Hasto Tanggapi Curhat SBY ke Marzuki Alie soal Megawati “Kecolongan Dua Kali”

0

JAKARTA (Suara Karya) : Sekretaris Jenderal (sekjen) PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menanggapi pernyataan mantan Sekjen Partai Demokrat (PD) Marzuki Alie. Hal itu terkait pengakuan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Marzuki yang menyebut Megawati Soekarnoputri “kecolongan dua kali”.

Hasto mengaku langsung mengingat semboyan bahasa Sansekerta “Satyameva Jayate”. Semboyan itu bermakna hanya kebenaran yang berjaya.

“Kebijaksanaan ini mungkin sama dengan kebijaksanaan masyarakat Indonesia yang selalu percaya kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan pernyataan seperti ‘Tangan Tuhan Bekerja’, bahkan lewat cara yang kadang tak disangka manusia itu sendiri,” kata Hasto dalam keterangannya.

Menurut Hasto, perasaan itu pula yang mungkin kini dirasakan masyarakat Indonesia, ketika Marzuki menyampaikan kisah pengakuan SBY. “Kecolongan dua kali” yang dimaksud SBY, tentunya berkaitan dengan kejadian pada 2004.

Saat itu, SBY berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) maju dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (pilpres) melawan Megawati. Narasi publik saat itu seolah-olah SBY dizalimi Megawati. Faktanya, kini terbongkar oleh Marzuki, bahwa yang menzalimi justru SBY. Dikatakan, SBY juga pada akhirnya menjadi korban.

“Dalam politik kami diajarkan moralitas politik yaitu satunya kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan Marzuki Alie tersebut menjadi bukti bagaimana hukum moralitas sederhana dalam politik itu tidak terpenuhi dalam sosok Pak SBY,” kata Hasto.

Mengapa demikian? Menurut Hasto, kini terbukti bahwa sejak awal SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri, termasuk istilah “kecolongan dua kali”.

“Itulah cerminan moralitas SBY yang sebenarnya. Jadi kini rakyat bisa menilai bahwa apa yang dulu dituduhkan Pak SBY telah dizalimi Bu Mega, ternyata kebenaran sejarah membuktikan bahwa Pak SBY menzalimi dirinya sendiri demi politik pencitraan,” kata Hasto.

Kejadian ini, lanjut Hasto, membuat dirinya teringat sebuah kisah yang disampaikan oleh almarhum Cornelis Lay. Sebelum SBY ditetapkan sebagai Menko Polhukam di Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Megawati, ada elite politik mempertanyakan Megawati.

Hal ini menyangkut keterkaitan SBY sebagai menantu Sarwo Edhie dalam peristiwa 1965. Selain itu, keterkaitan SBY dengan serangan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996. Namun, Megawati justru menjawab pemilihan atas SBY mengedepankan rekonsiliasi nasional dan semangat persatuan.

“Saat itu, Ibu Megawati lalu mengatakan, ‘saya mengangkat Pak SBY sebagai Menko Polhukam bukan karena menantu Pak Sarwo Edhie. Saya mengangkat dia karena dia adalah TNI, Tentara Nasional Indonesia. Ada ‘Indonesia’ dalam TNI, sehingga saya tidak melihat dia menantu siapa. Kapan bangsa Indonesia ini maju kalau hanya melihat masa lalu? Mari kita melihat ke depan. Karena itulah menghujat Pak Harto pun saya larang. Saya tidak ingin bangsa Indonesia punya sejarah kelam, memuja Presiden ketika berkuasa, dan menghujatnya ketika tidak berkuasa’, begitu kata Ibu Megawati penuh sikap kenegarawanan sebagaimana disampaikan Prof Cornelis kepada saya,” kata Hasto.

Dengan demikian, Hasto mengatakan bagi PDIP, pernyataan Marzuki bagian dari dialektika kebenaran sejarah.

“Dengan pernyataan Pak Marzuki itu, saya juga menjadi paham, mengapa Blok Cepu yang merupakan wilayah kerja Pertamina, pascapilpres 2004, lalu diberikan kepada Exxon Mobil. Nah kalau terhadap hal ini, rakyat dan bangsa Indonesia yang kecolongan,” ucap Hasto.

Sekadar diketahui, Marzuki Alie bercerita di acara Youtube ‘Akbar Faizal Uncensored’. Marzuki menguak kisah lama antara SBY dan Megawati. Menurut Marzuki, SBY mengaku telah membuat Megawati dua kali terkecoh. Pernyataan itu disampaikan SBY kepada Marzuki dan disaksikan Hadi Utomo di Hotel Sheraton Bandara Soekarno-Hatta pada 2004. (Warso)