Harga Minyak Mentah Sentuh Titik Tertinggi

0
Ilustrasi

JAKARTA (Suara Karya): Harga minyak mentah naik lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), dengan Brent mencapai tertinggi dalam tujuh minggu dan minyak mentah AS menyentuh tertinggi tiga minggu.

Kedua kontrak minyak mentah meningkat setelah stok minyak mentah dan bensin AS berkurang, serta ekspor minyak mentah Iran turun karena sanksi-sanksi AS menghalangi para pembeli.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober bertambah 1,19 dolar AS atau 1,6 persen, menjadi menetap pada 77,14 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Patokan global sempat menyentuh 77,41 dolar AS, tertinggi sejak 11 Juli.

Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, naik 98 sen AS atau 1,4 persen, menjadi ditutup di 69,51 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, setelah menyentuh 69,75 dolar AS, tertinggi sejak 7 Agustus.

Persediaan minyak mentah AS turun 2,6 juta barel pekan lalu, Badan Informasi Energi (EIA) mengatakan, melebihi perkiraan penarikan 686.000 barel oleh para analis yang disurvei oleh Reuters.

“Minyak mentah mendapat dukungan tambahan hari ini dari penurunan persediaan di seluruh papan,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates. Menurunnya ekspor Iran dan berkurangnya ekspor dari Venezuela karena kerusakan terminal, juga memberikan dukungan terhadap harga, katanya.

Diskon minyak mentah AS untuk Brent mundur sedikit dari tertinggi dalam lebih dari 10 minggu pada Selasa (28/8).

Harga minyak didukung oleh indikasi bahwa ekspor minyak mentah Iran jatuh lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya, kata para analis.

Ekspor minyak mentah dan kondensat Iran pada Agustus diperkirakan turun di bawah 70 juta barel untuk pertama kalinya sejak April 2017, data awal arus perdagangan pada Thomson Reuters Eikon menunjukkan.

Banyak pembeli minyak mentah telah mengurangi pesanan dari Iran, produsen terbesar ketiga OPEC, menjelang tanggal dimulainya sanksi-sanksi AS pada 4 November.

Organisasi pemasaran minyak Irak, State Oil Marketing Organisation (SOMO) pada Rabu (29/8) mengatakan bahwa sanksi-sanksi akan mendorong kekurangan minyak mentah, dan OPEC akan membahas kompensasi untuk penurunan pasokan.

Di Venezuela, di mana produksi telah berkurang separuhnya sejak 2016, perusahaan minyak milik negara PDVSA mengatakan pada Selasa (28/8) bahwa mereka telah menandatangani perjanjian investasi senilai 430 juta dolar AS untuk meningkatkan produksi sebesar 640.000 barel per hari, meskipun beberapa analis meragukan apakah investasi ini akan bisa melewati ketidakstabilan yang sedang berlangsung.

Sementara itu, rencana ekspor awal untuk sesama anggota OPEC Angola menunjukkan bahwa pengirimannya telah turun ke level terendah sejak Desember 2006, karena kurangnya investasi di infrastruktur yang menua sehingga membatasi produksi.

Meskipun ada risiko gangguan dari produsen-prpdusen OPEC tersebut, Bank of America Merrill Lynch mengatakan pasokan global bisa naik menjelang akhir tahun, sebagian karena peningkatan produksi non-OPEC dari Kanada, Amerika Serikat dan Brasil.

Perusahaan minyak Norwegia, Equinor, mengatakan bahwa pihaknya berencana mengembangkan ladang minyak baru di Brasil dan meningkatkan produksi dari 90.000 barel setara minyak per hari menjadi antara 300.000 hingga 500.000 barel per hari pada 2030. (M Chandra)