di perguruan tinggi negeri. Sekolah jadi semacam bimbingan belajar,” kata Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Prof Riri Fitri Sari dalam jumpa pers, Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Jumpa pers itu terkait rencana Festival Sains dan Budaya (FSB) 2019 di Sekolah Kharisma Bangsa Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten pada 22-24 Februari mendatang. FSB 2019 adalah gabungan dua kegiatan yaitu Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia (OSeBI).

Dalam kesempatan itu, Prof Riri didampingi Presiden OSeBI, Liliana Mulianastuti, Kepala Sekolah Kharisma Bangsa, Imam Husnan Nugroho dan Dwi Prajitno Utomo dari Edukasi Universal.

Menurut Prof Riri, budaya meneliti perlu dibangun di sekolah bukan untuk membuat semua siswa menjadi peneliti saat dewasa. Tetapi kegiatan itu melatih anak melihat masalah sekaligus mencari solusinya.

“Hal itu membuat anak berpikir kreatif, logis, runtut dan detail. Ini bagus untuk membangun pola pikirnya. Anak menjadi tidak mudah putus asa, karena terlatih mencari solusi atas masalah yang ada,” tutur Prof Riri yang juga menjabat sebagai Presiden OSPI itu.

Kepala Sekolah SMA Kharisma Bangsa Imam Husnan Nugroho menjelaskan, FSB sangat dinantikan kalangan sekolah. Hal itu terlihat dari banyaknya peserta yang mendaftar dan mengirimkan proposal penelitiannya. Tahun lalu, OseBi diikuti sekitat 300 siswa, sementara OSPI mendapat 700 proposal penelitian.

“Peserta FSB datang dari berbagai wilayah di Tanah Air seperti Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Tapi sayangnya, tak ada wakil dari kota besar macam Jakarta dan Bandung,” kata Imam seraya menambahkan ISPO sudah dilaksanakan selama 11 tahun dan OSeBi selama 5 tahun.

Presiden OSeBI yang juga Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta, Liliana Muliastuti menuturkan, pendidikan seni budaya dan bahasa juga diperlukan sebagai bagian dari upaya pendidikan karakter. Sayangnya, guru seni sangat terbatas. Sehingga lomba seni tak banyak digelar.

“Padahal, seni dapat menyeimbangkan antara otak kiri dan otak kanan. Otak kanan mengarah pada kecerdasan verbal, seni dan olah raga. Sedangkan otak kiri lebih pada kecerdasan matematika,” ujarnya.

Selain lomba baca puisi, menyanyi, penelitian sains, pameran dan pertunjukan seni tari daerah, acara FSB juga diisi seminar pendidikan gratis bagi para guru yang mendampingi siswa berkompetisi. Dengan demikian, para pendamping juga dapat ilmu yang bermanfaat. (Tri Wahyuni)