Harga Cengkih Rp100 Ribu Bisa Sejahterakan Petani

0
Ilustrasi: Cengkih siap di pasarkan. (Suarakarya.co.id/Istimewa)

MANADO (Suara Karya): Petani Sulawesi Utara(Sulut) berharap harga komoditas cengkih menguat di atas Rp100 ribu per kilogram jelang perayaan hari besar keagamaan.

“Berharap harga cengkih dapat menyentuh di atas Rp100.000 per kg, sehingga petani cengkih bisa sejahtera,” kata Dance Assa petani cengkih Minahasa di Manado, Selasa (13/11/2018).

Dia mengatakan, harga cengkih saat ini belum menggembirakan petani. Sebab dengan harga dibawah Rp100.000 per kg dinilai kurang menguntungkan.

Apalagi menjelang Desember para petani akan mengalokasikan dana untuk belanja.

Sekarang sudah akhir tahun. Tidak lama lagi perayaan Natal, banyak petani mau jual cengkih untuk belanja,? jelasnya.

Kenaikan harga cengkih tersebut sangat diharapkan, sebab dia memperkirakan harga kebutuhan pokok dan kebutuhan rumah tangga di Desember akan naik. Jika harga cengkih tidak naik maka pengeluaran petani akan meningkat.

Yan Karinda petani cengkih yang sama mengatakan, petani di desa biasanya menjual cengkih di Kota Manado. Hanya saja saat ini harga cengkih tidak sebaik yang diharapkan.

Selain itu, pihaknya juga bingung sebab harga pembelian pedagang di tingkat desa dan kecamatan jauh lebih rendah dibandingkan di Kota Manado. ? ? ?Kalau di jual di Manado harganya masih bisa Rp90 ribuan, tapi kalau di desa atau kecamatan hanya Rp85.000 per kg. Kalau masih Rp87.000 sampai Rp88.000 per kg, jelasnya.

Harga cengkih ini mengalami penurunan sebesar Rp9.000 kg menjadi Rp95.000 per kg dari sebelumnya Rp104.000 per kg.

Dari penurunan ini, petani berharap Pemerintah Sulut didorong dapat bertindak agar harga cengkih tidak terus anjlok seperti kopra.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Hanny Wajong mengatakan, harga salah satu komoditas andalan Sulut dalam beberapa pekan terakhir memang mengalami penurunan, cengkih salah satunya.

“Pada Sesi perdagangan pekan sebelumnya, harga cengkih yang dibeli pedagang di kota Manado masih bertahan di atas Rp100.000 per kg. Sekarang turun sekira 8,6 persen jadi tinggal Rp95.000 per kg,” jelas Wajong.

Menurut dia, penurunan harga tersebut terjadi karena ada dinamika ekonomi, dimana permintaan dan penawaran tidak seimbang. Di sini pemerintah daerah tidak bisa melakukan intervensi, seperti halnya yang dilakukan pada bahan pokok strategis.

Karena itu, dia menyarankan agar harga cengkih tidak terus tergerus, maka meminta petani untuk tidak langsung menjual hasil panennya tetapi menahan stok dulu.

Wakil Ketua Asosiasi Petani Cengkih Indonesia (APCI) Sulut Adrian Sembel mengatakan, pemerintah daerah mesti campur tangan atas penurunan salah satu komoditi andalan Sulut, agar harganya tidak terus anjlok.

“Pemerintah daerah bantulah petani di Sulut, lakukan lobby ke pemerintah pusat untuk menaikkan harga cengkih,” jelasnya.

Sebab kata dia, meskipun tidak semua warga Sulut memiliki kebun cengkih, namun emas coklat ini dinilainya mampu memberikan kontribusi sekira 60 persen dari perputaran ekonomi daerah. (Flora Kairupan)