Hari Ketiga Pelayaran, Laskar Rempah Diajarkan Cara Bertahan di Laut!

0

JAKARTA (Suara Karya): Program Muhibah Jalur Rempah pada Jumat (3/6/22) memasuki hari ketiga pelayaran. Peserta Laskar Rempah diajarkan bagaimana bertahan di laut, pengenalan peta, navigasi dan penyelamatan kapal.

Hal itu dikemukakan Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) Restu Gunawan yang ikut mendampingi Laskar Rempah di atas kapal.

Katanya, sebelum mengenal teknologi navigasi, pedoman berlayar bagi pelaut Nusantara adalah tanda-tanda alam. Salah satunya yang digunakan pelaut Bugis. Panduan itu tertulis dalam naskah-naskah kuno yang ditulis aksara lontaraq.

Naskah kuno itu hingga kini menjadi sumber informasi sosial budaya. Naskah memuat beragam peristiwa dan tokoh sejarah, selain pembahasan soal kemajuan masyarakat.

“Naskah itu merupakan penggambaran untuk melihat situasi dan kondisi yang terjadi di era sekarang, dengan memahami kronologi yang terjadi di masa lampau,” ujar Restu.

Salah satu naskah kuno tentang pengetahuan tradisional masyarakat Bugis yang berhubungan dengan pelayaran adalah naskah “Lontaraq Atoreng Toriolo‟. Salah satu isi dari naskah itu adalah hukum laut Amanna Gappa, catatan tentang navigasi, dan pengetahuan tentang meteorologi dan tanda-tanda alam.

Terkait materi navigasi, Komandan KRI Dewaruci, Mayor Laut (P) Sugeng Hariyanto menjelaskan sebagai personel yang ‘on board’, para Laskar Rempah harus tahu paling tidak posisi kapal. “Kemudian kapal akan kemana,” ujarnya.

Di masa lampau, lanjut Mayor Sugeng, pelaut bernavigasi menggunakan alat-alat yang konvensional, misalnya tanda-tanda di darat untuk menentukan posisi. Para pelaut mengandalkan posisi gunung, daratan, tanjung, serta suar sehingga muncul koordinat posisi. Data itu lalu dimasukkan ke dalam peta.

Ditambahkan, navigasi kini sudah lebih modern menggunakan sistem satelit, tanpa harus menggunakan tanda-tanda seperti tadi karena sudah terbaca oleh satelit.

“Kita harus tahu ilmu-ilmu dasar navigasi, jika tiba-tiba alat modern tidak berfungsi.
Karena itu, di laut ada istilah navigasi datar dan navigasi astronomi,” ujarnya.

Untuk Laskar Rempah, menurut Komandan KRI Dewaruci, tidak ajarkan navigasi astronomi karena terbilang rumit. Tetapi mereka diperkenalkan tentang bintang-bintang di langit yang saat ada di tengah lalu, bisa digunakan untuk menentukan posisi. (Tri Wahyuni)