Hamid Akui Beratnya Tantangan Pembelajaran Ditengah Covid-19

0
Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUD Dikdasmen), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad. (Suarakarya.co.id/ist)

JAKARTA (Suara Karya): Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUD Dikdasmen), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad mengungkapkan beratnya tantangan pembelajaran yang ditengah pandemi corona virus disease (covid-19).

“Baru 10 persen sekolah yang melakukan modifikasi pembelajaran antara tatap muka dan daring dengan platform e-learning tertentu. Selebihnya, masih terkendala sarana dan jaringan internet,” kata Hamid dalam acara diskusi bertajuk ‘Indonesia Menyapa’ di Studio RRI Pro 3 Jakarta, Minggu (3/5/20).

Diskusi itu bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2020.

Soal akses internet yang belum merata, menurut Hamid, hal itu merupakan kewenangan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Kebutuhan jaringan internet yang tinggi selama pandemi covid-19, Hamid berharap, tiap desa kini memiliki akses terhadap internet.

“Saat kebutuhan internet kian besar, sementara kapasitas terbatas, muncul persoalan baru yaitu kepadatan traffic pada layanan internet tersebut. Pembelajaran daring tidak berjalan lancar,” ucapnya.

Untuk mendukung kebijakan Belajar dari Rumah (BDR), lanjut Hamid, Kemendikbud bekerja sama beberapa provider untuk memberi paket kuota gratis kepada siswa. Nilai benefit yang diberikan beragam tergantung masing-masing provider.

“Kami berharapkan dinas pendidikan dan kepala sekolah bisa mencari solusi dalam pengadaan jaringan internet yang memadai bagi siswa,” kata Hamid.

Sementara itu, peneliti kebijakan publik, Rico Santoro mengungkap hikmah dari balik pandemi covid-19. Katanya, kreativitas biasanya muncul ketika ada masalah, untuk menjawab tantangan itu.

“Pendidikan adalah cara membangun optimisme. Hambatan dapat membuka peluang. Pemerintah harusnya terus kembangkan pendidikan daring di masa mendatang,” ucapnya.

Rico berharap pemerintah dapat menyisipkan materi yang unik sesuai karakteristik daerah masing-masing. Hal itu untuk menarik peserta didik menerima materi pembelajaran. “Jadi bukan sekadar belajar tatap muka pakai teknologi seperti saat ini, tetapi model satu pembelajaran daring yang unik dan menginspirasi,” ujarnya.

Hamid Muhammad menambahkan, masa pandemi covid-19 yang mana keluarga lebih banyak tinggal dirumah, seharusnya bisa dimanfaatkan juga oleh keluarga untuk menanamkan pendidikan karakter pada anak.Tidak hanya belajar secara akademis.

Anak dengan pendampingan orangtua di rumah dapat melakukan beragam aktivitas, mengerjakan tugas dari guru, membaca buku dan bermain peran, membuat keterampilan tangan, bermain musik, belajar mengaji dan aneka kegiatan positif lainnya.

Selain itu, lanjut Hamid, anak dilatih kecakapan hidup seperti memasak, mencuci baju, membersihkan rumah atau berkebun. Hal itu bisa mengurangi tekanan dan kejenuhan anak di rumah

“Perpaduan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan budi pekerti diyakini mampu menjadi pondasi dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul Indonesia,” kata Hamid menandaskan.

Hal itu dibenarkan Rico Santoro. Karena amanat pendidikan tak hanya belajar secara teori tetapi juga praktik dengan pelibatan seluruh aspek kehidupan. Karena mencetak manusia unggul bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga.

Selama ini banyak keluarga yang tidak siap menjadi ‘guru’ bagi anak-anaknya. Mereka menyerahkan urusan pendidikan ke sekolah. “Saat pendidikan diserahkan ke orangtua akibat covid-19, orangtua langsung gagap dan kebingungan. Kondisi saat ini bisa jadi momen bahwa pendidikan itu urusan bersama. Bukan hanya sekolah,” ucap Rico. ***