JELANG RAMADHAN & LEBARAN
Harga Ayam dan Telur Merangkak Naik, TPID Jakarta Pantau Pasar Tradisional

0

JAKARTA (Suara Karya): Menjelang bulan suci Ramadhan, sejumlah komoditas pangan di pasar tradisional DKI Jakarta terpantau mulai mengalami kenaikan harga. Untuk tetap menjaga stabilisasi harga dan kenaikan inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta, kini mulai gencar melakukan peninjauan di sejumlah pasar-pasar tradisional.

Di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur kenaikan harga terlihat pada ayam broiler yang dibanderol Rp 43.000 per ekor dari yang sebelumnya Rp 40.000. Telur ayam ras juga mengalami kenaikan Rp 2.000 per kilogram (Kg) menjadi Rp 25.000/Kg. Bawang putih juga mengalami kenaikan menjadi Rp 40.000/Kg dari yang sebelumnya Rp 35.000/Kg.

Ada juga komoditas lain yang harganya masih stabil, seperti cabai merah kriting Rp 55.000/Kg, dan beras premium Rp 10.000/liter.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Onny Widjanarko mengatakan berdasarkan peninjauan di Pasar Tradisional Kramat Jati, Jakarta Timur, ketersediaan pasokan bahan pangan menjelang bulan suci Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri 2022 aman. Onny berharap dengan adanya kolaborasi dengan pihak terkait, inflasi dan kebutuhan masyarakat Jakarta dapat terpenuhi.

“Kita juga melihat pasokannya cukup mudah-mudahan permintaannya semua dapat terpenuhi meskipun ada kenaikan harga itu musiman ya, biasanya jelang puasa dan idul fitri harga naik. Mudah-mudahan dengan kolaborasi seperti ini terus bisa menjaga inflasi Jakarta dan kebutuhan sehari-hari masyarakat akan terpenuhi,” kata Onny usai meninjau Pasar Kramat Jati, Rabu (30/3/2022).

Pada kesempatan yang sama, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Adang Kurnia Saputra menyatakan, keberhasilan pengendalian inflasi daerah di bulan Ramadhan akan menjadi kunci keberhasilan pengendalian inflasi Jakarta. Menurutnya, hingga Februari 2022 angka inflasi Jakarta masih terkendali, yakni 1,62 persen.

“Kita tunggu nanti tanggal 1 April untuk rilis bulan maret, apakah ada kenaikan atau tidak untuk inflasi. 1,62 persen itu memang lebih rendah daripada inflasi secara nasional. Jadi pada intinya kunci keberhasilan Provinsi DKI Jakarta berkolaborasi dengan instansi terkait, adalah dalam keberhasilan menyediakan suplai yang cukup. Beras, minyak goreng, terigu, gula, dan daging juga dalam kondisi yang aman,” ujarnya.

Asisten Perekonomian dan Keuangan Setda Provinsi DKI Jakarta, Sri Haryati menegaskan, untuk menekan tingginya harga pangan di Jakarta, pihaknya akan terus fokus melakukan subsidi pangan. Dimana program subsidi pangan ini bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat dan meningkatkan gizi warga Jakarta untuk golongan tertentu.

“Langkah yang dilakukan TPID untuk menjaga inflasi daerah adalah fokus dalam program subsidi pangan. Kenapa ini menjadi sangat efektif ? Karena saat berbicara program subsidi pangan, penerimanya itu betul-betul masyarakat yang sudah dilakukan penyeleksian data golongan tertentu. Anggaran dari Pemprov DKI juga cukup besar, hampir 1 Trilliun yang digelontorkan untuk subsidi pangan setiap tahunnya,” katanya.